
"Kau akan pergi?" tanya Jessica.
"Ya,"
"Kemana ayah akan pergi kali ini?" tanya Jessica lagi.
Jessica menatap ayahnya. Ini sudah dua minggu berlalu setelah Nathan masuk rumah sakit. Robert akhirnya berhasil membawa anak gadisnya itu pergi menjauh dari Nathan setelah sebelumnya Jessica selalu menolak jika di minta pergi agak jauh dari Nathan. Robert membawanya pulang dan kembali tinggal di rumah milik Robert.
Nathan sendiri kabarnya sudah keluar dari rumah sakit, tapi dia masih mengambil cuti pemulihan sakit. Tulang rusuknya masih terasa sakit setiap kali dia bergerak. Itu membuat Nathan sulit untuk melakukan apa pun, tetapi Nathan sudah bisa mengatasinya sendirian.
Robert telah menghabiskan beberapa waktu di rumah ini dengan Jessica, menjaga anak gadisnya itu tetap berada di dekatnya dan menunjukkan lebih banyak pemandangan di sekitar kota Jakarta. Dan Robert sendiri telah meminta cuti dua minggu dan itu telah diberikan oleh organisasi.
"Ayah, aku bertanya kemana ayah akan pergi?" Jessica melipat kedua tangannya di depan dada.
"London," jawab Robert kepada putrinya sambil terus berkemas. "Aku punya misi di sana."
"Jenis misi apa?" Jessica menaikkan sebelah alisnya, bertanya-tanya dengan raut penasaran. Dia tetap berdiri di ambang pintu, dengan santai bersandar pada bahan kayu sambil menunggu jawaban dari ayahnya.
"Satu yang akan ayah katakan padamu ketika ayah kembali bekerja," jawab Robert sambil mengambil beberapa buah dasi dari dalam laci. "Ayah sempat berpikir bahwa akan lebih baik bagimu untuk kembali ke Singapura dan-"
"Tidak," potong Jessica dengan suara tegas. Dia sontak dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan kembali ke Singapura."
"Ibumu terus menelepon, Jess," Robert kembali mengingatkannya. "Kau hanya punya beberapa kali kesempatab untuk bisa menghindarinya, tapi tidak selamanya."
Mata Jessica turun untuk menelusuri perban putih di kakinya. Kali ini Jessica mengenakan celana pendeknya. Dia melakukan itu untuk tetap menjaga dirinya tetap merasa dingin di udara musim panas yang hangat.
Mau tak mau dia berpikir bahwa luka bakar itu adalah penyebab utama atas pertengkarannya dengan ibunya. Jika kakinya itu tidak terbakar maka dia tidak akan pernah dirawat di rumah sakit dan ibunya tidak akan pernah datang untuk mengunjunginya dan ibunya itu tidak akan berdebat dengannya.
"Terakhir kali aku mencoba menelepon untuk bicara dengannya… " kata Jessica terpotong, "dia malah mengomeliku… ya… John ada di belakangnya saat itu… dan aku… aku tidak ingin melanjutkan percakapan dengannya. Dan aku juga memutuskan kalau aku tidak ingin berada di dekatnya. Tidak, jika John masih ada di sana."
__ADS_1
Robert menghela napas dan mengusap rambut pirang gadis itu dengan tangannya. Dia menoleh ke samping saat dia selesai berkemas dan dia melihat Jessica menggigit bibir bawahnya.
Sifat gugup Jessica yang biasanya.
"Ayah tidak ingin kau di sini sendirian," Robert memberitahunya, suaranya dalam. "Rumah ibumu akan menjadi tempat terbaik untukmu."
"Yah, aku tidak setuju," jawab Jessica. "Aku akan baik-baik saja di sini. Lagi pula, aku harus terbiasa sendirian lagi, kan? Lagipula ayah dan ibu tidak akan ada di sana saat aku kembali ke Singapura."
"Memang tidak, tapi bukankah kamu punya teman flat," kata Robert. "Dengar, aku akan meminta Nathan memeriksamu di sana. Bisa?"
"Nathan bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri," jawab Jessica sinis, ia melangkah masuk ke kamar ayahnya saat dia melihatnya menjatuhkan salah satu pakaiannya ke atas lantai. Dia membungkuk untuk mengambilnya dan melipatnya dengan rapi untuk ayahnya itu. "Aku pergi ke rumahnya tadi malam dan dia hampir tidak bisa bangun dari kursinya."
"Anak itu tidak akan bertahan seharian di lapangan," gerutu Robert pada dirinya sendiri.
"Mungkin tidak," Jessica dengan kaku setuju. "Tapi aku selalu bisa pergi ke tempat Nathan. Aku ragu dia akan keberatan."
"Aku akan tidur di sofa," kata Jessica dengan kaku. "Aku akan baik-baik saja. Ayah tidak akan pergi terlalu lama, kan?"
Robert menarik napas dalam-dalam dan menggelengkan kepalanya. "ayah harap tidak."
"Kalau begitu semuanya akan baik-baik saja," kata Jessica, membantu menutup ritsleting tas dan menyerahkannya pada sang ayah.
Robert meraih dan meletakkan tas itu di atas bahunya, dia lalu menepuk-nepuk jas hitam yang dikenakannya, memperbaiki bagian yang tampak sedikit kusut.
Dia mendorong rambut Jessica ke belakang telinganya saat dia tersenyum lembut padanya, mencoba menenangkan anak gadisnya itu.
"Pergi ke rumah Nathan sebelum malam tiba," dia menuntut darinya. "Kau kirimi ayah pesan teks segera setelah kau sampai di sana."
"Mengerti."
__ADS_1
"Aku akan meneleponmu jika ada kesempatan," kata Robert.
Robert bisa melihat betapa khawatirnya Jessica saat ini. Dia hanya berharap dia bisa memberitahu gadis itu bahwa dia tidak punya alasan untuk khawatir.
"Ayah tidak akan bertemu Dimitri," bisik Robert dan matanya kembali menatap Jessica.
"Bagaimana ayah tahu?" bisiknya, suaranya bergetar. "ayah, dia bahkan masih di luar sana, di suatu tempat."
"Dan ayah bisa menanganinya," Robert berjanji padanya, mencium keningnya saat dia pindah ke pintu dan Jessica masih menatapnya.
"Aku rasa aku lebih suka jika ayah bekerja untuk Kementerian Pertahanan saja," Jessica memberitahu ayahnya dan senyum miring terbentuk di wajahnya yang pucat. Robert menoleh untuk melihat kembali pada Jessica.
"Kadang-kadang saya pikir saya juga akan melakukannya," Robert meyakinkannya. "Jadilah anak baik selama ayah pergi."
"Ayah," panggil Jessica, bergegas keluar dari kamar saat dia berdiri di dekat pintu depan. Dia melipat tangannya di depan dada dan menggigit lidahnya. Dia melakukan yang terbaik untuk memikirkan sesuatu yang masuk akal untuk dikatakan sebelum dia mengatakan sesuatu padanya.
Robert memiringkan alisnya, menunggu dengan sabar untuk perkataan anaknya.
"Hati-Hati." ujar Jessica dan Robert membalas dengan senyuman dan mengangguk.
"Ayah akan melakukan yang terbaik. Sampai jumpa, Jessie."
"Sampai jumpa."
Jessica mendengar pintu ditutup, bunyi 'klik' dari kunci terdengar saat Jessica menguncinya. Dia bergegas ke jendela ruang tamu dan melihat ayahnya melangkah di jalan. Dia meletakkan tangan ke ambang jendela saat dahinya jatuh ke kaca yang dingin.
Jessica tidak bisa tidak berpikir bahwa ayahnya akan mengejar Dimitri. Bahwa dia pasti akan mengejar pria yang telah menyebabkan mereka begitu menderita. Jessica telah diberitahu bahwa Dimitri telah menghilang. Dia pikir itu akan menenangkan hatinya. Tapi tidak, Jessica baru akan merasa tenang jika dia tahu bahwa Dimitri tidak akan bisa muncul kembali… selamanya.
***
__ADS_1