Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
55


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Robert.


"Aku.. aku hanya…"


"Apakah kau tidak mendengar peringatanku terakhir kali kita berbicara?" Robert berujar dengan nada dingin.


Nathan menggaruk tengkuknya canggung.


"Ya, kurasa sebelumnya kau bilang kau akan mencoba untuk membunuhku," jawab pria itu. Ia lalu mendorong kacamatanya lebih jauh ke pangkal hidungnya saat dia mengatakannya. "Saat ini kita sedang berada di rumah sakit. Jadi sepertinya aku berada di tempat yang tepat untuk dirawat setelah kau melakukannya."


Robert menghela pelan mendengar jawaban pria muda di hadapannya ini.


"Mengapa kau ada di sini?" Robert bertanya pada pria muda di hadapannya ini, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


Pria muda itu, Nathan Jones, menatap lekat ke Robert sebelum kemudian ia dia menarik tas yang ada di bahunya dan menggantungnya di jarinya, menyerahkannya tepat di depan Robert.


"Aku datang untuk memberikan ini." ujar Nathan.


Robert menaikkan sebelah alisnya heran. "Apa ini? Kau datang sejauh ini hanya untuk membawa tas Jessica?"


"Sebenarnya aku hanya mencoba untuk mengembalikan tasnya padanya." ujar Nathan santai.

__ADS_1


Robert semakin menaikkan alisnya heran. Sementara Nathan berdiri dengan canggung. Ia kemudian batuk-batuk sebelum mencoba melihat ke pintu kamar Jessica.


"Yah, lagipula dia juga punya mantelku," jawab Nathan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku ingin mengambilnya darinya."


"Aku rasa mantelmu itu bahkan sudah terbakar saat kejadian di Kingdom waktu itu." kata Robert dengan ekspresi datar.


"Benarkah?"


"Jangan khawatir. Aku yakin kepala organisasi kita nanti akan mampu untuk mengganti atau bahkan membelikanmu mantel yang baru."


"Sayang sekali, tapi aku suka mantel itu," gumam Nathan menggedikkan bahunya santai. Nathan menatap Robert lekat kemudian menunjuk ke dalam kamar Jessica dengan dagunya. "Lalu bagaimana dengannya? Apa kondisinya baik-baik saja?"


Mendengar pertanyaan itu, Robert ikut menatap ke ruangan Jessica. Ia lalu menghela napasnya pelan.


Nathan mengangguk.


"Ya, aku tau. Aku rasa tadi aku mendengar sedikit perdebatan dari ujung tikungan lorong," Nathan berujar.


"Kau menguping?"


"Itu hanya pekerjaan orang iseng."

__ADS_1


"Dan?"


"Ya, seperti yang kau tau, aku ini bukan orang iseng. Jadi aku tak mungkin melakukan hal semacam itu."


"Kita tak pernah tau karakter orang." ejek Robert membuat Nathan terkekeh.


Nathan lalu terdiam selama beberapa detik sebelum melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku pikir untuk saat ini lebih baik bagimu menjauh sampai mereka selesai. Lalu di mana luka bakarnya?"


"Di kakinya. Tepat di kakinya." kata Robert pelan, raut penyesalan masih terlihat jelas di wajahnya.


Ia menyampirkan tali tas milik Jessica di bahunya. "Itu tidak buruk, tetapi dokter mengatakan kepada ku bawa Jessica pasti akan mempunyai bekas luka. Ya, dia beruntung karena tidak harus menjalani cangkok kulit."


Nathan bisa melihat dengan jelas kesedihan di wajah Robert. Ya, untuk seorang pria yang begitu tenang dan terkendali, aneh rasanya bagi Nathan melihat Robert menderita seperti itu. Agak aneh melihatnya dengan emosi lain selain kemarahan.


"Aku butuh secangkir kopi" kata Nathan kemudian. "Apakah kau ingin bergabung denganku?"


Robert membiarkan bibirnya tertarik ke atas dan tersenyum miring saat Nathan terlihat melipat tangannya di depan dadanya. Nathan menatapnya dengan tangan tatapan serius di wajahnya.


"Selain itu, sepertinya aku perlu berbicara denganmu tentang Dimitri."


"Aku rasa begitu. Aku ikut denganmu." jawab Robert kemudian.

__ADS_1


Robert dan Nathan kemudian mulai berjalan diam-diam melewati lorong sampai akhirnya mereka tiba di kantin rumah sakit.


***


__ADS_2