
Mendengar suara itu, Nathan yang belum menyadari kehadiran dari wanita itu menoleh. Ia terlihat menghela napasnya lega setelah melihat wanita itu berdiri di hadapannya.
"Tidak," jawab Nathan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pada sang atasan.
"Tadi aku pergi ke Galeri Nasional lebih dahulu untuk mengalihkan perhatian orang-orang itu, baru kemudian aku melewati stasiun bawah tanah sebelum akhirnya aku kemari. Dan aku bisa memastikan kalau tidak ada yang mengikuti kami." lanjut Nathan menjelaskan.
"Bagus," kata Marie terdengar bangga. "Lalu bagaimana kau bisa menemukan gadis itu dan membawanya datang kemari?"
Nathan menoleh pada Jessica sekilas dan tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Dia... yah...kau tahu...Robert...sebenarnya..." Nathan berujar dengan nada yang tergagap. Ia tahu jelas bahwa dia seharusnya tidak melakukan apa yang diminta Robert tadi pagi. Gadis ini jelas sama sekali bukan urusan dari organisasi mereka. Mereka kan agen pemerintah, bukannya babysitter.
"Robert?" tanya wanita itu lagi menaikkan sebelah alisnya.
"Ya, Robert! Dia... memintaku untuk mengawasinya... dan yah... melacak..." ujar Nathan dengan canggung.
Wanita itu lalu menatap Nathan dengan tatapan tak suka. Dan Nathan tau kalau dia sama sekali tak setuju dengan penjelasan Nathan itu.
"Dan apa kau tidak memberi tahu Robert bahwa organisasi kita tidak memiliki urusan dan juga tidak ada hubungan sama sekali dengan hal pribadinya?" ujar wanita itu menjawab Nathan, sebelah alisnya tampak naik dan ekspresi kesal terpampang dengan jelas di wajahnya.
__ADS_1
Nathan tersenyum canggung. Dia lalu melihat kembali ke Jessica sebelum akhirnya ia menundukkan kepalanya. Saat ini ia terlalu bingung harus mengatakan apa pada sang atasan yang berdiri di hadapannya itu. Nathan jadi merasa serba salah. Di satu sisi, Robert sudah menitipkan anaknya dan meminta Nathan menjaga keselamatannya. Tapi di sisi lain, hal ini memang sama sekali bukanlah urusan organisasi.
"Yah, itu...maksudku... aku pikir seseorang tadinya bermaksud untuk menyakitinya... atau setidaknya mencoba menakutinya," Nathan mencoba sekeras yang ia bisa untuk menjelaskan pada sang atasan.
"Memangnya apa yang terjadi?" Marie menuntut penjelasan dari programmer handalnya itu.
"Hidupnya dalam sedang dalam bahaya, Marie. Aku rasa seseorang memang sedang berusaha untuk mengejarnya tadi. Kalau tidak, mengapa mereka harus sampai mengirim seseorang bersenjata untuk mengejarnya tadi? Untung saja ada aku di sana. Kalau tidak dia..." Nathan sudah tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi.
Nathan menghela napasnya lelah, "Dia anak dari Robert. Aku yakin, mereka pasti mencoba mengejarnya untuk mendapatkan perhatian dari Robert."
"Kau benar. Ini pasti untuk mendapatkan perhatian Robert." jawab wanita itu sambil menganggukkan kepalanya setuju. Ia lalu ikut menghela nafasnya perlahan, menempatkan tangan ke pangkal hidungnya, memijitnya pelan, mengurangi pusing di kepalanya.
"Kau sudah melakukannya dengan baik, Nathan. Ya, untuk seseorang yang bukan agen lapangan sepertimu ini adalah perbuatan yang terbaik."
Nathan menganggukkan kepalanya, "terima kasih." ujarnya.
"Hal apa yang kau temukan? Apa yang tampak mencurigakan bagimu?" tanya Marie.
"Itu... mereka mengirim semacam virus ke laptopnya," kata Nathan melihat ke arah Jessica sebelum dia menunjuk ke tas milik gadis itu.
__ADS_1
Jessica seakan mengerti dan membuka tas miliknya kemudian mengambil dan menyerahkan Macbook itu lagi. Nathan meletakkan benda itu di atas meja sebelum akhirnya ia menyalakannya dan memperlihatkan gambar tengkorak dan sebuah kalimat yang ada di dekatnya.
Marie berdiri di samping Nathan, menatap pria itu sebelum menatap Jessica. Ia tahu betul bahwa selama ini Robert telah merahasiakan tentang identitas aslinya dari anak gadisnya itu.
"Aku percaya bahwa sekarang kau sudah tahu kalau ayahmu bukanlah pegawai negeri biasa," kata Marie dan Jessica mengangguk.
"Aku sangat terkejut dengan ini." katanya dengan nada sedikit sarkas. Jessica terdiam untuk beberapa saat dan kemudian ia menatap Marie. "Siapa dia? Siapa ayahku sebenarnya?"
"Ayahmu adalah salah satu agen rahasia terbaik yang kami miliki," kata Marie pada Jessica dengan nada yang terdengar tenang. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya saat ia melirik Nathan yang saat ini tengsh sibuk dengan komputernya. Pemuda itu sedang mencoba untuk kembali meretas dan mencari tau tentang virus yang ada di Macbook milik Jessica.
Marie menghela napasnya pelan, sebelum kembali melihat pada Jessica sambil melanjutkan kalimatnya.
"Dia agen terbaik yang kami miliki. Selama ini ayahmu mencoba menyembunyikan identitasnya darimu karena dia tahu betapa besar bahaya yang akan dia dapatkan dari pekerjaan itu. Hubungan apa pun yang dia jalin denganmu bisa dengan mudah membuat musuh-musuhnya menyakitimu, bisa membuatmu terluka. Dia hanya mencoba melakukan apa yang menurutnya terbaik bagi kalian. Bagimu!" ujar Marie.
Marie tahu jelas bahwa saat ini dia tidak punya waktu untuk menjelaskan semuanya kepada gadis itu. Jadi dia hanya memberitahu hal-hal inti saja.
Dan sial, bahkan Jessica belum tahu cerita lengkapnya mengenai ayahnya. Jessica hanya meresap beberapa informasi utama yang bisa dia tangkap dari penjelasan Marie padanya barusan.
Satu, ayahnya bukanlah pegawai negeri biasa yang bekerja di Kementrian Pertahanan. Oke, ayahnya memang bekerja di Kementrian Pertahanan namun sebagai anggota BIN? Dia adalah seorang agen rahasia?
__ADS_1
Dan kedua, karena pekerjaannya itu seseorang berusaha untuk menyakitinya. Ah bukan, seseorang sedang mencoba menyakitinya untuk mendapatkan perhatian ayahnya.