Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
116


__ADS_3

"Kita tidak bisa membahayakan misi ini, Robert!"


Suara tegas Regina terdengar di sertai hentakan sepatu hak tingginya yang terdengar jelas di seluruh ruangan putih itu.


Ia baru saja datang setelah Robert menghubunginya dan mengatakan semua rencananya tentang menyelamatkan anak gadisnya


Robert sendiri telah kembali beberapa saat setelah Nathan menghubunginya dan menceritakan segala hal yang dia lihat di video itu. Begitu mendengar seluruh cerita itu, kedua tangan Robert terkepal dengan erat di samping tubuhnya dan tatapannya cukup untuk membakar apa pun. Apa pun kecuali Regina, begitulah tampaknya.


"Dia putriku," Robert balas membentak. Tentu saja ucapan Regina barusan benar-benar membuat Robert yang sudah kesal jadi merasa semakin kesal saat ini.


"Bisakah kau tidak memancing emosiku? Dengar! Aku harus mendapatkan putriku kembali. Aku harus menyelamatkannya. Kenapa kau tidak bisa mengerti itu?" Robert berseru tajam. Ia bahkan terlihat tak peduli jika Regina adalah atasannya. Saat ini ia bahkan sudah terlalu marah hanya untuk sekedar mengikuti semua sopan santun yang ada.


Regina menghela napasnya kasar.


"Robert, misi ini telah direncanakan selama berbulan-bulan lamanya. Dan aku bahkan memiliki agen lain di sana untuk mengawasinya. Bagaimana kau memutuskan untuk pergi dan merusak segalanya?" jawab Regina sengit.


Nathan yang sejak tadi mendengar perdebatan itu hanya diam di posisinya. Ia lalu mendorong kacamatanya lebih jauh ke pangkal hidungnya. Dia bahkan lebih memilih menarik rambutnya yang saat ini sudah tampak acak-acakan sebelum berbalik dan memilih untuk melihat ke layar komputernya.


Dia menganggap dirinya tidak beruntung sama sekali dalam kasus ini. Pekerjaan dan masalah pribadinya harus bertentangan. Tapi memang benar, ini bukan hanya kasus bagi Nathan melainkan hal yang sangat penting. Ini adalah nyawa Jessica yang dipertaruhkan.


"Dan satu hal yang harus kalian tau, dia memiliki kode untuk semua senjata nuklir," ungkap Nathan. mengusap matanya sambil mendorong kacamatanya ke atas. "Apakah menurut kalian dia tidak akan menggunakannya? Ayolah! Kita tidak punya pilihan lain selain melakukan apa yang dia katakan di video. Kita perlu mengirim umpan. Dia akan melihat langsung, tentu saja... ya kecuali..."

__ADS_1


"Kecuali apa?" Regina bertanya penasaran dan Nathan menggelengkan kepalanya.


"Kecuali... kita mengkloning kuncinya," kata Nathan ragu. Regina dan Robert fokus mendengarkan kalimat sang programer. "Maksudku adalah... yang aku butuhkan saat ini hanyalah 'metode' yang digunakan untuk membuatnya. Aku dapat menemukan sisa lainnya di database. Kita akan berpura-pura kalau kunci aslinya telah dicuri, tetapi kita masih menyimpan yang lain."


"Bisakah kau mengkloning kuncinya?" Regina bertanya-tanya pada Nathan.


"Hm, aku berpikir kalau akan ada beberapa yang aku bisa," Nathan menganggukkan kepalanya. "Ya, aku bersyukur karena aku menjadi salah satu dari pembuat mereka saat itu. Aku bisa membuatnya akurat ... dari beratnya ... hingga hal lain yang harusnya tepat... "


"Bisakah cara ini bekerja?" Robert bertanya pada Regina. Mereka harus mencoba cara itu, Robert tahu itu. Pendapat Regina tidak masalah, tetapi tetap saja, Regina adalah atasan mereka, akan lebih mudah jika dia menyetujui apa yang diminta.


Regina menghela napasnya pelan. Ia lalu memutar tubuhnya dan berjalan ke arah sofa yang ada di dekat mereka.


"Apakah ada pilihan lain?" Regina bertanya-tanya.


"Kita akan menggunakan cara ini!" balas Robert.


"Kita melacak Robert nanti dan kita akan segera menangkap pria ini, sesegera mungkin." ujar Regina tajam, entah kenapa ia merasa kesal. Ia lalu menatap Nathan. "Apakah ada informasi yang kau dapat tentang dia, Nathan? Tentang apapun?"


"Dia tidak menunjukkan wajahnya saat di layar," jawab Nathan. "Aku juga tidak bisa melacak apa pun tentang dia. Aku tidak tahu siapa dia dan Jessica juga tidak mengatakan apa-apa tentang dia. Kita bisa mencoba memberi pelacak pada Robert, tapi aku ragu itu akan berhasil. Dia pintar. Dia bahkan mengalihkan setiap upaya yang aku lakukan untuk melacak ponsel Jessica sebelumnya."


"Kalau begitu kita akan mengirim agen lain untuk mengikuti Robert nanti." Regina memberi pendapatnya. "Apapun caranya pria ini harus di tangkap. Dia... dia memiliki kode untuk memulai perang nuklir. Aku ingin dia ditangkap secepatnya."

__ADS_1


"Dia pasti akan tahu jika ada agen lain," jawab Robert sambil menggelengkan kepalanya. "Dia akan bisa melacak gerakan mereka nanti. Jika dia tahu, dia pasti akan marah dan menurutmu apa yang akan dia lakukan pada putriku?"


"Lalu apa? Apa kau ingin melakukan ini sendirian? Apakah kau pikir dia akan bergerak sendirian?" Regina tersentak kembali dengan perkataan Robert. "Ini jelas ide gila, Robert. Kita bahkan tidak tahu siapa dia atau untuk siapa dia bekerja sebenarnya."


"Ya, ide gila ini... aku melakukan ini untuk putriku," Robert dengan cepat menjawab. "Aku bisa mengatasi hal ini sendiri. Aku selalu melakukannya sendiri dan aku akan selalu melakukan hal yang sama."


Regina menggelengkan kepalanya dan mengerutkan keningnya. Ia merasa tidak ada gunanya berdebat dengan Robert. Tidak pernah ada gunanya. Pria itu terlalu keras kepala seperti banteng gila.


Regina lalu mengalihkan perhatiannya pada Nathan yang tengah fokus pada komputernya.


"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat kuncinya, Nathan?" tanya Regina dan Nathan mulai mencari desain yang ada di laptopnya.


"Mungkin sekitar empat atau lima jam jika aku menelepon Alice dan memiliki semua peralatan yang aku butuhkan," jawab Nathan. "Itu memberi kita waktu minimal sekitar delapan belas jam untuk menyelamatkan Jessica."


"Kerjakanlah," perintah Regina dan Nathan mengangguk. Regina kemudian beralih pada Robert. "Aku harus pergi untuk berbicara dengan Menteri Pertahanan. Dia menghubungiku dan ingin tahu bagaimana kode itu bisa jatuh ke tangan orang ini. Menurutmu, apa yang sebaiknya aku katakan padanya?"


"Katakan saja padanya apa yang ingin kau katakan." jawab Robert. "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ya, tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi dan bagaimana orang ini bisa mendapatkan kodenya."


Regina menggelengkan kepalanya dan berbalik, melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan itu dan menuju ke kantornya untuk menelepon Menteri Pertahanan. Ya, ia akan mengatakan apa yang dia pikir harus dia katakan.


***

__ADS_1


Ingat semuanya... negara kita nggak punya misil, :)


Inspirasi aneh ini, aku dapat dari film-film luar wkwk...


__ADS_2