Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
36


__ADS_3

"Apakah kau masih di sana, Nathan?" seru Robert pada Nathan.


Nathan dan Jessica dengan cepat berlari ke meja kerjanya, mencoba lebih dekat ke microfon untuk membalas panggilan Robert.


"Aku masih di sini!" balas Nathan.


"Baguslah, aku ragu untuk menghubungimu. Aku pikir kau sudah pulang ke rumah." ujar Robert lagi.


"Ya, sebenarnya aku ingin pulang? Tapi sayangnya bekerja lembur adalah bagian dari kontrak kerjaku," jawab Nathan sambil bergerak menuju komputernya. "Apa ada yang kau butuhkan saat ini?"


"Begini... aku sudah membawa Marie bersamaku sekarang. Dan dia ada di tempat yang aman." kata Robert memberitahu pria muda itu. "Sekarang bisakah kau menemukan posisi dan lokasiku di radar? Aku sudah mengaktifkan pelacakku beberapa saat yang lalu."


"Ya! Aku akan mencoba untuk melacakmu sekarang juga," kata Nathan langsung mengetik sesuatu di keyboardnya. "Bisa aku tau kemana kau pergi?"


"Ya, saat ini aku ada di suatu tempat dimana Dimitri akan dengan mudah menemukanku," jawab Robert pada Nathan.


"Apa?" suara melengking yang berasal dari Jessica kini terdengar.


Gadis itu berteriak dan dia segera mencondongkan tubuh ke sekitar Nathan untuk berteriak pada ayahnya melalui speaker.


"Apakah kau sudah gila, ayah? Pria bernama Dimitri itu bisa membunuhmu nanti. Kau tidak bisa membiarkan dia menemukan posisimu seperti itu. Apakah kau ingin mati?"


"Jessica kau harus percaya pada ayah seratus persen dalam hal ini, karena ini adalah pekerjaan ayah." Robert mencoba memberi tahu anak gadisnya itu. "Dan dengar, Jessica! Kau harus tetap di sana bersama Nathan. Itu akan jauh lebih aman untukmu."

__ADS_1


"Tidak," jawab Jessica sambil menggelengkan kepala meskipun ia tau kalau ayahnya itu tak akan bisa melihatnya. "Ayah! Aku tidak bisa membiarkanmu pergi be-"


"Jessica dengarkan ayah!" potong Robert, "Ayah sudah melakukan hal berbahaya seperti ini selama bertahun-tahun lamanya. Dan ayah tahu pasti apa yang sedang ayah lakukan sekarang."


"Tapi ayah-"


"Ayah minta padamu untuk tetap di sana, Jessie. Nathan yang akan menjagamu di sana." ujar Robert meyakinkan anak gadisnya itu. "Nathan, apa kau mendengarku? Aku titip Jessica padamu, jaga dia. Kau yang bertanggung jawab atas keselamatannya."


"Ya, baiklah! Sepertinya aku memang tidak bisa menolak, aku tidak punya pilihan," gumam Nathan dengan nada pasrahnya. Ia kemudian tersadar akan sesuatu. "Tapi, Mr. Robert, aku rasa kau menelepon kemari bukan hanya untuk itu, aku rasa ini pasti karena suatu alasan?"


"Ya, tebakanmu memang benar. Saat ini aku memang perlu membuat jejak panggilan telepon agar Dimitri bisa melacak keberadaanku nanti. Aku ingin dia mengikuti jejakku." Robert memberi tahu Nathan tentang rencananya.


"Tapi apa kau yakin kalau dia akan mengikutimu, Mr. Robert?" tanya Nathan ragu.


"Apa Marie akan aman?" tanya Nathan lagi.


"Saat ini Marie adalah prioritas utamaku. Dimitri mengejarnya dan aku akan melindunginya sebisaku." Robert meyakinkan Nathan.


Mendengar itu, sambil mencondongkan tubuh lebih dekat ke microfon, Nathan kemudian berbisik. "Entah kenapa, tapi aku merasa rencana ini tidak sepenuhnya akan berhasil. Bagaimana jika Dimitri tidak mengikutimu melainkan mencari Marie?"


"Aku juga tidak sepenuhnya yakin, memang," Robert berujar setuju. "Tapi ini satu-satunya cara agar Dimitri mengubah targetnya. Jika dia tau posisiku dia pasti akan mencariku lebih dahulu. Setelah dia datang padaku barulah kemudian aku mengalahkannya."


Nathan mengangkat cangkir kopinya, menempelkan cangkir itu ke bibir dan menyesap kopinya. Ia menghela napasnya perlahan kemudian menganggukkan kepalanya mantap.

__ADS_1


"Baiklah, Mr.Robert. Meskipun presentase keberhasilan dari rencana ini sangatlah kecil, tapi aku akan mencoba untuk tetap melakukannya."


"Bagus," Robert berujar bangga. "Dan satu lagi... pesanku padamu tolong jagalah putriku."


"Aku bukan anak kecil, Ayah," geram Jessica pada sang ayah yang terus menerus mengatakan agar Nathan menjaganya. "Aku sudah dewasa dan bisa menjaga diriku sendiri."


"Ya, dan bukannya ayah tidak tahu itu." erang Robert. Ia kemudian menghela napasnya pelan. "Kau lakukan saja apa yang sudah ayah katakan padamu, Jessica. Kau tetaplah di sana bersama Nathan. Ayah akan segera kembali untukmu."


"Maukah ayah berjanji padaku untuk itu? Ayah benar-benar akan kembali kesini? Bertemu denganku lagi?" Jessica bertanya-tanya, suaranya bahkan terdengar bergetar saat dia mengatakannya.


Di seberang telepon, Robert menelan ludahnya kasar sambil terus mengemudikan mobilnya di jalanan kota. Ia memikirkan sudah berapa kali dia melakukan hal berbahaya seperti ini sebelumnya? Ini adalah pekerjaannya. Dia bahkan selalu bekerja dengan baik dalam pekerjaan ini. Sangat baik malah, tanpa menyisakan sedikitpun celah kegagalan.


Tapi entah kenapa sekarang dia mulai merasakan keraguan. Kenapa dia mulai meragukan kemampuan dirinya sendiri seperti ini?


"Ayah!" seru Jessica lagi karena sang ayah yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Ya," kata Robert kemudian. "Ayah akan lanjut berbicara denganmu lagi nanti, Jessica."


"Ayah aku-" ucapannya terpotong oleh suara sambungan telepon yang terputus. Jessica mengerang kesal dan mengepalkan tangannya dengan kuat.


Nathan yang melihatnya mencoba untuk menenangkan kekesalan gadis itu.


"Kau harus tenang..." ujar Nathan dan Jessica mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2