
Dan setelah beberapa saat menunggu, Nathan akhirnya kembali masuk ke dalam ruangan itu. Dia sempat melihat selimut di sofa depan tadi saat dia lewat dan langsung saja mengambilnya.
"Makanan, datang..." kata Nathan singkat, sambil mendorong laptopnya menjauh agar mendapat ruang untuk meletakkan pizza ke atas meja. Dia membuka tutup kotak pizza itu dan menyerahkan selimut yang ia bawa barusan.
"Ini... selimut... aku mengambilnya untukmu. Aku dapat dari sofa di luar. Kenakanlah! Malam hari biasanya akan menjadi sangat dingin di sini." ujar Nathan mencoba memberitahu Jessica sambil menunjuk pakaian yang Jessica kenakan. "Pakaianmu saat ini terlalu minim dan pastinya akan membuatmu kedinginan nanti."
Bukannya marah atau kesal karena pakaiannya di kritik, Jessica memilih menganggukkan kepalanya setuju. Toh awalnya pakaian ini ia kenakan karena ia hanya berniat untuk menikmati minuman di kafe tadi. Ia mana tau kalau akan ada orang berbadan kekar yang akan menembakkan pistol padanya.
Jessica mengambil selimut pemberian Nathan itu dan meletakkannya di sekitar bahunya untuk menutupi tubuhnya.
"Terima kasih," ujarnya pada Nathan yang langsung di balas dengan sebuah anggukan oleh Nathan.
Saat ini Nathan fokus pada pizza yang ada di hadapannya. Sebenarnya ia juga merasa sangat lapar karena ia bahkan tidak makan siang tadi karena harus memantau gadis ini.
Nathan tidak tau kenapa ia sampai mengorbankan dirinya sendiri untuk kelaparan demi gadis ini. Ia bahkan tak pernah seperti ini seumur hidupnya. Nathan tak pernah begitu peduli pada orang lain. Apa karena harga dirinya di depan Robert yang sudah berani meremehkan dirinya. Tapi apa benar karena itu? Ini bahkan tidak seperti Nathan pada biasanya karena Nathan akan memilih untuk mengabaikan jika ada orang yang merendahkan atau meremehkannya.
"Jadi...siapa pun yang memiliki daftar para agen rahasai ini...apa menurutmu mereka juga yang telah melakukan ini pada Macbook-ku?" Jessica kembali bertanya pada Nathan memecah lamunan pria muda itu.
"Ya, aku rasa memang seperti itu." jawab Nathan sambil lanjut membuka kotak pizza yang ada di depannya
Jessica tersenyum getir. "Aku hanya... maksudku, jadi seseorang ingin aku mati. Seseorang ingin menyakiti ayahku dengan membuatku terluka..."
"Ya, itu mungkin," kata Nathan padanya, sambil menggigit sepotong pizza yang ada di tangannya. Ia mengunyah makanan itu sambil memutar tubuhnya menghadap pada Jessica. "Jika mereka ingin menyakiti Robert, memangnya cara apa lagi yang lebih baik selain melalui anak gadisnya yang sangat dia sayangi?"
__ADS_1
"Ya, itu benar." Jessica menganggukkan kepalanya setuju.
"Meskipun benar bahwa dia tidak secara resmi terhubung denganmu. Kau tau karena namanya tidak tercantum dalam data pribadimu. Selain itu... namanya juga tidak terdaftar di akta kelahiranmu karena saat itu dia belum menyadari kehadiranmu. Tapi orang-orang itu tetap bisa menemukanmu." Nathan bergumam heran.
"Rahasia yang Robert pendam selama ini bisa dengan mudah mereka ketahui. Artinya ini antara mereka yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata untuk mencari tau atau Robert-lah yang sudah melakukan hal ceroboh dengan membuatmu tereskpos." lanjut Nathan dengan raut penasran.
"Apa itu pendapatmu?" tanya Jessica
Nathan mengangguk dan melanjutkan kalimatnya. "Dan aku juga tau kalau selama ini Robert sudah melakukan segala kemungkinan untuk menjauhkanmu dari siapa pun yang berniat jahat padamu."
"Ya, sejauh yang aku ketahui ayah memang selalu melindungiku. Tapi untuk masalah ini, seseorang telah berhasil menemukanku!" Jessica berujar dengan suara kecil. Ia kembali menundukkan kepalanya. "Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padaku jika kau tidak ada di sana tadi. Maksudku, apakah aku akan...ya... mati."
"Lebih baik tidak memikirkannya lagi saat ini," kata Nathan pada Jessica. "Jujur, kau jangan khawatir lagi."
"Baiklah, tapi maksudku adalah... saat ini kau harusnya fokus untuk menenangkan dirimu. Cobalah untuk tidak mengingat hal yang mengerikan." Nathan memberi nasihatnya sambil mendorong kotak pizza tadi agar lebih dekat pada Jessica.
"Makanlah!" ujar Nathan pada gadis itu.
Jessica tersenyum dan mengangguk lalu bergerak mengambil sepotong pizza.
Setelah percakapan itu mereka akhirnya tenggelam dalam keheningan. Keduanya makan dengan tenang sebelum akhirnya Nathan kembali mengambil Macbook milik Jessica. Ia dengan fokus mengetik sesuatu di laptopnya.
"Kau akan menyelidikinya lagi?" tanya Jessica.
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Sudah ku katakan padamu sebelumnya bukan, kalau aku tak akan menyerah." ujar Nathan dengan senyum sinis.
Jessica tersenyum simpul, "Baiklah." ujarnya.
Nathan terus fokus pada pekerjaannya sambil sesekali menggigit pizza di tangannya. Dia terus berganti-ganti antara laptopnya dan Macbook milik Jessica. Nathan melakukan yang terbaik untuk mencoba mencari tahu dan 'mengikuti jejak' dari si pelaku peretas itu.
Jessica hanya diam di tempatnya, memilih untuk tidak mengatakan apa-apa menunggu kegiatan Nathan. Ia mendengarkan bunyi dari ketikan keyboard Nathan sebelum akhirnya dia merasa mengantuk dan dengan perlahan tertidur di kursinya.
Hal berikutnya yang Nathan rasakan adalah ketika kepala Jessica jatuh ke samping, mengenai bahunya. Gadis itu sudah benar-benar tertidur di kursinya dan sekarang kepalanya telah bersandar sepenuhnya di bahu Nathan. Terlihat selimut yang Jessica kenakan jatuh saat itu. Nathan yang melihatnya diam untuk beberapa saat sebelum kemudian tangannya tergerak, ia berniat untuk menyuruh Jessica bangun dan menjauhkan kepalanya dari bahunya.
Tapi dia tidak jadi melakukan itu.
Sesuatu di hatinya menghentikannya.
Dan Nathan bahkan tidak tau perasaan seperti apa ini. Perasaan yang tak bisa di jelaskan oleh pikiran. Hanya terlalu rumit baginya untuk menjelaskan tentang perasaan di hatinya saat ini.
Peduli?
Perasaan simpati?
Atau apa? Nathan juga tak mengerti.
Dan saat ini ia justru memilih untuk menggerakkan lengannya yang lain, yang lebih bebas untuk menarik selimut yang tadi terjatuh ke bawah. Nathan menariknya ke atas, berniat untuk menutupi di sekitar bahu Jessica.
__ADS_1
Rambut gadis itu terasa menggelitik di kulit leher Nathan namun pria muda itu tak merasa terganggu. Dia memilih untuk terus bekerja di tengah malam itu, sebelum akhirnya secara perlahan dia ikut menutup matanya, tertidur dengan punggung yang menyandar dan tangan yang menyilang, masih terus membiarkan kepala gadis itu untuk bertopang ke bahunya.