Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
129


__ADS_3

Nathan sangat menyadari keinginan Jessica untuk kembali ke negara asalnya, Singapura. Ya, jika Nathan boleh jujur, di dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia tak terlalu suka dengan ide itu. Tentu saja. Sejujurnya, Nathan lebih suka jika Jessica berada di negara ini saja. Salah satu alasannya adalah agar dia bisa selalu mengawasi gadis itu.


Bagi Nathan, ide Jessica untuk kembali ke Singapura itu tidak begitu baik karena yah... Dimitri pasti bisa mendapatkan Jessica lagi nanti. Seperti yang diketahui jika saat ini Dimitri masih dengan bebas berkeliaran dimana pun. Keberadaan dari penjahat itu masih belum di ketahui oleh siapapun. Dan itulah hal yang paling membuat Nathan merasa sangat khawatir.


Tapi Nathan juga tau kalau Jessica memang harus kembali ke Singapura. Gadis itu harus kembali untuk melanjutkan kembali pendidikannya di sana. Ia tak bisa menahan gadis itu agar tetap berada di sini. Toh sejak awal Jessica datang ke sini memang hanya untuk liburan dan bertemu ayahnya saja kan?


Nathan terus menerus memaki dirinya sendiri dalam hati. Ia meruntuki dirinya yang harusnya bisa lebih menikmati sisa waktunya bersama Jessica sebelum gadis itu kembali. Tapi bagaimana bisa dia melakukan itu? Dia juga sibuk dengan pekerjaannya di kantor.


Dia tidak memiliki keahlian untuk membagi waktu dengan baik antara hubungan percintaan dan pekerjaan. Sekedar mengingatkan, kalau ini bahkan sudah lama sekali sejak terakhir kali Nathan pernah menjalin hubungan dengan seseorang sebelumnya. Dia tak memiliki pengalaman apapun.


Itu jam delapan malam saat Nathan mengantar Jessica kembali ke apartemennya. Selama dalam perjalanan pulang tidak ada satu pun dari mereka yang bicara. Mereka hanya menatap langit malam, menikmati indahnya pemandangan dari bintang-bintang.


Lengan Nathan masih dalam rangkulan erat Jessica. Gadis itu merangkulnya sejak mereka masih di rumah makan tadi. Ia memegang Natahn seakan tak ingin melepaskan tangannya walau hanya sedetik. Dan bukannya merasa risih, Nathan justru merasa senang saat Jessica melakukan itu padanya. Ia merasa jadi sangat berharga untuk seseorang.


Nathan menatap ke arah Jessica. Ia merasa setelah gadis ini kembali ke Singapura nanti, dirinya pasti akan merasa begitu kesepian di sini. Nathan merasa kalau kehidupannya pasti akan kembali monoton seperti hari-hari sebelumnya. Hanya bekerja... bekerja... dan bekerja.


Tapi tak apa. Nathan akan berusaha untuk tidak mengeluh terhadap situasi ini. Ia sudah pernah hidup sendirian sejak dahulu, jadi dia pasti bisa dengan mudah menjalani hidup seperti ini lagi. Dan ia merasa jika gadis itu akan segera pergi, maka ia harus membuat kenangan yang baik bagi mereka.


Begitu pula selama mereka masih di tempat makan tadi, Nathan tau jika itu adalah salah satu kesempatan baginya untuk menghabiskan waktu dengan gadis itu. Dan Nathan berpikir setelah ini, setiap hari yang akan dia habiskan bersama Jessica adalah hal yang berharga.


.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Nathan bertanya pada Jessica begitu dia berjalan ke arah dapur. Ia bisa melihat Jessica yang saat ini tengah sibuk sendiri di dapur rumahnya.


Beberapa saat yang lalu mereka sudah sampai ke rumah dan memilih untuk memesan pizza ukuran besar untuk di nikmati bersama. Nathan pikir dia sudah kenyang bahkan hampir tak bisa bergerak. Tapi Jessica tampaknya tidak pernah puas dengan itu. Ya, terlihat seperti saat ini Jessica tengah membuat adonan lain yang Nathan tidak ketahui untuk apa.


"Aku akan membuat kue," jawab Jessica santai sementara tangannya meraih celemek yang tersedia di atas meja dan segera memasangnya ke tubuhnya sendiri.


"Apa kau tidak merasa lelah? Kita bahkan baru saja dari luar, kau harusnya istirahat bukan?" ujar Nathan membuat Jessica terkekeh.

__ADS_1


"Ya, aku hanya merasa perlu melakukan sesuatu, Nathan." ujarnya dengan senyuman di wajahnya.


"Melakukan sesuatu?"


Jessica mengangguk, "Ya."


"Kau bisa menonton televisi!" saran Nathan yang langsung saja di balas dengan gelengan kepala oleh gadis itu..


"Sku tidak tahu sudah berapa banyak tayangan televisi yang aku tonton baru-baru ini. Itu tidak terlalu menyenangkan untukku. Aku merasa aku perlu melakukan sesuatu kesibukan lain untuk membuat pikiran dan juga fisikku tetap sibuk."


Nathan menganggukkan kepalanya mengerti. "Begitu rupanya."


"Ya."


Apa pekerjaannya akan sulit?"


"Apakah kau ingin aku membantu?" Nathan bertanya balik pada Jessica.


"Kau dapat membantu jika kau mau?" tawar Jessica.


"Ya, sejujurnya aku tidak pernah membuat kue seperti ini. Aku juga belum pernah memanggang kue sebelumnya," komentar Nathan kepada Jessica. 


"Ini sangat mudah."


"Aku lebih suka memasak daripada membuat kue."


"Baguslah!" Jessica berujar dan dia mengambil mangkuk berukuran sedang sebelum membuka buku tutorial masaknya ke halaman yang dia inginkan. 


"Untuk apa ini?" Nathan mengangkat mangkuk yang baru saja Jessica berikan padanya.

__ADS_1


"Untukmu!"


Nathan memandang mangkuk itu lalu menatap Jessica. "Untukku?"


"Ya Nathan, kau bisa ikut membuat kue ini denganku?" ujar Jessica mendesaknya. 


"Apa?"


"Aku sudah lama tidak membuat kue seperti saat ini. Aku melakukannya sepanjang waktu saat masih di Singapura. Biasanya ketika jadwal ujian sudah dekat."


Alis Nathan sontak saja berkerut dan dia bergerak untuk berdiri di samping Jessica, ikut mengintip buku resep yang ada di atas meja bersamanya. 


"Jika ujian sudah dekat, bukankah seharusnya kau belajar?" ujar Nathan sambil menyerahkan mangkuk pemberian Jessica tadi.


Jessica memutar bola matanya malas dan menyenggol lengan kanan Nathan dengan lembut. Jessica kemudian mengambil telur dan mentega dari lemari sebelum kemudian meletakkannya di atas meja.


"Aku tau kalau seharusnya begitu," katanya pada Nathan. "Pemikiran belajar bukanlah sesuatu yang bisa membuatku takut atau khawatir, Nathan. Itu sama sekali menggetarkanku,"


"Ya, aku merasa itu pasti akan menggetarkan semua orang." jawab Nathan datar padanya.


"Tapi tidak untukku." Ujar Jessica santai sambil meraih timbangan yang ada di sebelah kanannya.


"Baiklah, kita bisa melakukan apa pun yang ingin kau lakukan. Itu tidak akan mengganggu diriku, Jessica."


Jessica tersenyum dan mencium pipi pemuda itu sebelum kemudian dia menimbang tepung. 


Jessica melirik Nathan dan dia bisa melihat rona merah kecil di pipi pemuda itu. Nathan terbatuk canggung sebelum kemudian dia melihat kepada Jessica. Ia mendorong kacamatanya yang agak jatuh ke pangkal hidungnya.


***

__ADS_1


__ADS_2