
Malam itu, Jessica tengah merangkul lengan Nathan saat mereka mengantri untuk menonton film. Nathan telah datang dan mengajaknya pergi ke bioskop untuk pergi, menonton film terbaru yang memiliki tema tentang ilmuan.
Jessica setuju, dia akan cukup puas pergi bersama pemuda itu walaupun hanya akan duduk di sana dan makan popcorn. Mereka masih berdiri mengantri dalam antrian panjang orang-orang yang juga tengah berdiri dan mengobrol.
"Aku harus mengatakan kalau aku sedikit lega." ujar Nathan pada Jessica setelah gadis itu memberi tahu rencananya kalau dia akan tetap tinggal di Indonesia.
Nathan mendorong kacamatanya lebih jauh ke pangkal hidungnya sebelum kemudian melihat kembali ke arahnya.
"Ya, itu bagus jika kau tetap ada di sini."
"Kenapa?"
"Setidaknya aku tidak akan memeriksa kamera CCTV di seluruh Singapura untuk menjagamu selama aku bekerja nanti."
Alis Jessica sontak saja berkerut. "Kau akan melakukan hal itu? Ah, atau kau sedang mencoba bercanda sekarang?"
"Yah, aku tidak pernah dikenal karena leluconku," jawab Nathan. "Selama ini aku dikenal karena kecerdasanku, bukan humor."
Sambil memutar matanya, Jessica kemudian menyenggolnya dengan sikunya dan Nathan terkekeh sebelum dia berubah serius lagi.
"Ya, tapi aku memang senang," kata Nathan padanya. "Aku tahu itu tidak akan membuatmu senang. Dan itu juga bukan sesuatu yang kau inginkan apalagi kau rencanakan untuk dirimu. Tapi... ya... tapi aku pikir mungkin itu yang terbaik."
Jessica mengerjapkan kedua mata dan menatap Nathan yang juga tengah menatapnya. Ia bisa merasakan tubuhnya mendadak kaku saat kedua iris mata mereka bertemu pandang.
"Mungkin," ujar Jessica sambil menggedikkan bahunya dan memilih menyetujuinya dengan nada acuhnya.
Jessica kemudian mengambil popcorn yang ada bungkusan di tangannya lalu dengan perlahan memakannya.
"Berhenti memakannya, Jessica." omel Nathan pada gadis itu. "Kau sudah memakannya sejak kita mulai mengantri tadi."
"Kenapa?"
Jessica menyipitkan matanya, menatap pada Nathan. Dan itu membuat Nathan langsung memutar bola matanya malas.
"Jika kau terus memakannya seperti itu aku bisa menjamin kalau tak akan ada lagi yang tersisa untuk kita makan saat menonton film di dalam nanti." ujar Nathan memberitahunya.
'Benar juga." batin Jessica.
Jessica memanyunkan mulutnya menyadari omelan pemuda itu. Setelah itu baru kemudian ia memutuskan untuk mengambil sekali lagi popcorn di tangannya itu dengan sembunyi-sembunyi sebelum Nathan melihatnya dan mengejeknya lagi.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, apa benar kau senang jija aku tetap di sini?" tanya Jessica kembali pada topik pembicaraan mereka sebelumnya.
"Tentu saja,"
"Jika kau senang aku tetap di sini. Itu artinya, mulai sekarang kau bisa terus menghabiskan lebih banyak waktu denganku," kata Jessica senang.
"Aku akan mengusahakannya." balas Nathan tersenyum simpul.
"Ck, kenapa kau harus mengusahakannya! Kau pasti bisa melakukannya. Ah, tidak. Kau harus melakukannya entah bisa atau tidak." tuntut Jessica seenaknya membuat Nathan terkekeh mendengarnya.
"Dan kalau kau sedang sibuk, kita tidak perlu sampai bertemu. Cukup dengan melakukan video call, meneleponku, ah cukup mengirimiku pesan teks juga bisa!" ujar Jessica lagi.
"Bukankah semua itu bahkan bisa aku lakukan jika kau di Singapura sekalipun?" Nathan menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Iss, lakukan saja." omel Jessica.
"Baiklah, aku akan melakukannya. Aku akan lebih menghabiskan waktu denganmu." Nathan menganggukkan kepalanya dengan senyum kecil dan dengan cepat Nathan lalu mencondongkan tubuh untuk mencium Jessica.
"Itu salah satu yang aku inginkan juga," bisik Jessica padanya dan Nathan membalas dengan senyuman lagi. Ia terlihat puas.
"Kurasa kita akan bergerak maju," kata Jessica setelah mereka menunggu untuk beberapa saat. Butuh beberapa detik sebelum kemudian dengan perlahan mereka mulai bergerak.
"Kau tahu bahwa kau pasti akan dikeluarkan untuk hal-hal seperti itu di sana, Nathan" ujar Jessica dengan senyum mengejek. Sementara Nathan memutar bola mata melirik singkat kepada Jessica sebelum akhirnya mengeluarkan ponselnya untuk menerima panggilan itu.
Jessica tahu kalau ada yang tidak beres begitu dia melihat wajah Nathan yang terlihat mengeras. Ekspresi wajah pemuda itu terlihat begitu serius sekarang. Pemuda itu kemudian menunduk. Dan Jessica bisa melihat wajah Nathan yang saat ini berubah semakin memucat.
Untuk beberapa saat Jessica bergeming melihat wajah pemuda itu. Dan detik selanjutnya Jessica langsung mengeratkan cengkramannya pada lengan Nathan.
"Baik, terima kasih." tukas Nathan mematikan sambungan teleponnya.
Jessica mendongak, menatap Nathan.
"Ada apa Nathan?" Jessica langsung bertanya begitu dia melihat Nathan selesai menelepon.
Nathan lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong jaketnya dan menatap Jessica. Ia menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
"Itu telepon dari ayahmu." ujar Nathan.
"Lalu?"
__ADS_1
"Dia memberitahuku tentang Dimitri!" kata Nathan ragu.
Jessica tidak puas dengan jawaban Nathan dan memilih bertanya untuk memperjelas. "Apa yang terjadi?"
Mata Nathan terus mengamati wajah Jessica, hatinya ragu untuk memberitahu gadis itu. Tapi mau bagaimanapun gadis itu harus di beritahu, karena cepat atau lambat Jessica akan tetap mengetahuinya juga.
"Nathan, ada apa dengan Dimitri?" Jessica mengulang pertanyaannya.
"Dimitri... dia kembali," kata Nathan setelah beberapa saat.
Nathan melihat ke arah Jessica, melihat ekspresi wajah gadis itu. Nathan bisa melihat raut ketakutan di wajahnya. Sementara Jessica sendiri saat ini memilih untuk diam. Dia tau ada hal yang tak beres dan dia juga bisa menebak apa yang terjadi, itu sebabnya dia bertanya. Tapi entah kenapa kini Jessica merasa menyesal sudah bertanya.
Nathan kembali diam. Ia menghembuskan napasnya panjang, mengambil waktu sejenak sebelum kemudian dia memegang tangan gadis itu dan menariknya keluar dari antrian.
"Nathan," gumam Jessica saat melihat Nathan yang berjalan di depannya.
"Maafkan aku, kita tunda saja," ujar Nathan pada Jessica sambil terus menarik gadis itu keluar dari gedung bioskop itu.
Mereka bergegas keluar ke trotoar, berdiri di udara sejuk saat Nathan mengeluarkan kembali ponselnya dari dalam kantong untuk melihat jam.
"Ayahmu sedang ada di kantor organisasi sekarang," Nathan kembali memberitahu Jessica.
"Benarkah?"
Nathan menganggukkan kepalanya. "Ya, ada beberapa bentuk serangan *******. Aku belum mengetahui seperti apa detailnya... tapi aku akan segera..."
"Dan apa kau yakin itu dia?" Jessica memastikan pada Nathan. "Apa kau yakin kalau itu ulah Dimitri?"
"Itulah yang akan aku coba untuk ketahui," ujar Nathan menjawab dan mengusap lalu mengusap jari-jarinya di pipi Jessica. "Kedengarannya memang meyakinkan, Jessica. Tapi aku janji akan mencari tau."
"Baiklah." Jessica mengangguk.
"Aku akan pergi ke kantor. Dan kau akan ikut denganku malam ini. Kita tidak akan pulang ke rumah ayahmu. Ya, lagi pula ayahmu tidak akan menginginkanmu sendirian di rumah."
Jessica tampak bengong untuk beberapa saat sebelum kemudian Jessica kembali mengangguk dan mengikuti Nathan dengan tergesa-gesa.
"Semua akan baik-baik saja," Nathan berjanji dan meraih tangannya lagi, menggenggamnya dengan erat. "Aku berjanji padamu."
***
__ADS_1