
Nathan bergerak mundur untuk bersandar di bantal tidurnya. "Ya?"
"Yah, seingatku aku masih berhutang traktiran minuman padamu," Jessica mengingatkannya.
"Traktiran?"
"Benar. Apa kau lupa?"
"Tidak, aku tidak lupa. Tapi masalahnya aku tidak minum alkohol," kata Nathan pada gadis itu. "Itu akan membuat konsentrasiku agak terganggu. Lagipula itu juga bukan minuman yang sehat, kan?"
"Ya, kau memang benar. Tapi aku tetap menyukainya."
"Benar, alkohól sudah menjadi rutinitasmu sewaktu masih di Singapura, bukan?"
Jessica mengangguk.
"Yah, aku rasa kita tidak akan memiliki banyak kesamaan," jawab Jessica menunduk, berusaha sebaik mungkin agar nada bicaranya tetap ringan. Dia tahu bahwa dia akan menjadi gila jika dia tidak mencoba santai. "Kurasa kau memang tidak suka berpesta, ya."
"Tidak sedikit pun," kata Nathan padanya sambil menggelengkan kepalanya. "Bagaimana jika kita tak minum alkohòl?"
__ADS_1
"Lalu?"
"Hm. Aku menyarankan duduk dengan secangkir kopi atau teh sambil menonton televisi atau berbicara dengan kucing peliharaanku. Dirumahku?"
"Tunggu dulu! Kau punya kucing?"
"Punya, tentu saja punya."
"Astaga, aku tidak tahu kau punya kucing," jawab Jessica terkejut.
"Milly" Nathan memberi tahu Jessica. "Dia tidak terlihat waktu itu karena dia selalu menghabiskan sebagian besar waktunya di luar rumahku, sejujurnya. Dan aku yakin kalau dia pasti akan sangat cemburu jika mengetahui bahwa ada wanita lain yang telah menawarkan untuk mentraktir aku minum."
Mereka berdua kemudian tertawa bersama membayangkan jika kucing itu benar-benar marah pada Jessica.
"Aku pikir dia mungkin akan marah" ujar Nathan sambil menganggukkan kepalanya setuju. "Ah, selain itu, ketika kita berhasil keluar dari kekacauan ini, sepertinya aku harus membawamu kembali ke Galeri Nasional untuk menunjukkan kepadamu arti sebenarnya dari lukisan."
"Ah... aku mohon jangan," Jessica tertawa kecut. "Aku bahkan tidak mengerti mengapa kami pergi ke sana sejak awal. Tak ada satupun dari kami mengerti tentang gambar-gambar itu. Ayahku bahkan benci lukisan."
"Ayahmu membenci seni. Dan kuharap itu bukan sifat buruk yang kau ambil darinya." Nathan mengejeknya dan Jessica langsung memukul lengannya dengan pelan.
__ADS_1
"Jangan mengejekku, oke! Asal kau tau, aku suka beberapa seni," Jessica meyakinkannya, ia melipat kakinya dirinya saat dia duduk di kursi. "Aku bahkan suka melihat-lihat beberapa rumah tua."
"Bukankah itu masuk dalam hal horor?" tanya Nathan.
Jessica berdecak, "Ck, tentu saja bukan."
"Itu satu hal yang baik kalau begitu," kata Nathan menganggukkan kepalanya pada Jessica. "Mungkin itu satu hal yang bisa kita lakukan bersama. Kau bisa membelikan aku minuman dan aku bisa mengajakmu berkeliling rumah tua."
"Kupikir kau tidak ingin berkencan denganku," jawab Jessica pada Nathan. "Kau bilang kau tidak tahu apa yang kau rasakan."
"Ya, memang tidak," kata Nathan. "Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya...tapi...yah...aku tahu bahwa aku memang menyukaimu."
Jessica tersenyum dengan lembut. Ia menggenggam tangan Nathan erat-erat saat dia mendengar pemuda itu berbicara seperti itu padanya. Dia bisa merasakan ada yang bergejolak di hatinya. Dan sudah lama dia tidak merasakan perasaan seperti itu dalam hidupnya.
"Aku juga menyukaimu," jawab Jessica berbisik.
Nathan tersenyum ketika dia mendengar jawaban dari gadis itu. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia hanya tersenyum dan mereka tenggelam dalam keheningan...
***
__ADS_1