Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
65


__ADS_3

"Aku tidak bermaksud itu terjadi," bisik Jessica begitu dia melihat ke arah Nathan yang saat ini tengah berdiri di dekat laptopnya.


Jessica telah berganti pakaian. Gadis itu telah mengenakan salah satu dari pakaian milik Nathan dan sepasang sepatu lari yang entah kenapa pas untuk ukuran kakinya. Jessica masih tampak berantakan, tapi dia merasa lebih baik dari sebelumnya. 


Jessica kini berdiri di dekat meja makan yang di dapur Nathan. Wajahnya menunduk saat dia menunggu pemuda itu mengatakan sesuatu sebagai tanggapannya. Nathan memandangnya Jessica sekilas, kemudian mengangguk singkat padanya, sambul terbatuk canggung. Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa padanya.


"Minta maaf untuk bagian yang mana?" Nathan bertanya-tanya, tangannya lalu terarah kembali di atas keyboardnya.


"Yah...maksudku...aku tahu itu agak-"


"Ya, benar." Nathan setuju, menyelanya. "Kehilangan handukmu tiba-tiba memang cukup mengejutkan."


Jessica tersipu malu dan mengusap lengannya sendiri, sebelum kemudian Nathan melihat betapa tidak nyamannya gadis itu. Nathan mengambil napas dalam-dalam kemudian berjalan menuju ke dekat kompor, menyalakan kompor untuk memasak air panas. Ia akan membuat teh. Secangkir teh panas yang enak akan membantu menyelesaikan semua masalah. Nathan biasanya melakukan itu ketika dia dalam masalah.

__ADS_1


"Kau seorang wanita muda, Jessica," Nathan akhirnya memutuskan untuk kembali bicara. "Kau masih kuliah di universitas. Aku hanya tidak tahu harus berpikir apa, kalau aku boleh jujur."


"Ya, aku-"


"Kau memiliki pilihan atas seluruh hidupmu sendiri. Dan kau akan hebat di masa depanmu. Masih banyak hal besar yang bisa kau capai."


"Dan berapa umurmu?" Jessica bertanya-tanya.


"Kau tidak perlu takut padanya sepanjang waktu," kata Jessica kepadanya. "Dia bukan orang yang menakutkan, Nathan."


"Aku tidak takut padanya," Nathan menyangkal dan Jessica mengangkat alisnya skeptis atas apa yang didengarnya. Melihat sejauh yang terjadi, Nathan memang terlihat takut pada ayahnya.


Nathan mendengar suara air mendidih. Rupanya dia lupa jika tengah memasak air panas. Nathan segera bergerak untuk menuangkan air panas ke dalam dua cangkir.

__ADS_1


"Kau pembohong yang buruk," bisik Jessica padanya dan dia duduk di bangku dekat meja makan. Nathan duduk di bangku di samping Jessica saat dia melanjutkan pekerjaannya di laptop dan Jessica mengetukkan jarinya ke cangkirnya.


"Jika kamu tidak tertarik padaku, katakan saja," Jessica tiba-tiba bergumam pada Nathan, tidak bisa menahan lidahnya lebih lama untuk tak bicara.


Mengerang pelan, Nathan mengangkat kepalanya untuk menatapnya saat dia memiringkan kepalanya ke samping, menatap Jessica.


Nathan bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang akan dia katakan pada gadis itu. Mata gadis itu menatapnya lekat dan Nathan tahu bahwa gadis itu sedang menunggu kepastiannya.


Saat ini Nathan benar-benar bingung. Nathan hanya tidak tahu apakah dia bisa memberikan jawabannya. Sejauh yang Nathan ketahui, setelah semuanya berakhir, gadis ini akan segera kembali ke universitas dan melanjutkan hidupnya. Jessica pasti akan melupakan dirinya saat itu terjadi dan terus belajar.


Menurut Nathan, satu-satunya alasan Jessica mencium dirinya adalah karena dia ada di sana untuk Jessica dan baik padanya. Nathan yakin itu. 


Dia adalah putri Robert, demi apapun dia adalah anak dari pria mengerikan itu. Dan Nathan juga telah melihat isi sosmednya. Instagram, Facebooknya, dan Jessica bahkan bisa mendapatkan pria mana pun yang dia inginkan. Itu tidak akan sulit baginya.

__ADS_1


__ADS_2