Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
127


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, terasa sangat menyedihkan bagi Jessica. Saat ini ia tengah berdiri di tengah upacara pemakaman Ibunya. Bibinya juga datang menemuinya.


Prosesi pemakaman di jaga ketat oleh beberapa agen untuk berjaga-jaga. Organisasi telah melakukan segalanya untuk menjaga kejadian yang telah terjadi agar menjadi rahasia. Itulah sebabnya pemakaman diadakan setertutup mungkin.


Robert juga muncul ke pemakaman bersama Jessica. Nathan sendiri sempat bertanya apakah Jessica juga menginginkannya di sana karena dia bisa mengambil cuti kerja. Jessica menolak dan dia bersikeras bahwa dia akan baik-baik saja dengan ayahnya. 


Kehilanga Katherine telah membuat Jessica diam untuk waktu yang lama. Robert tidak bisa menyalahkan siapapun. Ya, Maria telah menghabiskan bertahun-tahun untuk membesarkan anak mereka. Dia telah melakukan sebagian besar pekerjaan yang di lakukan oleh orang tua. Tapi sekarang dia akan selalu ada di sana untuk menggantikan Maria.. 


Dia harus selalu ada.


***


"Ayahmu pergi ke markas,"


Itu adalah kalimat pertama yang Nathan ucapkan begitu melihat Jessica saat gadis itu membukakan pintu rumah untuknya.


Dia tidak melihat Jessica selama beberapa hari ini. Nathan hanya sibuk dengan pekerjaannya di kantor sementara Robert dan Jessica pergi untuk liburan selama berminggu-minggu lamanya. Robert berpendapat kalau dia perlu membawa Jessica pergi liburan mengjibur diri atas semua yang terjadi padanya. Sejujurnya Jessica sudah memberi tahu ayahnya bahwa dia tidak perlu pergi kemana pun, tetapi ayahnya bersikeras.


"Kupikir dia akan pergi," kata Jessica dan bergerak maju untuk mengecup pipi Nathan. 


"Kami baru saja datang dari liburan." ujar Jessica kemudian menunjuk koper yang tergeletak di atas lantai. "Dia meletakkan kopernya begitu saja dan memberitahuku kalau dia punya urusan yang harus dikerjakan. Dia baru saja pergi. Apakah kau melihatnya saat perjalanan ke sini?"


Nathan terbatuk canggung dan menutup pintu rumah Jessica. Dia kemudian mengikuti Jessica ke kamar tidurnya, saat gadis itu mulai memindahkan koper ke atas tempat tidur. Jessica tengah mengeluarkan pakaiannya, memilah tumpukan pakaian kotor dan pakaian yang masih bersih.


"Dia semacam menyuruhku untuk datang kesini sekarang," Nathan berujar mengakui. "Ini sudah cukup lama kau terus bersama ayahmu sampai akhirnya dia bersedia meninggalkanmu sendirian."


"Ya, dia terus-menerus mengawasiku," kata Jessica terkekeh sambil memasukkan beberapa pakaian bersih ke dalam laci.

__ADS_1


Nathan harus kagum saat melihat Jessica yang bergerak dengan begitu mudahnya. Nathan tahu tentang tulang rusuknya yang memar dan juga paha yang dijahit. Nathan berpikir bahwa perlu beberapa saat sebelum Jessica bisa kembali normal secara fisik seperti saat Nathan terluka dahulu tapi ternyata tidak. Jessica kembali normal hanya dengan waktu yang singkat. Ya, walaupun secara mental Nathan tahu itu pasti akan memakan waktu lebih lama.


"Dia adalah ayahmu," jawab Nathan sambil mengangkat bahu acuh tak acuh. "Dia pasti akan berusaha menjagamu."


"Ya, aku tau."


Nathan lalu menggerakkan tangannya pada Jessica. Ia meletakkan jarinya-jarinya untuk melingkari dagu gadis itu dan mengarahkan pandangan Jessica untuk menatap padanya


"Semuanya akan menjadi lebih baik," Nathan berjanji padanya. "Aku bisa meyakinkanmu tentang itu, Jessica."


"Aku tahu," Jessica tersenyum kembali padanya dan mengusap lengan Nathan sebelum kemudian dia mulai membongkar kopernya lagi. "Ayah bilang dia akan segera kembali bekerja. Dia memberitahuku bahwa John akan segera diadili... yah... segera..."


"Ya," Nathan mengangguk singkat.


Sejujurnya, Nathan tidak tahu seberapa jauh dia harus membawa topik tentang John dengan gadis itu. Nathan sangat menyadari bahwa itu akan menjadi masalah sensitif untuk dibahas.


"Kau bisa membicarakannya, Nathan," ujar Jessica padanya. "Aku tidak keberatan. Huft... Ayahku bahkan menolak untuk menyebutkan apa pun tentangnya. Sejujurnya aku ingin tahu apa yang terjadi dengannya."


"Yah," Nathan berdeham dan dia membantu Jessica dengan mengambil celana lain dari koper untuk diletakkan di rak paling atas. "Dia akan diadili untuk berbagai macam kejahatan. Penculikan... pembunuhan... percobaan pembunuhan... kemungkinan dia akan mendapatkan kebebasan akan semakin tipis. Yah, tidak akan ada kesempatan,"


"Begitu rupanya..." Jessica mengangguk.


"Aku minta maaf karena aku tidak bisa memberi tahu kepadamu apa-apa lagi. Yah, aku telah berusaha untuk menjauh dari masalah ini."


"Dan ayah?" Jessica bertanya-tanya. "Aku bisa melihat dari cara dia menatapku sekarang. Aku...aku tidak bisa menjelaskannya... tapi... sepertinya dia melihat dirinya sendiri yang bertanggung jawab atas segala yang terjadi."


"Ya aku juga merasa itu karena dia" Nathan berujar blak-blakan. Tapi kemudian Nathan segera menggelengkan kepalanya saat melihat tatapan terkejut Jessica. 

__ADS_1


"Ah... aku tidak bermaksud seperti itu, Jessie. Maksudku, orang-orang itu membutuhkan orang yang bekerja di organisasi BIN untuk di manfaatkan. Dan ayahmu adalah orang yang bekerja di organisasi dan itu yang membuat kau terlibat. Itu karena ayahmu. Aku... aku tidak bermaksud apa-apa, Jessica. Aku hanya-"


"Tidak apa-apa," Jessica menggelengkan kepalanya, tidak ingin mendengarkan Nathan dan rasa kekhawatirannya. "Aku tahu maksud ucapanmu, Nathan."


"Pokoknya begitulah," kata Nathan. Ia lalu melakukan yang terbaik untuk mengubah topik pembicaraan dengan tergesa-gesa. "Apa yang kau lakukan selama liburan?"


Jessica mengangkat bahu dan meletakkan celana terakhir di dalam koper. Ia lalu mengusap debu yang terbentuk di meja samping tempat tidurnya.


"Tidak ada yang benar-benar istimewa," jawabnya. "Ayah memberiku makan begitu banyak sehingga aku bisa kembali ke hotel dengan keadaan kenyang. Dia membawaku ke semua restoran bagus di sana. Dia melakukan yang terbaik untuk mengalihkan perhatianku dari segala hal. Menurutku, dia berusaha terlalu keras untuk menghiburku. Dan kau... sepertinya kau pasti akan suka di sana. Itu penuh dengan banyak hal-hal yang harus dilihat."


Mengangguk, Nathan mengambil koper kosong yang baru saja ditutup oleh Jessica dan segera meletakkannya di atas lemari pakaiannya.


"Mungkin aku akan pergi ke sana suatu hari nanti," Nathan menjawabnya sambil tersenyum. "Mungkin kita bisa mencoba perjalanan sehari lagi di masa depan dan melihat apakah liburan yang ini juga berhasil?"


Jessica menggigit bibir bawahnya, tidak terlalu yakin harus berkata apa pada Nathan. Dia masih ingat bagaimana yang sebelumnya terjadi. Dan hal itu membuat ayahnya telah bertekat untuk melindunginya.


Ayahnya juga sempat memberitahunya bahwa dia akan melakukan yang terbaik untuk memutuskan koneksi Jessica dengan organisasi lagi. Dan ayahnya juga begitu, sepertinya cepat atau lambat ayahnya akan pensiun dari organisasi. Itu pasti akan membuat Jessica berada jauh dari Nathan.


"Mungkin," Jessica memilih untuk menganggukkan kepalanya setuju walaupun hatinya menolak karena tau kalau ia dan Nathan akan berpisah.


"Ngomong-ngomong, Nathan, apakah kau ingin makan atau apa? Ya, rumah ayahku ini entah kenapa tidak pernah punya makanan, tapi itu bukan hal yang aneh untukku sekarang. Aku selalu pergi ke toko untuk membelinya."


"Ah ya, benar. Kenapa kita tidak pergi keluar untuk makan?" Nathan bertanya-tanya padanya dan Jessica menatap Nathan ragu-ragu. "Tidak akan terjadi apa-apa, Jessica. Kita tidak perlu pergi ke tempat mewah atau semacamnya. Hanya rumah makan di dekat sini."


"Tidak, kedengarannya bagus, aku setuju," ujar Jessica mengangguk. "Tunggu sebentar, aku berganti pakaian dahulu.


Nathan mengangguk kemudian melangkah keluar dari kamarnya dan memeriksa kantong jaketnya untuk mencari dompet.

__ADS_1


***


__ADS_2