
Sore harinya, Robert diminta oleh Jessica untuk pergi mencari Nathan. Anak gadisnya itu terus bertanya dimana Nathan dan hal itu mulai membuat Robert kesal.
Ia memutuskan untuk mulai mencari Nathan. Ya, tidak sulit bagi Robert untuk mengetahui dimana pemuda itu berada. Robert sangat yakin kalau Nathan pasti akan memilih untuk pergi ke kantin rumah sakit untuk memesan teh atau kopi.
Begitu tiba di kantin rumah sakit, Robert langsung mengedarkan pandangannya, menatap seluruh area kantin dan benar saja, ia bisa melihat Nathan yang saat ini sedang duduk di pojok kantin sambil menikmati segelas teh panas.
Robert menghela napasnya perlahan dan berjalan mendekati pemuda itu. Ia langsung menarik kursi yang ada di seberang Nathan dan menghela napasnya sebelum kemudian mulai membuka pembicaraan.
"Dia menanyakanmu," kata Robert pelan pada Nathan.
Nathan menatap Robert dengan tatapan yang sulit diartikan.
Robert tahu kalau pemuda itu merasa tidak enak dengannya. "Aku memberitahunya bahwa kau ikut kemari denganku. Dia tampak terkejut dan gembira dan dia ingin bertemu denganmu. Ya, sebenarnya kau sudah bersembunyi di sini cukup lama."
Nathan dengan canggung berdehem dan menyesap cangkir tehnya. Sejujurnya ini adalah teh keempat yang telah Nathan habiskan. Ia telah berulang kali memesan minuman itu selagi duduk menunggu dengan tenang.
__ADS_1
"Ya, aku tahu kau butuh waktu berduaan dengannya," Nathan mencoba memberi tahu Robert sambil menundukkan kepalanya. "Dia ... yah ... maksudku dia telah kehilangan ibunya dan menderita kesakitan. Kau adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki saat ini. Aku hanya merasa kalau seharusnya kau harus ada di sampingnya, menghiburnya. Aku hanya tidak ingin mengganggu kebersamaan kalian saat itu. "
Robert memandang Nathan dengan penuh rasa ingin tahu sebelum kemudian dia mengangguk setuju. Dia menghela napasnya perlahan dan menatap Nathan.
"Kalau begitu aku berterima kasih untuk itu," kata Robert, Nathan bisa merasakan ketulusan dalam suaranya untuk sekali ini. "Hanya... kau bersikaplah lembut padanya, Nathan."
"Aku akan, itu pasti." Nathan berjanji pada Robert, menghabiskan teh-nya. "Apakah kau tidak kembali ke kamarnya bersamaku?"
Robert menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. "Aku perlu menelepon Regina dan melihat apa yang ingin kita lakukan dengan John. Lagi pula, aku tidak ingin berada di sana saat kau memeluk putriku. Itu jelas bukan sesuatu yang ingin aku tonton."
"Ya, tak terhitung," jawab Robert dengan nada santai. "Ini putri ku, Nathan. Aku percaya kau tahu jelas bahwa kau harus berhati-hati dengannya. Jangan sampai menyakitinya."
"Aku akan berusaha sebisaku untuk melakukan yang terbaik baginya. Kau tau, dia bahkan tidak akan mendengarkan ucapanku untuk menjauh dan melupakanmu."
"Kau ingin dia melupakanku?" jawab Nathan sambil menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Begitulah."
"Kejam sekali." Nathan mendecih kemudian ia berdiri, tangannya bergerak ke saku jaketnya menatap pada Robert.
"Yah, sejujurnya aku lebih suka kalian sama-sama saling melupakan." gerutu Robert. "Katakan padanya bahwa aku akan kembali dalam sepuluh menit. Kau tidak seharusnya menginap."
"Lalu siapa yang akan menjaganya?"
"Aku, siapa lagi. Dia putriku."
"Tapi bukankah kau harus bekerja?"
"Sepertinya pengecualian bisa dibuat untuk agen sepertiku."
"Agen rahasia maksudmu," Nathan berujar menegaskan. "Aku akan segera menemuimu nanti."
__ADS_1
"Ya," Robert mengangguk setuju.