
Nathan berjalan kembali ke apartemennya pada pukul setengah satu pagi. Dia lelah dan energinya sudah benar-benar terkuras dan dia tidak menginginkan apa pun lagi selain menghabiskan malam dengan tidur di tempat tidurnya.
Nathan telah meninggalkan kartu memory itu dengan atasanya dan telah memberi tahu bosnya itu bahwa dia akan kembali keesokan paginya untuk mulai mencari tau siapa yang melakukan semua hal membingungkan ini padanya.
"Nathan... terima kasih Tuhan... akhirnya kau kembali..." Jessica berseru.
Nathan baru saja menutup pintu saat Jessica dengan tiba-tiba menghamburkan dirinya ke dalam pelukannya. Nathan ragu-ragu mengangkat tangannya dan meletakkannya di pinggang gadis itu saat dia merasakan kalau tubuh gadis itu gemetar.
"Ada apa, Jessica?" Tanya Nathan padanya dengan raut bingung. "Apa yang telah terjadi?"
"Macbook-ku, Nathan!" kata Jessica.
Jessica lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Nathan. "Sepertinya seseorang telah meretasnya, Nathan. Orang itu, entah siapa... dia telah mengirimi aku beberapa kalimat. Dia tahu begitu banyak hal... yah... mulai dari kebiasaanku dahulu... maksudku, seperti kebiasaan minumku ketika aku merasa stres. Tapi bagaimana dia bisa mengetahui itu? Nathan, aku tidak mengerti."
"Sst, sytt, sytt," Nathan mencoba untuk menenangkan gadis itu. "Semuanya baik-baik saja, Jessica. Jangan khawatir. Sekarang coba kau tunjukkan Macbook itu padaku."
Jessica mengangguk, ia menggengam tangannya dan membawa Nathan ke sofa. Jessica mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya dia duduk dan langsung menyerahkan Macbook itu padanya.
Nathan mengangkat tutupnya untuk memperlihatkan screensaver-nya. Tapi tidak ada apa-apa di sana.
__ADS_1
Jessica menatap kaget saat melihat layar kosong di hadapannya
"Apa?" sentak Jessica. "Bagaimana bisa sudah tidak ada di sana... sebelumnya... aku... Nathan... Aku tidak berbohong padamu..."
"Aku tahu kalau kau tidak berbohong, Jessie" Nathan berujar padanya. "Aku percaya pada dirimu, Jessica. Bisa kau lakukan yang terbaik untuk mengingat apa yang orang itu katakan padamu?"
"Aku tidak bisa," kata Jessica, ia menundukkan kepalanya, mengacak-acak rambutnya dengan tangan. "Tidak banyak yang bisa aku ingat, katanya aku sedang sendirian... dia tiba-tiba saja menyalakan webcam di Macbook-ku. Dan dia... dia juga mengatakan sesuatu tentang bagaimana dia tidak menginginkanku... tapi mungkin membutuhkan diriku... aku tidak tahu apa maksudnya..."
"Baiklah," jawab Nathan mencoba tenang. "Tidak ada gunanya menjadi histeris, Jessica. Kau harus tenang, oke? Bersikap seperti ini jelas tidak akan membantu dirimu."
"Memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan?" ujar Jessica kesal sendiri, "Aku hanya merasa muak karena sejak tadi terus memikirkan hal ini, Nathan."
Jessica mengangguk setelah beberapa saat. Dia melakukan sebisanya untuk tidak terdengar terlalu khawatir tentang hal ini. Saat ini, Nathan tampak sangat tenang baginya. Meskipun dia melakukan yang terbaik untuk menjadi seperti Nathan, bersikap tenang. Tapi itu sulit. Suatu saat dia merasa begitu stres dan saat berikutnya dia justru merasa sangat tenang. Jangkauan emosi yang terasa begitu aneh bagi Jessica.
"Kau bisa tidur di dalam kamarku malam ini, Jessica," kata Nathan padanya. "Yah ... maksudku pagi ini ..."
"Tidak, kau pastinya lebih membutuhkan tempat tidurmu. Aku akan baik-baik saja. Aku rasa aku bereaksi agak berlebihan... mungkin sedikit gila setelah kejadian hari ini..."
"Tidak, kau tidak seperti itu," jawab Nathan dengan nada yang lembut. "Ayo. Kau harus segera tidur dan menenangkan dirimu."
__ADS_1
Nathan berdiri dan mengulurkan tangannya pada Jessica. Jessica meraih uluran tangan itu dan berdiri di hadapan Nathan. Jessica menunduk, melihat ke bawah menahan rasa khawatir, namun di detik selanjutnya Nathan meletakkan jarinya di bawah dagu gadis itu untuk mengarahkan pandangan Jessica kepadanya sekali lagi.
"Apakah kau sudah menelepon ayahmu?" Nathan bertanya.
"Ya, tapi dia tidak menjawab," bisik Jessica. "Mungkin dia sedang dengan gadis yang lain, kurasa."
Nathan terkekeh, ia lalu mengambil waktu sejenak untuk tersenyum pada gadis itu. Jessica tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik saat kemudian Nathan membawanya ke kamar tidurnya.
Ruangan itu begitu rapi, dengan hampir tidak ada banyak perabotan untuk itu. Hanya ada satu nakas, satu tempat tidur dan satu lemari pakaian.Sementara tempat tidurnya masih belum dirapikan dari bekas tidur di malam sebelumnya.
Nathan menyalakan lampu di samping tempat tidur dan mengambil pakaiannya yang kotor dari ujung tempat tidur dan memindahkannya ke dalam keranjang.
"Jangan pergi, Nathan!"
Nathan sedang melangkahkan kakinya untuk meletakkan keranjang pakaian kotor ke dalam kamar mandi saat ia mendengar Jessica berbicara padanya.
Nathan berbalik untuk melihat pada Jessica yang saat ini tengah memeluk lengannya sendiri dan menatap tepat kepadanya. Apa maksudnya untuk jangan pergi?
'Apakah Jessica sedang berpikir untuk...'
__ADS_1