
.
.
"Ya tenang saja. Aku bisa menyesuaikan diri dengan pesta kalau-kalau kau tidak ingat."
"Ya," jawab Nathan. "Kau memang mengatakan sesuatu tentang itu sebelumnya. Aku yakin kalau, pestanya mungkin cenderung seperti pesta reuni universitas jadi jangan khawatir. Ini bukan pesta orang tua. Dan beberapa orang di sana mungkin akan berumur sepertiku atau mungkin sepertimu,"
"Ya, aku bisa mengerti," Jessica membalas dengan tersenyum. "Tapi, bolehkan aku meminjam setrikamu, karena seperti yang aku bilang sebelumnya, pakaianku belum di setrika.
"Tentu saja," Nathan lalu melangkah menuju lemari untuk mencari setrika.
"Sepertinya aku meletakkannya di sini sebelumnya, " ujar Nathan sambil mengutak-atik lemari perabotan miliknya.
Jessica tidak bisa menahan tawa ketika melihat Nathan tidak bisa menemukan setrika di lemarinya.
"Biar aku saja yang cari, tulang rusukmu akan sakit jika kau terlalu banyak bergerak untuk mencari." ujar Jessica melangkah mendekati lemari.
"Baiklah! Oh ya, apakah kau ingin secangkir teh?" Nathan bertanya pada Jessica saat gadis itu menarik kotak setrika keluar dari lemari dan pergi untuk memanaskan setrika.
Jessica menggelengkan kepalanya ketika dia mendengar tawaran Nathan itu dan Jessica diam selama beberapa saat. Sambil kembali menggelengkan kepalanya, dia melihat ke arah Nathan yang saat ini tengah menuangkan minuman untuk dirinya sendiri.
"Aku tidak terlalu suka teh," ujar Jessica pelan, mengakuinya. "Sebenarnya aku lebih suka kopi."
"Aku tahu bahwa selera humorku tidak ada," kata Nathan padanya, "tetapi aku merasa kalau kau pasti sedang bercanda tentang itu kan? Bagaimana bisa kau tidak suka teh?"
__ADS_1
"Ya, aku memang lebih suka kopi," ujar Jessica mengangkat bahunya acuh tak acuh sambil mengeluarkan gaun miliknya dari dalam tas.
Jessica meletakkan gaun itu di atas papan setrika dan melihat-lihar bahannya agar dapat memastikan kalau dia tidak akan menyetel setrika di mode yang terlalu panas dan bisa merusak kainnya. Dia mulai menyetrika sebelum kemudian Nathan memberinya segelas air. Nathan tahu bahwa dia menyukai air putih.
Nathan duduk di bangku, mengerang pelan sambil mendudukkan dirinya sendiri ke atas kursi. Dia memperhatikan Jessica yang saat itu tengah menyetrika gaunnya dengan tenang, rambutnya terlihat jatuh terurai ke punggungnya. Jessica sesekali melihat ke gaun itu dan memeriksa kondisi gaun itu.
"Itu agaknya berbeda..." Nathan memberitahunya dengan tenang. " ...maksudku jika dibandingkan dengan gaun yang ada di foto-foto sosial media milikmu, yang ini agak tertutup."
"Kau harus berhenti menguntit sosial mediaku," ujar Jessica mendecak sinis, nada bicaranya terdengar lucu saat Nathan melihatnya. "Kenapa? Apakah ini terlihat terlalu mirip dengan gaun ibu-ibu?"
"Tidak," Nathan dengan cepat menggeleng, ia mencoba meyakinkan Jessica. "Itu terlihat lebih bagus, menyenangkan melihatnya. Aku baru saja mengatakan kalau itu agak berbeda dari gaunmu yang biasa."
"Yah, aku tidak ingin pergi bersamamu dengan sesuatu yang terlihat terlalu murahan," jawabnya dengan raut angkuh dan Nathan tersenyum begitu mengingat gadis itu saat mengenakan salah satu gaunnya yang lebih terbuka.
"Kau harus segera kembali ke rumah sakit, bukan?" Nathan memeriksa dan Jessica langsung mengangguk mengiyakan.
"Aku akan pergi minggu depan atau kapan-kapan saja," jawab Jessica sambil mengibaskan sebelah tangannya "Bekas luka masih agak menonjol dan terlihat menjijikkan."
"Itu tidak menjijikkan, Jessica."
"Itu kan menurutmu Nathan, tapi bagiku ini sangat menjijikan" jawab Jessica tersenyum miris.
Jessica kemudian selesai menyetrika dan meletakkan peralatan itu, kembali meletakannya di lemari.
"Jadi, itu berarti orang-orang di sana pasti akan menyebut nama aslimu, bukan?" Jessica bertanya, memastikan pada Nathan.
__ADS_1
Nathan menarik napas dalam-dalam dan mengangguk pada gadis itu. Dia curiga teman-temannya pasti akan melakukannya. Sebuah bayangan datang padanya saat dia bersandar di meja sarapan.
Nathan memegang cangkirnya erat-erat dan kembali menarik napas dalam-dalam. "Kurasa mereka akan melakukannya."
"Dan bisakah kau mengira bahwa ketegangan itu akana membunuhku? Bayangkan semua orang memanggilmu dengan nama yang tak kau suka." Jessica menggodanya lebih jauh dan Nathan hanya terkekeh, meletakkan cangkirnya kembali di atas meja dapur.
"Nathan Jones. Seingatku itu kan namamu... Mr. Jones." canda Jessixa lagi.
Jessica membiarkan nama itu meresap di kepalanya dan senyuman kemudian muncul di bibirnya. Nathan menganggukkan kepalanya, mempertimbangkan jawabannya, sambil menatap ke arah Jessica yang juga menatapnya dan seringai kecil terlihat muncul di wajah Jessica.
"Aku lebih suka kalau kau memanggilku dengan Nathan saja."
"Ya... kupikir aku sudah terbiasa, dengan nama itu," jawab Jessica. "Kau tidak keberatan kan saat tadi aku memanggilmu dengan nama belakangmu?"
"Tidak sama sekali," kata Nathan menggelengkan kepalanya. "Ngomong-ngomong, jika ada sesuatu yang perlu kau lakukan sebelum kita pergi, silakan saja."
Setelah mengatakan itu, Nathan mengambil kembali cangkirnya dan melihat Jessica yang bergerak dari posisinya.
"Ya, sepertinya aku akan mandi dan menyegarkan diri, jika tidak apa-apa?" Jessica memastikan pada Nathan.
Nathan mengangguk pada Jessica dan menatapnya dari posisinya.
"Tidak masalah," jawab Nathan dan memperhatikan saat gadis itu pergi ke kamar mandi. Dia menarik napas dalam-dalam dan bergerak pergi ke kamarnya sendiri dengan cangkir di tangannya. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang apa yang bisa dia pakai untuk pesta nanti malam.
***
__ADS_1