Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
29


__ADS_3

Suara Jessica terdengar bergetar saat dia melingkarkan lengannya di tubuh sang ayah. Ia jadi bertanya-tanya kapan terakhir kali ia memeluk sang ayah dengan begitu erat seperti ini. Ah, sepertinya tak pernah.


"Jessica, syukurlah kau selamat," kata Robert dengan raut khawatir. Ia tidak bisa berhenti mengulang momen saat ia terkejut bukan main sekaligus merasa lega ketika Marie menceritakan apa yang telah terjadi pada anak gadisnya ini.


"Ayah tidak pernah bermaksud membiarkan semua ini terjadi padamu, Jessie. Ayah pikir kau akan aman berada di rumah ayah. Maafkan ayah, karena ayah tidak pernah berpikir bahwa dia akan mengejarmu. Maafkan ayah Jessica. Maafkan ayah…"


Robert mengusap rambut putrinya yang panjang  dengan penuh kasih sayang. Nathan terlihat berdiri di belakang mereka dengan senyuman. Ia bahkan mencoba melihat ke mana pun yang dia bisa asalkan tidak ke arah mereka. Hatinya ikut merasa senang melihat gadis itu beertemu dengan ayahnya sendiri.


"Siapa?" Jessica bertanya dengan raut wajah yang penasaran. Ia melangkahkan kakinya kebelakang, bergerak mundur sambil melepas pelukannya pada sang ayah. "Siapa yang sedang ayah bicarakan?"


"Dimitri Silva," kata Robert padanya. "Dia adalah seorang mantan agen BIN, sama seperti ayah. Dia mengatakan pada ayah bahwa telah mengirim seseorang untuk menangkapmu."


"Aku baik-baik saja disini, ayah." ujar Jessica. .


"Ya, Marie mengatakan pada ayah begitu ayah sampai kalau kau ada di sini, di gedung bawah tanah ini bersama dengan Nathan. Dan itu membuat ayah lega."


"Tapi kenapa?" Jessica bertanya-tanya. "Kenapa dia mengejarku?"

__ADS_1


"Untuk mendapatkan ayah... Jess ... ayah tidak tahu," kata Robert. "Ayah tidak tahu apa tujuannya dengan berusaha untuk menyentuh dirimu."


Jessica mengangguk meskipun ia masih merasa tak mengerti dengan semua ini.


"Dengar, Jess! Dia sama sekali bukan seseorang yang baik. Dia adalah orang jahat. Dan ayah tidak tahu alasannya mengapa dia memilih untuk dia mengejarmu, tapi dia benar-benar sudah berani melakukannya. Entah, mungkin dia ingin mencoba untuk mengalihkan perhatian ayah. Atau mungkin dia ingin ayah berhenti untuk mengejarnya. Alasannya bisa semua itu."


Robert menghela napasnya panjang. "Ayah tak bisa memikirkan apa yang akan terjadi jika dia benar-benar sampai mendapatkanmu."


"Dan dia tidak berhasil" jawab Jessica sambil menoleh ke belakang untuk melihat kembali ke Nathan. "Ayah, Nathan yang menyelamatkan aku malam itu. Dia juga memberitahuku kalau dia sedang memata-matai ku saat itu."


Robert menghela nafasnya lega. "Aku pikir aku berhutang banyak terima kasih padamu," kata Robert. Ia lalu tersenyum geli, "Bagaimana rasanya berada di lapangan?"


"Aku menganggapnya musibah. Bagiku, itu adalah hal yang paling buruk jika di bandingkan dengan apapun hal buruk yang pernah aku lakukan selama aku hidup di dunia ini." jawab Nathan. Perkataan pemuda itu lebih terdengar seperti kalimat omelan.


Nathan kemudian menggerutu pada dirinya sendiri. "Aku tidak mengerti mengapa agen lapangan harus rela menghabiskan begitu banyak waktu mereka untuk melakukan hal berbahaya seperti itu."


Robert yang mendengar itu menjadi sedikit tersinggung karena ia juga merupakan salah satu agen lapangan.

__ADS_1


"Apakah kau tidak memiliki pekerjaan yang harus dilakukan?" tanya Robert ketus. "…atau tempat yang harus dibersihkan, begitu?"


"Hei," kata Jessica, menepuk lengan ayahnya pelan. "Tidak perlu kasar begitu."


"Oh, jangan khawatir, Jessica," kata Nathan santai. "Selama ini ayahmu memang sering mengatakan banyak hal untuk dapat mengatai diriku. Dia akan terus saja mengatakan tentang betapa halusnya kulitku. Aku yang selalu terlihat seperti anak rumahan yang manja atau betapa aku terlalu muda untuk pekerjaan ini dan kalimat ejekan lainnya."


"Aku hanya khawatir pada dirimu," jawab Robert. "Karena yang aku perhatikan, kau terlihat seperti anak manja."


"Ah, terima kasih karena sudah khawatir." ujar Nathan sinis sambil tersenyum mengejek.


"Dan tunggu sebentar, sejak kapan kau memanggil anakku dengan nada santai seperti itu? Lalu sejak kapan kalian jadi akrab seperti ini?" Robert menaikkan sebelah alisnya heran.


"Sejak aku menyelamatkan nyawanya," jawab Nathan dengan dingin. "Ngomong-ngomong, sepertinya aku punya urusan lain yang harus dilakukan. Aku yakin kau membawa sesuatu untuk aku kerjakan?"


"Ya, beberapa agen akan membawa dan akan menyerahkannya padamu sebentar lagi. Itu adalah laptop milik Dimitri. Aku ingin kau memeriksa isinya."


"Tidak masalah," jawab Nathan dan dia berbalik untuk kembali ke ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2