Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
30


__ADS_3

Jessica terus menatap wajah ayahnya untuk sejenak. Saat itulah Robert juga ikut memperhatikannya untuk beberapa saat. Robert tahu betul apa yang akan anak gadisnya itu katakan. Ya, Robert sudah belajar untuk membaca sikap anak gadisnya itu sejak pertama kali dia bertemu dengannya.


"Aku tahu kenapa kau tidak pernah mencoba untuk memberitahuku. Aku tau hal seperti ini adalah rahasia negara." Jessica berujar pada sang ayah.


Jessica kemudian melanjutkan kalimatnya sambil menyandarkan punggungnya ke dinding beton yang ada di dekatnya. "Aku mengerti alasannya, ayah...tapi...aku hanya merasa sedikit terluka karena kau tidak memberitahuku. Aku terluka karena ternyata kau tidak cukup percaya padaku?"


Robert bisa melihat ekspresi terluka di mata sang anak. Robert menghela napasnya panjang dan menggelengkan kepalanya.


"Apa yang kau katakan Jessica. Tentu saja ayah percaya padamu," jawab Robert sambil menyentuh kedua bahu ayahnya. "Ayah hanya berpikir akan lebih baik jika kau tidak tahu. Ayah pikir itu akan jauh lebih aman bagimu. Kau tahu kalau selama ini ayah bahkan telah berusaha memastikan tidak ada yang tahu sama sekali mengenai hubungan di antara kita. Itu ayah lakukan agar kau selalu aman."


"Aku bisa mengerti itu," Jessica berujar sambil tersenyum pada Robert. "Aku juga berterima kasih untuk itu. Tapi sejujurnya, aku hanya berharap kalau ayah akan memberitahuku semuanya daripada ayah menghabiskan seluruh waktu dengan berbohong padaku seperti ini."


"Itu karena ayah merasa kebohongan akan lebih mudah untuk dilakukan." Robert mencoba untuk menjelaskan. "Lagipula, apakah kau akan berpikir kalau ibumu itu akan membiarkan ayah mendekatimu lagi jika dia tahu siapa ayah sebenarnya?"


Jessica menggigit bibir bawahnya, mengalihkan pandangannya dari mata sang ayah. Mencoba untuk menjaga ketenangan hatinya meskipun ia merasa kesal.


Ia kemudian mengangguk. "Ya, aku rasa ibu memang tak akan membiarkan itu."


"Jessica, ayah tahu kalau ayah bisa memberitahu dirimu nanti, mungkin saat kau bertambah dewasa nanti. Tapi ayah rasa akan lebih aman jika ayah terus berbohong. Dan ayah sama sekali tidak pernah bermaksud membuat kau sampai terluka karena hal ini." ujar Robert lirih. "Ayah bisa mengerti sepenuhnya jika kau merasa sangat marah pada ayah karena masalah ini."


"Ya, aku memang marah." Jessica berujar ketus pada sang ayah. "Dan kemarin ketika Nathan dan Marie memberi tahu ku tentang semua ini, aku tidak ingin melakukan apa pun selain ingin menghabisi ayah dengan tanganku sendiri. Aku hanya kesal kenapa aku harus tau tentang hal mengerikan ini dari orang lain."


Robert tersenyum kecil. "Ayah benar-benar minta maaf sayang. Dan ayah harap kemarahan itu telah mereda sekarang," kata Robert, senyuman kecil masih terlihat di wajahnya.


"Ck, jangan terlalu yakin." ujar Jessica dengan sinis. "Aku bisa menghabisi ayah di sini… sekarang juga."

__ADS_1


Robert terkekeh. "Tapi ayah yakin kalau ayah bisa membawamu pergi berbelanja pasti itu bisa membantu ayah agar tetap hidup di tanganmu," canda Robert pada anak gadisnya itu sambil meletakkan kedua tangannya di pipi Jessica.


"Bagaimana?" tanya Robert kemudian.


Jessica menatap mata sang ayah, barulah kemudian dia menghela nafasnya dengan kasar dan menutup matanya pasrah.


"Baiklah! Itu bisa sedikit membantu," akhirnya Jessica menjawab sambil membuka matanya.


Ia tahu betul bahwa dia memang tak akan bisa marah pada ayahnya itu. Jessica berpikir dia telah melakukan hal yang benar dengan tidak lanjut membenci atau marah pada sang ayah. Jessica mengakui, pada awalnya dia memang merasa sangat marah, kesal dan juga benci karena kebohongan besar sang ayah padanya. Jessica mengakuinya. Tapi perlahan ia akan mencoba menerima ini.


Robert mencium pucuk kepala Jessica sebelum kembali mengelus rambut dari anak gadisnya itu. Dan menyisir rambut gadis itu ke belakang telinganya.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Jessica pada sang ayah.


"Ayah akan menemuinya?"


Robert menganggukkan kepalanya. "Ya. Kau bisa tinggal di sini atau ikut dengan ayah dan menunggu di luar penjara tempat Dimitri ditahan."


"Aku pikir aku lebih suka tinggal di sini saja," kata Jessica canggung. Saat ini ia hanya tidak ingin dirinya berhubungan dengan apapun yang menyangkut tentang pekerjaan sang ayah.


"Baiklah…ayah yakin Nathan tidak akan keberatan untuk mengasuhmu lebih lama lagi." ujar Robert.


"Bicara tentang Nathan, aku merasa seharusnya ayah tidak bersikap terlalu keras pada Nathan. Dia sudah menyelamatkan hidupku, ingat?" Jessica memberitahu Robert.


"Ayah tidak merasa sudah berbuat kasar padanya." jawab Robert, mencoba membela diri. "Dan ayah juga berpikir kalau bukan dia yang membuatmu tetap hidup, melainkan kau yang membuatnya tetap hidup. Kalau bukan karena menyelamatkanmu, dia pasti sudah akan tertembak karena dia itu sangat lamban.."

__ADS_1


"Aku tidak akan mengatakan apapun lagi," jawab Jessica mengangkat kedua tangannya, memilih menyerah pada ayahnya yang tampaknya  memang kurang suka pada Nathan.


"Tapi ayah baik-baik saja, kan?" tanya Jessica lagi pada sang ayah. "Orang yang menyerangku waktu itu benar-benar mengerikan. Dia tampak sangat berbahaya."


"Ayah baik-baik saja. Tidak ada yang tidak bisa ayah tangani. Dan Jessica, ini adalah resiko dari tugas ayah untuk ditembak oleh seseorang. Dan harusnya bukan kau yang di todong malam itu. Ayah benar-benar minta maaf padamu."


"Berhenti meminta maaf ayah, karena sekarang aku dalam keadaan baik-baik saja. Aku hanya ... apakah ayah tahu betapa tidak nyatanya semua ini bagi ku?"


"Ya, ayah bayangkan saja! Saat itu aku bahkan tidak mengetahui bahwa ayahku ternyata adalah seorang mata-mata. Dan di saat penyerangan itu terjadi, bahkan tidak ada yang memberitahu aku tentang bagaimana aku harus bereaksi. Aku tidak tahu bagaimana rasanya atau apa yang harus aku lakukan saat itu. Karena toh, saat itu aku bahkan tidak tau apa yang terjadi. Aku tidak tau kenapa orang itu mengejarku." ujar Jessica panjang lebar.


"Ya, maksudku… karena aku tidak tau siapa ayah yang sebenarnya. Jadi aku tak punya persiapan apapun saat itu." lanjutnya.


"Kau sekarang bisa lebih tenang, Jess. Kau akan merasa seperti hari-hari biasanya," Robert berujar pada anak gadisnya itu. "Dan juga sekarang kau tidak melakukan apa-apa karena ayah akan membuatmu tetap aman sekarang karena ayah ada di sini."


"Ya, aku tahu," jawab Jessica dan sekali lagi Robert mencium pucuk kepala gadis itu. Robert tidak percaya betapa beruntung anak gadisnya ini karena dia tidak sampai terluka. Ya, meskipun apa sedikit goresan kecil pada wajahnya. Tapi Robert tetap merasa lega. Dia tidak yakin apakah dia bisa melupakan perasaan lega yang dia rasakan saat ini.


"Baiklah, kau kembali ke ruangan tadi dan ayah akan datang kembali kesini sebentar lagi."


"Ya, ayah."


"Dan juga… kau minta pada Nathan untuk cepat bawa laptopnya pada ayah." ujar Robert pada Jessica yang sudah melangkah meninggalkannya.


"Aku tidak akan mengatakan apa-apa padanya," ujar Jessica tersenyum pada ayahnya dan masuk kembali ke ruangan tadi.


***

__ADS_1


__ADS_2