Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
50


__ADS_3

Kembali terdengar suara tembakan dari salah satu ruangan di rumah itu. Jessica meringkuk ketakutan mendengar suara tembakan itu. Ia khawatir. Seumur hidupnya Jessica tak pernah mengalami situasi yang mencekam seperti ini.


Bahkan insiden bersama Nathan waktu itu sama sekali tak sebanding dengan situasi saat ini. Namun di detik berikutnya Jessica mengangkat kepalanya dan melihat ke area sekitarnya hanya untuk memastikan dugaannya.


Sebenarnya ia menduga suara bantingan pintu dan juga tembakan itu adalah ulah dari ayahnya. Jessica terus melihat ke sekelilingnya untuk mencari tanda-tanda dari ayahnya.


Tapi apa benar itu adalah ayahnya? Atau Jessica saja yang terlalu berharap. Apakah ia harus senang jika ayahnya datang untuknya. Jessica benar-benar merindukan ayahnya namun di lubuk hatinya yang terdalam, sejujurnya ia berharap agar ayahnya tidak datang untuknya. Jessica ingin ayahnya menjauh saja agar tetap aman.


Dimitri berdiri di luar ruangan tempat dia meninggalkan Jessica. Ia menduga suara tembakan tadi memang berasal dari Robert. Sebuah granat kecil berada di tangannya saat dia menunggu Robert memasuki ruangan itu. Baru setelah itu dia berencana akan membuang granat itu dan melihat rumah itu hangus terbakar.


Robert memang sudah berhasil selamat dari tembakannya dan anak buahnya. Tapi Dimitri tidak akan membiarkan Robert selamat untuk yang kedua kalinya.


Dimitri memberi tanda pada sisa anak buahnya untuk membakar rumah itu. Anak buahnya mengangguk dan mulai membakar seisi ruangan yang ada di rumah itu, termasuk ruangan dimana Jessica berada.


Bagi Dimitri menggunakan Jessica adalah satu-satunya cara yang tepat untuk memancing Robert keluar. Karena Robert pasti akan berusaha untuk mencari anaknya itu apapun yang terjadi.


Tak lama kemudian, dugaan Dimitri terbukti benar.


"Jessica!" Robert berteriak saat rumah itu perlahan terbakar. Dia terbatuk sekali sebelum beralih ke dapur. Itu adalah ruang terakhir untuknya mencari tanda-tanda keberadaan dari putrinya.


Sebelumnya dari tempat persembunyiannya, Robert melihat dengan jelas saat Dimitri menyeret Jessica dan membawa anak gadisnya itu ke dalam rumah dan itu adalah terakhir kalinya dia melihat Jessica tadi.

__ADS_1


"Tidak!" Jessica berteriak keras dari arah gudang yang ada di dekat dapur. "Ayah! Pergi! Ini jebakan!"


Robert sama sekali tidak peduli dengan jebakan. Dia telah mengatur beberapa hal untuk melindungi diri dari mereka.


Dan begitu Robert menginjakkan kakinya di gudang dekat dapur, dia mendengar suara tembakan melalui jendela. Dia merunduk dan berlari melewati mereka sebelum dia mendengar suara ledakan granat.


Duarrr!


Ledakan granat itu berhasil menghancurkan hampir seisi ruangan dari rumah itu. Robert menggeram kesal. Ia lalu mendorong sebuah meja yang ada di tengah ruangan dan membaliknya agar bisa bersembunyi di balik meja itu.


Robert kemudian dengan gerakan cepat melindungi Jessica dengan tubuhnya sendiri, saat api mulai menjalar ke meja lapuk itu.


Robert bergerak dengan tergesa-gesa dan meraih putrinya, menariknya ke dalam pelukannya. Api terlihat semakin membesar. Dan itu membuat Robert sadar kalau ia harus cepat. Setelah itu Robert melepaskan ikatan tali yang ada di pergelangan tangan Jessica.


"Apa ini?" Jessica bertanya-tanya saat Robert meletakkannya di lubang kecil yang ada di salah satu ruangan, mencoba melindungi anak gadisnya itu dari api.


Robert merunduk dan kembali melepaskan ikatan di pergelangan kaki Jessica.


"Ini adalah pintu keluar rahasia," kata Robert. "Kau tunggu ayah di sini, Jessica."


"Apa yang akan ayah lakukan?" Jessica bertanya khawatir.

__ADS_1


"Aku akan melakukan apa yang Dimitri ingin aku lakukan. 'Membakar' rumah ini," jawab Robert dan Jessica tidak punya pilihan selain mengangguk. Ia melihat ayahnya yang saat ini tengah berlari ke dalam rumah.


Sesaat setelah itu, Jessica mendengar lebih banyak suara tembakan. Sebelum kemudian terdengar suara bantingan dari dalam ruangan dan Jessica bersembunyi di sudut. Ia takut aka tertangkap oleh orang-orang jahat itu.


Kemudian dengan gugup Jessica keluar dari tempat persembunyiannya, mencoba mencari tanda-tanda dari ayahnya.


Dan Jessica dapat melihat dengan jelas saat ayahnya kini bergegas kembali ke tempat itu, dan memegang tangannya.


"Kita harus pergi," desak Robert.


Robert kemudian melangkah dengan cepat, memimpin jalan untuk menyusuri lorong, sambil sesekali menoleh kebelakang, memastikan apakah Jessica masih mengikutinya. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, matanya membulat ketika dia mendengar suara ledakan dari arah atas.


Robert menoleh ke belakang dan Jessica melakukan hal yang sama, rasa takut muncul di dalam diri Jessica.


"Lari!" Robert berseru tiba-tiba dengan nada memerintah.


Jessica melakukan seperti apa yang dikatakan ayahnya. Ia berlari dengan tergesa-gesa di belakang Robert saat tiba-tiba dia merasakan panasnya api semakin dekat dengan punggungnya.


Robert dengan gerakan cepat kemudian melompat ke sudut yang tersembunyi untuk berlindung dari ledakan. Ia langsung menarik Jessica bersamanya, namun…


"Akkkhhhh!"

__ADS_1


"Jessica!"


***


__ADS_2