
Saat ini Nathan tengah bekerja dengan serius di depan komputernya. Ia melakukan yang terbaik untuk menjaga pikirannya selalu dalam kondisi tenang dan juga tetap fokus. Nathan tak bisa berpura-pura mengatakan kalau dia tidak merasa lelah.
Sejujurnya saat ini Nathan merasa kalau tubuhnya benar-benar membutuhkan tidur meskipun hanya semenit. Selain itu Nathan juga merasa kalau otaknya terasa berat dan dia membutuhkan istirahat.
Tapi Nathan akan tetap menahan rasa kantuk dan lelahnya itu. Bayangkan, ia bahkan sudah beberapa kali meminum kafein untuk membuat dirinya tetap dalam kondisi terjaga, karena Nathan tahu hanya itu yang bisa dia lakukan agar dirinya tidak mengantuk dan tertidur.
Saat itu waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan pagi dan mereka hanya punya kurang dari lima jam lagi sampai waktu yang di tentukan habis. Dan saat itulah tiba-tiba saja dia bisa mendengar ponselnya mulai berdering.
Nathan menoleh pada ponselnya. Ia bisa melihat sebuah nomor tak dikenal terpampang di layar ponselnya. Hal itu membuatnya entah kenapa merasa khawatir, tetapi dia memilih untuk tetap menggeser tombol hijau dan menerima panggilan telepon itu.
"Siapa ini?" Nathan bertanya-tanya, nada bicaranya terdengar hati-hati.
"Nathan?"
Mendengar suara gemetar dari orang yang ada di seberang telepon itu sudah cukup untuk membuat Nathan mengalihkan pandangan dari komputernya.
Saat ini tubuh Nathan hanya bisa berdiri mematung di posisinya, dirinya terlalu syok untuk bereaksi. Tenggorokannya tercekat begitu mendengar suara yang begitu ia rindukan itu.
Nathan tak menjawab dan hanya terus diam untuk beberapa saat sambil menutup kedua matanya. Rasa takut menyelimuti diri Nathan saat ia memikirkan apa yang bisa terjadi pada Jessica saat ini. Dan sejujurnya Nathan bingung kenapa Jessica bisa menghubungi dirinya saat ini? Apakah ini ide buruk lain yang direncakan oleh John?
"Nathan! Ini aku Jessica." ujar gadis itu sekali lagi. "Apa kau bisa mendengarku?"
Nathan membuka kedua matanya.
"Jessica, ini benar-benar dirimu? Di mana kau? Apa yang sudah dia lakukan padamu? Lalu bagaimana kau bisa menghubungiku?"
"Aku... sedang di Bogor, di sebuah villa di puncak." bisik Jessica dengan suara bergetar pada pemuda itu. "Aku... John, dia ada di luar... entah dimana... polisi ada di sini. Aku... aku berhasil melarikan diri darinya...tapi saat ini, aku perlu..."
__ADS_1
"Apa?" Nathan menjawab nyaring, nada suaranya juga terdengar kaget. "Kau berhasil lolos darinya? Jessica, aku butuh lokasi persismu sekarang."
"Aku akan mengirimkan alamatnya padamu setelah ini," jawab Jessica dengan cepat. "Aku memanjat keluar melalui jendela kamar mandi dan berhasil melarikan diri ... dan kemudian aku bertemu dengan Tuan Harrison ... dia membawaku masuk ke dalam rumahnya dan aku... aku memukul John dengan sekop ..."
Ketidakjelasan dari cerita Jessica itu malah membingungkan Nathan, tetapi dia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa tentang itu. Nathan tetap diam dan mendengarkan semua cerita Jessica itu dengan penuh perhatian. Dia aman. Gadis itu sudah aman. Dan Nathan bisa merasakan bahwa Jessica memang sudah benar-benar aman.
"Kau aman kan?" Nathan tetap bertanya untuk memastikan.
"Aku aman," Jessica menegaskan. "Aku ingin kau memberi tahu ayahku. Ya, aku sudah mencoba menghubunginya entah kenapa tidak bisa. Dan aku menghubungimu."
"Syukurlah" jawab Nathan menghela napasnya lega.
"Aku senang akhirnya kau mengangkat telepon," bisik Jessica. "Dan... maukah kau ikut datang menemuiku? Maukah kau ikut dengan ayah saat dia datang menemuiku nanti, Nathan?"
Nathan mengambil beberapa saat untuk berpikir sesuatu sebelum kemudian menghela nafasnya dan membawa pandangan matanya, melihat ke langit-langit ruangan itu.
"Tentu saja," kata Nathan pada akhirnya pada Jessica "Kurasa mereka akan membawamu ke rumah sakit setelah ini."
"Aku akan mencari tau ke rumah sakit mana mereka akan membawamu. Tunggu, Jessica. Aku akan ke sana secepat mungkin, oke? Aku dan ayahmu. Kami akan datang untukmu dan kami akan memastikan tidak ada yang terjadi seperti ini lagi."
"Jessica, kurasa ambulan datang aku mendengar suara sirine di luar." terdengar suara seorang wanita tua berbicara pada Jessica.
Jessica melihat ke arah wanita itu, dia adalah istri dari tuan Harrison. Jessica mengangguk sambil menyunggingkan senyum di wajahnya, selimut di bahunya sedikit terjatuh.
"Aku harus pergi," bisik Jessica di telepon pada Nathan. "Dengar Nathan... aku..."
Jessica tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia merasa seolah-olah dia harus mengatakan sesuatu yang berharga untuk pemuda itu sebagai ucapan penutup.
__ADS_1
Ia merasa kalau seakan dia harus memberitahu Nathan tentang isi hatinya. Tentang bagaimana dia mulai merasakan sesuatu di hatinya tentang pemuda itu. Atau tentang bagaimana dia begitu merindukannya.
Ia hanya ingin mengatakan kalau dia... mencintai Nathan. Itu saja.
Tapi tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya. Lidanya terasa kelu. Dan dia juga tidak bisa benar-benar memikirkan kalimat apapun yang benar untuk diucapkan pada pemuda itu.
Untungnya Nathan sepertinya tahu apa yang akan di katakan gadis itu pada dirinya. Karena ternyata pemuda itu juga ingin mengatakan hal yang sama kepada Jessica.
"Aku tahu," kata Nathan padanya dengan nada tenang. "Aku tau apa yang akan kau ucapkan. Aku juga Jessica... aku juga mencintaimu..."
"Terima kasih Nathan." ujar Jessica. "Aku mencintaimu."
"Ya, dan kau tnggulah di sana Jessica. Aku dan ayahmu... kami akan segera pergi ke sana setelah kau mengirimkan alamatnya."
"Baiklah. Sampai jumpa, Nathan." kata Jessica dan akhirnya dia menutup sambungan telepon itu.
Begitu telepon di tutup, Nathan meletakkan ponselnya di atas meja. Tak lama kemudian ponselnya kembali menyala dan Nathan membukanya dan membaca alamat yang baru saja di kirim oleh Jessica.
Nathan mendorong kacamata baca-nya lebih dalam ke pangkal hidungnya. Ia akan memberi tahu Robert kabar ini. Nathan kemudian meraih jaket miliknya dan memasukkan ponsel di tanganya ke dalam kantung jaket miliknya sebelum akhirnya mengangguk pada Alice.
"Aku harus pergi sekarang, kau handle semua yang ada di sini!" perintah Nathan pada Alice dan bawahannya itu mengangguk.
"Ya, pak!"
Nathan bisa melihat tepat saat itu beberapa pekerja lain mulai berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Tak heran, mengingat ini memang sudah pagi hari dan jam sudah menunjukkan waktu masuk kantor.
Nathan tidak berkata apa-apa lagi saat dia berjalan di tengah-tengah para bawahannya itu dan dia tahu bahwa dia pasti akan menjadi bahan gosip mereka lagi hari ini.
__ADS_1
Tapi dia tidak peduli.
***