
"Jangan sentuh dia!" Jessica membentak begitu dia melihat John membungkuk untuk menyeka rambut ibunya dari wajahnya. Jesaica berjuang memberontak dari ikatan tali saat melihat John melakukan itu.
Pria itu berlutut di sisi mayat ibunya dan Jessica tidak bisa memahami apa yang baru saja terjadi. Tapi semakin dia melihat keadaan yang ada, semakin dia mengerti. John, dia telah membunuh ibunya. Dia telah membunuh ibunya dengan begitu mudahnya sehingga membuat Jessica merasa begitu jijik padanya. Dia melihat ke bawah ke tubuh ibunya dan memikirkan kembali apa yang sudah terjadi pada ibunya itu.
Sebelumnya, Katherine telah berhasil mengendurkan tali di pergelangan tangannya saat John sedang berada di lantai atas. Katherine telah bergegas menuju ke tempat putrinya di ikat, membantu gadis itu terbebas dari ikatannya sebelum kemudian meraih tangannya.
Ibunya mengusap pipi Jessica, mengatakan betapa menyesalnya dia, mengatakan betapa ibunya begitu mencintainya dan sangat menyesal dalam hidupnya karena memilih lelaki yang salah. John adalah penjahat sebenarnya. Tak tahan melihat ibunya yang terus menyalahkan diri sendiri, Jessica meminta ibunya agar tenang dan membawanya untuk menaiki tangga keluar dari ruang bawah tanah itu.
Ibunya mengangguk meraih tangan Jessica dan ikut bergerak menaiki tangga. Namun saat itulah pintu terbuka. Pintu tersembunyi yang ada di dekat lemari bawah tangga. Cahaya redup memperlihatkan wajah John yang langsung menghalangi langkah mereka. Katherine kemudian bergerak ke depan putrinya, mencoba melindungi Jessica dan mundur ke sudut ruangan.
Dialah yang melawan John, melakukan yang terbaik sebisanya untuk mengalihkan perhatian John agar Jessica bisa kabur. Tapi ternyata John lebih kuat dan lebih cepat dari mereka berdua. Suara retak dinding membuat langkah Jessica menghentikan langkahnya. Dia menoleh dan melihat tubuh ibunya merosot ke dinding, darah menetes dari kepala bagian belakangnya. John ternyata baru saja menghantamkan kepala ibunya ke tembok dengan kekuatan penuh hingga membunuh ibunya.
John telah pindah kemudian, meraih Jessica yang saat itu tengah membatu. John lalu menyeretnya kembali ke tempat duduknya. Dan di sinilah Jessica sekarang menatap mayat ibunya dengan perasaan campur aduk.
John menatap Jessica dengan santai kemudian menatap ke ibunya.
"Ibumu mencoba untuk menentang diriku, Jessica," John memperingatkannya. "Ya, sebelumnya aku sudah mengatakan kepadanya untuk menjadi wanita baik, tidak perlu melawan. Aku tidak pernah bermaksud membunuhnya. Percayalah, aku memang tidak benar-benar mencintainya, tapi... dia punya sedikit kegunaan..."
"Tidak," bentak Jessica. "Jauhi saja dia. Tinggalkan dia sendiri."
"Dia sudah mati, Jessica," jawab John tertawa kecil. "Dia bahkan tidak penting lagi."
__ADS_1
John berdiri tegak dan melihat kembali ke arah gadis berusia puluh tahun itu dengan tangan yang memegang pinggang. Senyum kecil kembali keluar dari bibirnya bersama dengan helaan napas.
"Mari kita berharap bahwa kekasihmu tercintamu itu menyampaikan pesan kepada Robert. Kau tau, sejak tadi dia terus berusaha untuk melacak diriku. Sangat lucu untuk ditonton." ujar John menggelengkan kepalanya.
Jessica mencoba mengusir Nathan dari benaknya setelah dia mendengar penyebutan nama itu. Dia perlu fokus dan tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika dia tidak pernah melihat Nathan lagi.
"Ini semua adalah bagian dari rencanamu sejak lama, bukan?" Jessica berujar pada John. "Kau... kau tidak pernah mencintai ibuku ... kau ... kau hanya menginginkan kuncinya. Kau tau kalau ibuku adalah mantan istri dari ayahku, itu sebabnya kau mendekati ibuku selama ini."
"Kau tau? Kau ini sangatlah cerdas. Ya, kau benar aku memang mendekati ibumu demi semua itu. Dan memantnya cara apa yang lebih baik untuk mendapatkannya selain dengan menculik putri dari Robert Anderson," kata John.
"Dan aku akui, Jessica, kau memang datang tanpa perlawanan apapun. Ya itu agak mengecewakan untukku padahal aku mengharapkan sedikit lebih perlawanan dari dirimu. Padahal aku yakin kalau organisasi itu pasti akan merencanakan penyadapan selama kita merencanakan pertukaran itu. Aku ingin menghentikannya. Tapi ternyata kau memang datang sendiri."
"Kenapa?" Jessica bertanya.
Pria itu kemudian berjongkok di depannya. Dia meletakkan tangannya di paha gadis itu. Ia menatap celana ketat milik Jessica sebelum kemudian dia dengan perlahan-lahan merobeknya hingga ke pahanya.
Jessica sontak memberontak dan berusaha sebisanya untuk tidak membiarkan isak tangis keluar dari mulutnya saat John melakukan itu. Dia tidak tahu apa yang akan John lakukan saat ini, tetapi dia tahu itu tidak akan menyenangkan untuknya
John dengan perlahan membuka perban yang telah melilit kaki Jessica yang terluka. Jessica merintih kesakitan saat merasakan jemari John yang dingin menyentuh luka di kulitnya yang masih memerah itu. John akhirnya melempar perban itu dengan asal ke lantai dan mengusap kulit Jessica. Dia tidak bisa begitu merasakan sakit di luka itu karena Jessica tidak memiliki saraf di bagian yang terbakar, tetapi hanya memikirkan John menyentuhnya, itu sudah membuatnya merasa begitu mual.
"Ini mengerikan, bukan?" John berbisik pada telinganya "Merasakan perasaan begitu lemah dan tak berdaya. Begitukah rasanya saat melihat kakimu? Ya, mengetahui ayahmu melakukan hal itu padamu...dia..."
__ADS_1
"Dia tidak melakukan ini padaku," jawab Jessica tajam. "Dimitri yan melakukan ini padaku. Dialah yang membawaku ke Thailand. Aku yakin kau tahu segala tentang itu."
"Aku tahu," John berujar padanya sambil menggedikkan bahunya santai. "Aku tahu itu bukan hal yang kebetulan. Tapi ayahmu-lah yang sudah menempatkanmu di posisi itu, benar kan?"
"Apa yang sedang coba kau lakukan?" Jessica bertanya tajam, menatap John sinis. "Apakah kau ingin membuatku melawan ayahku? Memprovokasi diriku? Itu tidak akan berhasil. Aku tahu siapa dia dan aku tahu apa yang dia lakukan. Dan ayahku... dia akan membunuhmu untuk masalah ini. Kau tahu itu, bukan? Kau tahu dia akan menang dan juga... dia tak akan biarkan kau lolos dari ini."
Tawa mengerikan muncul dari mulut John saat dia menggerakkan tangannya ke pipi Jessica dan mengusapkan ibu jarinya di atas memar yang ada di wajah Jessica. Dan perbuatan John itu membuat Jessica memundurkan wajahnya, ia melakukan sebisanya untuk menjauh dari sentuhannya, meskipun gagal total. John tetap menyentuhnya.
"Dia tidak akan bisa melakukannya," John berujar pada Jessica dengan ekspresi dingin. "Dia Robert Anderson, aku tahu itu...tapi...kau... kau adalah putrinya. Kau satu-satunya keluarganya dan dia... dia sekarang adalah satu-satunya keluargamu. Ohh... betapa menyedihkannya dirimu saat ini."
John kemudian melanjutkan. "Dan kau tau apa? Ayahmu... dia tidak akan berani melawanku dan mengambil resiko untuk kehilangan dirimu, Jessica. Apalagi ketika Nathan nanti memberitahu dirinya betapa hancurnya dirimu di video tadi. Nathan juga pasti akan memberitahu ayahmu kalau ibumu sudah mati. Dan itu akan membuat ayahmu berpikir kalau aku... aku tidak akan segan-segan untuk membunuh dirimu jika dia berani macam-macam denganku."
"Apakah kau pikir aku tidak akan bisa menangani hal ini? Apakah kau pikir aku akan menyerah begitu saja padamu? Apa kau berpikir kalau aku akan membiarkan ayahku menyerah?"
"Wah... aku bisa melihat begitu besar rasa percayamu pada Robert, kau benar-benar mempercayainya rupanya," John memutar matanya sebelum kemudian merogoh sakunya.
John lalu mengeluarkan pisau lipat dari dalam sakunya itu dan Jessica sontak menelan ludahnya kasar. Dia tidak akan menunjukkan betapa takutnya dia saat ini. Dia tidak bisa. Dia tidak akan membiarkan John melihatnya dalam ketakutan. Dan satu hal yang dia ingin saat ini, yaitu melarikan diri dari ruang bawah tanah ini
"Haruskah kita menguji seberapa besar rasa kepercayaanmu itu, Jessica?" John bertanya-tanya saat ujung pisau yang mengkilat itu terkena cahaya lampu
Jessica memilih untuk tetap diam dan memejamkan kedua matanya, menunggu rasa sakit itu datang saat mengenai kulitnya.
__ADS_1
***