Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
75


__ADS_3

"Kenapa kau begitu menginginkan Robert?" Nathan bertanya-tanya. "Kau harusnya ke Regina. Dan apakah dengan membunuh Marry itu tidak cukup bagimu?"


"Kurasa tidak," kata Dimitri, berpura-pura memeriksa punggung tangannya sendiri kemudian mengendusnya."Aku bahkan merencanakan hal besar untuk Robert di kereta. Namun, rencanaku yang sudah disusun dengan cerdik dan begitu rapi tampaknya menjadi berantakan berkat dirimu. Kau membuat mereka selamat dari kematian. Ah... aku duga kau pasti sangat menyukai putri kecilnya itu."


"Aku hanya melakukan pekerjaanku," Nathan berujar kesal.


"Aku ingin tidak setuju," kata Dimitri, mengangkat satu jari untuk menghentikan Nathan menyela. "Kau melakukan segalanya untuk menggagalkan rencanaku. Kau memberi tahu mereka tentang adanya bom itu. Kau menyembunyikan Jessica di apartemenmu. Dan di Thailand, kaulah yang mengirim banyak orang untuk mengejarku ketika kau tahu di mana aku bersama Marry saat itu. Juga insiden di kafe… sial! Semuanya gagal karena dirimu"


Dimitri mendekat pada Nathan kemudian meraih rahang pria muda itu, mencengkramnya kasar dan mendekatkan wajahnya pada wajah Nathan


"Kau benar-benar menyusahkanku, Nathan. Kau menggagalkan rencanaku dan sangat menggangguku."


Nathan tidak menjawab. Ia menatap wajah Dimitri dengan datar. Sejak tadi ia mengontrol emosinya berusaha untuk tak terlihat takut atau marah.


"Kenapa kau diam?"


Mendengar itu sontak Nathan menatap wajah Dimitri.


"Jadi," gerutu Nathan. Ia tahu bahwa dia harus tetap tenang saat ini. Ia menatap Dimitri dengan tatapan sinis. "Apa rencananya sekarang? Atau apakah kau memiliki rencana baru?"

__ADS_1


Dimitri lalu melepas tangannya dari rahang Nathan dan melangkahkan kakinya mundur. Ia melipat kedua tangannya di dada menatap Nathan dengan senyuman.


"Ada rencana, tentu saja ada." kata Dimitri. "Bisakah kau membayangkan keseruan jika Robert mati? Aku sendiri berusaha untuk memercayainya kalau dia akan mati di tanganku."


"Kenapa kau ingin sekali membunuhnya?" tanya Nathan heran. "Dia bahkan tidak melakukan kesalahan apa pun padamu. Marry-lah yang melakukannya. Aku mengerti itu...tapi...Robert, dia-"


"Dia salah satu orang yang mencoba menusukku dari belakang," Dimitri berbicara. "Secara harfiah, aku bisa menambahkannya."


"Aku yakin kalau saat ini dia sedikit kesal denganmu," komentar Nathan. "Kau sudah menculik putrinya. Aku khawatir dia akan menghabisimu setelah ini."


"Tidak, aku-lah yang harus menyingkirkan Robert. Aku yang akan menghabisinya. Ah, bisakah kau bayangkan jika aku berhasil menyingkirkannya? Bisakah kau memikirkan apa yang ada di kepala Regina setelah itu terjadi?" Dimitri bertanya-tanya pada Nathan. "Dia akan melihat bahwa tidak ada lagi agen-nya yang bisa mengalahkan aku. Jika Robert saja tidak bisa, maka aku ragu orang lain akan bisa. Apakah setelah itu dia bahkan akan mempertaruhkan seluruh agennya untuk melawanku? Apapun itu, aku pasti akan bisa mengalahkan mereka semua."


"Kau-"


"Apakah menurutmu Regina akan membiarkanmu lolos begitu saja? Ya, dia pasti akan mengirim orang sebanyak mungkin untuk mengejarmu," jawab Nathan.


"Mungkin. Tapi mungkin juga tidak," jawab Dimitri sambil mengangkat bahunya santai. "Kita akan segera bertemu lagi, progammer handal."


"Caramu berpikir bukanlah sesuatu yang bisa aku pahami. Kau memang cerdas." Nathan mengakui pada Dimitri. "Tapi apakah kau benar-benar berpikir bahwa Robert akan membiarkan mu pergi ke mana pun kau mau?"

__ADS_1


"Tidak," kata Dimitri. "Tapi dia mungkin tidak punya pilihan selain membiarkan aku pergi."


"Kau yang tak punya pilihan, Dimitri." ujar Nathan dengan tatapan tajam di wajahnya. Sikap angkuh Nathan itu diam-diam membuat Dimitri merasa kesal sendiri.


Dimitri tersenyum dan berdehem sebentar, sebelum kemudian dia  memberi tanda pada anak buahnya yang ada di tempat itu untuk mendekat.


"Aku tahu bagimu Robert adalah agen yang hebat. Tapi seperti yang kita lihat saat ini. Dia tak ada di sini. Dan tak ada yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkanmu..." ujar Dimitri melirik pada anak buahnya. "Kenalkan, mereka adalah anak buahku. Dan mereka bisa mengajarimu cara bicara yang benar saat sedang bersamaku."


Tubuh Nathan menegang saat melihat beberapa anak buah Dimitri tengah menggulung lengan baju mereka.


"Apa yang akan-"


"Kau harus tau, Nathan, aku punya pilihan. Banyak sekali pilihan. Dan aku bisa memperlihatkannya padamu. Aku juga akan memberimu cara untuk mengetahui salah satu pilihan yang akan ku pilih untuk menangani dirimu." ujar Dimitri.


Dimitri kemudian menepuk bahu salah satu dari anak buahnya itu.


"Ajari pria muda ini sesuatu yang penting agar dia tidak berani bicara macam-macam lagi." ujar Dimitri kemudian berlalu meninggalkan Nathan dan anak buahnya di ruangan itu. Ia bahkan sudah tak menghiraukan lagi suara teriakan kesakitan dari Nathan yang di keroyok oleh anak buahnya di dalam ruangan.


***

__ADS_1


__ADS_2