
Nathan menoleh pada Jessica saat mereka berjalan di sisi trotoar. "Kau pasti kedinginan."
"Tidak, aku baik-baik saja," ungkap Jessica padanya.
Jessica tidak memiliki kesempatan untuk protes saat tiba-tiba saja Nathan menyampirkan mantel miliknya di bahunya. Ia tersenyum pada gerakan Nathan yang tampaknya agak protektif. Jessica mengeratkan mantel itu dan berjalan di samping Nathan saat dia memasukkan tangannya ke dalam saku mantel milik pemuda itu, memasukkan ponselnya ke dalam mantel.
"Jadi... kau baik-baik saja sekarang?" Jessica memastikan perasaan Nathan. "Ck, teman-temanmu itu hampir tidak menyenangkan sama sekali. Mereka terus saja mempertanyakan situasi hubungan kita. Kupikir mereka sangat kasar padamu. Sebagian dari orang-orang itu benar-benar berkomentar yang tidak perlu."
"Hanya sebagian?" Nathan mengernyitkan alis geli.
"Yah, mungkin lebih dari mereka." Jessica mengakui kembali padanya, tiba-tiba langkah Jessica berhenti.
Nathan mengambil satu langkah lagi untuk bergerak maju sebelum kemudian dia juga ikut berhenti. Ia sebenarnya berharap kalau mereka bisa terus bergerak. Sebenarnya, berhenti seperti ini hanya akan memperburuk rasa sakit yang ia rasakan di tulang rusuknya.
"Ada apa?" Nathan bertanya padanya. "aku berasumsi ada alasan mengapa kau berhenti di tengah perjalanan seperti ini?"
"Tentu saja ada," jawab Jessica. "Aku...aku tidak tahu harus berkata apa. Maksudku...pada akhirnya itu adalah keputusanmu sendiri jika kau ingin terus bertemu denganku... atau... atau jika suatu hari kau benar-benar berpikir kalau hubungan kita tidak akan berhasil."
__ADS_1
"Apakah aku mengatakan bahwa aku tidak ingin bersamamu?" Nathan bertanya padanya.
"Kau memang tidak pernah mengatakan bahwa kau memang ingin bersamaku," jawab Jessica dengan nada muram. "Aku bahkan berpikir kalau kau tidak begitu menyukaiku."
Sambil menghela napasnya, Nathan bertanya-tanya berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk memahami gadis seperti Jessica. Bukankah Nathan telah membawanya keluar dari pesta. Ia membawa Jessica bersamanya. Awalnya Nathan pikir sudah jelas bahwa dia telah membuat keputusan tentang hubungan mereka tapi rupanya Jessica perlu diberitahu secara langsung.
"Kau tahu bahwa aku menyukaimu," kata Nathan padanya. "aku hanya ingin itu menjadi penjelasan yang terpenting untukmu. Aku tidak ingin memikirkan perbedaan usia, atau bagaimana kau harusnya tertarik pada pria tampan yang suka olahraga dan bukan orang bodoh sepertiku ini."
Sambil memutar bola matanya malas, Jessica mengambil langkah mendekat ke arah Nathan. Ia memberanikan diri menggerakkan tangannya untuk meraih wajah Nathan.
"Kau tahu bahwa kau tampan, bukan?" Jessica memastikannya. "ya, aku akui kau hampir tidak menarik, Nathan. Tapi entah kenapa aku merasa kau cukup menawan."
Sambil tertawa, Jessica merasa sulit menahan diri untuk tidak menggerakkan tangannya ke rambut pemuda itu. Nathan menelan ludahnya dengan kasar saat Jessica mulai mendekat ke arahnya. Nathan bisa merasakan tubuh Jessica yang semakin mendekat dan menekan tubuhnya. Dan dia tidak bisa berpura-pura kalau dia tidak merasakan sesuatu gairah mengalir di tubuhnya
"Itu sebuah pujian," kata Jessica. "Kau baru mengenal sebuah hubungan... yah... aku juga, kurasa. Meskipun aku sudah menjalin hubungan dengan banyak orang. Tapi kaulah satu-satunya yang benar-benar aku inginkan, Nathan."
Nathan menarik napas dalam-dalam lagi dan dia bertanya-tanya kenapa denyut nadinya berdetak jadi lebih cepat sekarang. Bagaimana mungkin dia bisa merasa begitu hangat dan sepertinya wajahnya sudah memerah sekarang. Nathan tidak tahu, tetapi berada sedekat ini dengan Jessica tanpa melakukan apa pun adalah sesuatu yang dia sulit untuk diatasi.
__ADS_1
Nathan akhirnya dengan cepat menundukkan kepalanya ke bawah, membuat gadis itu merasa agak terkejut saat Nathan tiba-tiba saja menempelkan bibirnya sendiri ke bibir Jessica.
Jessica bahkan hampir tersedak oleh gerakan tiba-tiba itu. Kekuatan dari Nathan membuatnya lengah seketika. Dan detik selanjutnya Jessica segera memimpin ciuman, mengetahui bahwa Nathan tidak terlalu yakin tentang apa yang harus dilakukan. Karena pemuda itu tidak memiliki pengalaman atas hal seperti ini. Jessica bisa merasakan sebelah tangan Nathan yang tak sakit kini berada di pinggulnya dan dia segera meletakkan tangannya di bahu Nathan.
Jessica tidak yakin sudah berapa lama mereka berdiri di sana untuk melakukan ini. Dia merasa kalau Nathan juga berpikiran seperti itu. Tapi pemuda itu tampaknya tidak terlalu peduli.
Mereka hanya saling menarik diri masing-masing ketika mereka menyadari bahwa mereka kehabisan napas dan memerlukan udara untuk bertahan hidup.
"Yah, itu bagus," ujar Nathan akhirnya, ia tampak terengah-engah, "ngomong-ngomong kau terlalu kuat menekan tangannku dengan tubuhmu."
Nathan menunjuk tangan lain yang saat ini masih di bantu sebuah penyangga yang di kaitkan di lehernya. Jessica menutup mulutnya.
"Astaga, aku tak sadar, maafkan aku!"
"Sebenarnya tak masalah." ujar Nathan menggeleng, saat di detik selanjutnya dia mulai berjalan lagi.
Jessica mengangguk dan tersenyum. Ia perlahan merangkul melalui lengan Nathan yang bebas dari penyangga. Jessica lalu menoleh ke atas untuk melihat ke langit yang gelap. Hatinya tiba-tiba bertanya-tanya di mana ayahnya berada pada saat itu.
__ADS_1
Suasana hatinya berubah memburuk sesaat setelah dia berdoa agar ayahnya itu selalu dalam keadaan baik-baik saja dan segera pulang. Jessica memejamkan mata dan fokus pada rangkulan lengannya pada lengan Nathan. Ia benar-benar membutuhkan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya sebelum akhirnya dia nanti menjadi gila karena merasa terlalu khawatir.
***