Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
71


__ADS_3

Jessica merasa lega saat mendengar suara Nathan melayang ke telinganya. Dia bersandar lebih jauh ke belakang di kursi dan bermain dengan ujung jaketnya.


"Kau baru saja berangkat kan?" tanya Nathan.


"Ada apa?" Jessica bertanya-tanya dengan nada heran, menoleh pada ayahnya.


Robert mengangguk dan mengelus dagunya. Ia bertanya-tanya apa yang diinginkan anak laki-laki itu dari putrinya sekarang. Nathan menjadi terlalu terlibat dalam kehidupan Jessica untuk hal yang tak di sukai Robert.


"Kau harus turun dari kereta itu sekarang," kata Nathan padanya. Pria muda itu mondar-mandir di sekitar ruangan kantor organisasi saat dia menelepon gadis itu.


Alis Jessica berkerut saat dia melihat ayahnya. Dan Robert tahu ada yang tidak beres. Dia bergerak dengan tergesa-gesa, meraih telepon dari tangan Jessica dan menempelkannya ke telinganya.


"Ada apa, Nathan?" Robert bertanya padanya.


"Saat ini aku sedang ada di kantor kita. Aku melihat Dimitri di CCTV stasiun dan aku langsung ke kantor untuk menyelidiki apa yang dia lakukan."


"Dan?"


"Robert, Dimitri memasang semacam bom di barisan depan. Itu sebabnya keretanya sempat ditunda beberapa saat yang lalu. Kau baru saja berangkat jadi kau harus turun sekarang juga."

__ADS_1


"Berapa banyak waktu yang kita punya?"


"Sekitar lima menit," kata Nathan, "... dan akan terus berkurang."


Robert segera berdiri dari posisinya. Ia bergerak dengan tergesa-gesa, memasukkan barang-barangnya kedalam tas. Ia lalu membuang cangkir kopinya ke tempat sampah yang ada di samping kursi.


Jessica yang terkejut melihat gerakan tiba-tiba sang ayah langsung menatap ayahnya itu.


"Ada apa, ayah?" Jessica bertanya-tanya.


Robert tak menjawab dan malah mengulurkan sebelah tangannya pada Jessica. Ia memindahkan ponsel tadi ke telinganya kirinya dengan tangannya yang lain sambil menatap ke kanan dan ke kiri. Ia harus menghentikan kereta ini entah bagaimana caranya. 


"Ikutlah denganku," Robert menarik tangan Jessica. "Ayo, cepatlah!"


Jessica yang sejak tadi hanya menatap uluran tangan Robert dengan cepat langsung meraih tasnya dan memasangnya ke bahunya. Sambil meraih tangan ayahnya, dia berjalan dengan langkah yang tertatih-tatih di belakang sang ayah, mengikuti lelaki itu yang kini bergerak lebih jauh ke bagian depan kereta.


"Kita harus mendatangi teknisi keretanya. Mereka perlu diberitahu. Nathan, apakah ada yang bisa kau lakukan?"


"Dia melakukan sesuatu pada kendali keretanya, Robert. Keretanya macet di kecepatan enam puluh tujuh mil per jam," keluh Nathan, berusaha sekuat tenaga untuk mengubah jalur kereta melalui komputernya. Nathan menggelengkan kepalanya saat menyadari bahwa cara itu memang tidak ada gunanya. "Kau harus turun dari kereta, Robert! Hanya ini satu-satunya cara agar kau selamat."

__ADS_1


"Dan bagaimana kau bisa menyarankan aku untuk melakukan itu?" Robert menggeram.


Robert menoleh ke belakang, tangannya masih memegang erat pada tangan Jessica, menyeretnya dari belakang. Kereta itu penuh dengan orang-orang yang menutup jalannya dan ia mencoba yang terbaik untuk tidak menabrak siapapun. "Apa ada jalan keluar untuk kami?"


"Kau carilah celah yang cukup untukmu." saran Nathan.


"Ada pintu di sini. Tapi ini bukan jendela besar. Aku akan lewat pintu itu nanti, saat ini aku harus lebih dahulu memberitahu teknisi."


"Robert, tak ada waktu! Kau harus keluar dari kereta itu sekarang." Nathan berteriak di sambungan telepon.


"Aku akan melanjutkan sebentar." Robert berkata dan memasukkan ponsel Jessica ke dalam sakunya, mengabaikan Nathan yang masih ada di sambungan telepon.


Dia akhirnya masuk ke gerbong tempat teknisi kereta berada dan menggedor pintu. Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu berbalik di tempat duduk mereka. Mereka menatap heran pada Robert dan bertanya-tanya atas apa yang terjadi. Merasa ini terlalu membuang waktu Robert menghela nafasnya kasar dan tahu apa yang harus dia lakukan saat ini.


"Ayah," gumam Jessica pada sang ayah. "Apa yang sedang kau lakukan?"


"Hal besar," jawab Robert, sambil menarik pistol keluar dari ikat pinggang celananya. Kemudian…


DOR!

__ADS_1


__ADS_2