
"Ibu pergi? Apa maksudnya dengan dia pergi?" tanya Jessica dengan raut wajah terkejut.
Bahkan kekhawatiran Jessica tentang adanya Dimitri sebelumnya seketika saja langsung memudar begitu dia mendengar kabar yang di katakan ayahnya tentang kepergian ibunya.
Beberapa menit lalu ayahnya datang ke ruang rawatnya dan memberitahunya bahwa ibunya beserta dengan kekasihnya John, telah memesan kamar hotel untuk tempat mereka menginap malam itu. Kedua orang itu mengatakan kalau mereka merasa sangat lelah dan butuh istirahat.
Bagi Jessica, itu bukan masalah namun yang membuat Jessica merasa sedikit kesal adalah ibunya itu pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal atau kalimat apapun padanya.
Robert yang sejak tadi terlihat berjalan mondar-mandir di dekat tempat tidur Jessica akhirnya memilih menghentikan kegiatannya. Ia menatap Jessica lekat dan bisa melihat raut kecewa yang ada di wajah anak gadisnya itu.
"Jessica, di bandingkan dengan hal itu, saat ini ayah justru lebih peduli dengan alasan mengapa Dimitri bisa ada di sini," jawab Robert kepada putrinya.
Robert kemudian melirik sekilas ke arah Nathan. Pria muda itu terlihat sedang memainkan iPhone milik Jessica. Ia sejak tadi mencoba untuk menghubungi ke kantor utama dengan benda itu, mengingat itu adalah satu-satunya sumber teknologi yang bisa digunakan untuk melakukan panggilan.
Sejak tadi pemuda itu hanya berdiri diam di tempatnya yang agak sedikit tersembunyi di sudut. Bukan apa, saat ini Nathan hanya sedang mencoba melakukan yang terbaik untuk memastikan kalau tidak akan ada siapapun yang bisa melihat posisinya saat ini, meski itu adalah dokter ataupun perawat yang lewat sekalipun.
"Jelas sekali kalau Dimitri pasti sedang berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya, ayah. Yaitu mengintai kita! " Jessica berujar.
Gadis itu kemudian mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan kembali ke ibunya. "Lalu, bisakah ayah jelaskan padaku kenapa ibu pergi? Apakah dia tidak mengatakan apa-apa tentang aku pada ayah?"
Robert menghela napasnya perlahan. "Ia mengatakan sesuatu."
"Apa yang dia katakan?"
"Jika ayah memberitahumu tentang apa yang ibumu katakan, maka kau pasti akan sama marahnya dengan ayah," Robert mencoba meyakinkan Jessica bahwa ia tidak harus mengulang apapun yang ibunya katakan padanya tentang gadis itu.
Jessica menatap mata coklat sang ayah. Bola matanya melebar pada kalimat itu. Dan itu membuat Jessica jadi semakin penasaran dan bertanya-tanya tentang apa yang ibunya katakan pada ayahnya itu?
__ADS_1
"Apa yang dia katakan?" tanya Jessica kesal. "Kalimat buruk apa yang dia katakan? Aku tidak butuh perlindungan, Ayah. Aku berumur dua puluh tahun. Aku bahkan bisa membuat keputusan sendiri."
"Dia mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh pria bernama John itu." cibir Robert.
"John?"
Robert melipat kedua tangannya ke dada, kemudian ia mengangguk "John, ya pria asing itu... ayah hanya merasa kalau sepertinya dia tidak terlalu menyukaimu Jessica. Bisa kita katakan seperti itu. Dan ibumu… dia bahkan tidak melakukan apa pun untuk membelamu. Ibumu hanya diam saat John terus menjelekkanmu di depan ayah."
Jessica mengangguk, ia paham sekarang. Jessica tersenyum miris baru kembali bicara. "Ibu juga pasti merasa sangat kesal padaku. Itu sebabnya dia bahkan tidak membelaku sedikit pun saat John menjelekanku."
"Tapi kenapa?"
"Aku...sebelumnya aku memberitahunya bahwa semua yang terjadi ini adalah kecelakaan..." Jessica berujar, saat ini dia berniat untuk menceritakan apa yang terjadi pada sang ayah.
Bagi Jessica saat ini, memikirkan kalau ia akan pulang dengan ibunya saja sudah membuat perutnya terasa mulas. Dia tidak menginginkan itu. Dia benar-benar tidak menginginkan itu.
Mendengar cerita dari anak gadisnya itu membuat hati Robert terasa panas. Siapa John yang sudah berani menghina putrinya seperti itu? Ia hanyalah kekasih dari mantan istrinya. Tak punya hak sama sekali untuk menghina anaknya.
"Aku tidak… maksudku, aku tidak tahu apa masalahnya hingga membuat mereka begitu marah padaku. Yang kuinginkan hanyalah pergi bersamamu ayah. Dan itu... itu karena aku merasa akan lebih aman jika bersamamu. Tapi ibu tidak setuju."
"Ya, ibumu memang selalu sulit untuk di senangkan," komentar Robert. "Cobalah untuk tidak khawatir tentang dia atau apapun."
"Dan sekarang dia pergi?" kata Jessica seakan tak mendengar saran ayahnya itu. "Dia bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal padaku. Maksudku, ayah… aku tidak tahu hal salah apa yang aku lakukan."
Robert bisa merasakan kegelisahan putrinya. Ia bergerak untuk duduk di tempat tidur, tepat di sebelah gadis itu. Robert lalu melingkarkan lengannya di bahu Jessica, mengusap pelan dengan tangannya.
"Kau tidak melakukan apa-apa, Jessica. Kau tidak melakukan hal yang salah. " Robert berujar pada putrinya itu. "Ibumu hanya terlalu mudah marah. Setelah ini dia pasti akan segera tenang kembali. Ayah yakin"
__ADS_1
"Benarkah?" Jessica memastikan. Ia menghela napasnya perlahan lalu tersenyum miris. "Selama ini dia masih menganggapku anak kecil."
Tersenyum, Robert menyisir rambut gadis itu ke belakang telinga barulah kemudian dia mencium pucuk kepala gadis itu. "Dia bukan satu-satunya yang menganggapmu begitu, Jess."
"Ah!" Nathan tiba-tiba berseru, melompat dan menjentikkan jarinya. "Kita menangkapnya. Dia ada di rumah sakit ini. Dan dia juga sempat terlihat di luar gedung rumah sakit. Tapi satu hal yang jelas dia ada di sini."
"Benarkah?"
"Ya, aku menyuruh Billy memeriksa rekaman CCTV dan dia terlihat menyamar sebagai polisi. Sepertinya dia memang suka mengenakan pakaian polisi." kata Nathan memberikan ponsel berisi rekaman pergerakan Dimitri saat memasuki rumah sakit. "Dan yang ini dia menyamar sebagai dokter."
"Tidak ada pertanyaan yang di ragukan untuk keahliannya dalam penyamaran seperti itu. Dia adalah mantan mata-mata." komentar Robert. "Lalu apakah kau mengirim seseorang untuk mengejarnya?"
"Seseorang?" kata Nathan, alisnya terangkat dengan percaya diri. "Aku bahkan sudah mengirim seluruh anggota organisasi kita untuk mengejarnya."
"Bagus," kata Robert. "Aku akan keluar untuk berbicara dengan seorang perawat atau dokter, memastikan apakah Jessica bisa di pulangkan besok. Aku ingin dia di tahan di penjara organisasi kita sampai aku tiba di Indonesia."
Nathan berdehem sebentar. "Dan, bisakah aku bertanya padamu tentang apa yang akan kau lakukan padanya nanti?" Nathan bertanya penasaran. Ia tahu betul bahwa Robert sedang marah saat ini. Aura kemarahannya bahkan terpancar dari wajahnya.
"Apa yang akan ku lakukan?" Robert bertanya balik.
Nathan menatap Robert lekat, menunggu jawaban. "Kau-"
"Sepertinya aku akan membunuhnya" jawab Robert singkat. "Dan aku akan benar-benar melakukannya."
"Bukankah membuatnya hidup di penjara akan jauh lebih memuaskan?" Jessica bertanya-tanya pada sang ayah.
"Percayalah," kata Robert, "kematian akan terasa jauh lebih memuaskan."
__ADS_1
***