Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
22


__ADS_3

"Apakah ini semacam lelucon?" Jessica bertanya-tanya sambil menatap Marie.


Marie mengernyitkan alis, jelas tidak terkesan sama sekali dengan pertanyaan gadis itu. 


"Apakah menurutmu saat ini aku terlihat seperti sedang bercanda denganmu?"


"Kalian terlihat begitu. Semua yang terjadi seakan-akan terlalu mengejutkan. Seolah tidak nyata. Dan juga-"


"Tidak!" potong Marie cepat. "Ini sama sekali bukanlah lelucon. Ayahmu adalah agen rahasia. Dia adalah mata-mata pemerintah!"


Jessica mendecih saat kalimat itu masuk ke dalam telinganya.


"Ck, bagaimana dia bisa menjadi mata-mata di Kementrian? Dia bahkan selalu menghabiskan hari-harinya di meja kerja. Lalu bagaimana dia bisa menjadi seorang agen rahasia seperti yang baru saja kau katakan." 

__ADS_1


Nathan yang mendengar itu sontak menyeringai. Ia tampak menggelengkan kepalanya setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut gadis itu. Seakan-akan apa yang gadis itu katakan adalah sesuatu yang lucu.


Ia lalu kembali menatap komputernya, melanjutkan peretasan yang tengah ia kerjakan saat ini ketika dia akhirnya berbicara pada Jessica. 


"Ayahmu itu bahkan lebih suka meledakkan meja daripada duduk di meja kerja itu sendiri. Percayalah padaku!" ujar Nathan sinis tanpa melihat Jessica dan terus fokus pada komputernya.


Jessica menggelengkan kepalanyan. Ia masih tak percaya dengan perkataan orang-orang di hadapannya ini. Saat itulah Marie melangkah maju untuk menatap gadis itu lekat.


Marie kemudian melanjutkan kalimatnya. "Aku menyadari bahwa ini hal yang sangat mengejutkan untukmu. Tapi aku tak bisa menceritakan lebih detail. Untuk sementara ini adalah sedikit dari banyak informasi yang harus kau terima dari kami, walaupun terlalu mengejutkan bagimu tetapi itu memang kebenarannya. Dan sekarang, aku minta maaf karena aku harus pergi ke tempat lain. Ada banyak sekali kepanikan di mana-mana mengingat seorang pria telah melepaskan tembakan di jalanan umum."


Jessica tau insiden tembakan yang dimaksud Marie adalah insiden yang tadi di alaminya di dekat kafe. Saat ini Marie terlihat mulai berjalan ke arah tangga sebelum kemudian Nathan dengan cepat mengangkat tangannya bermaksud untuk bertanya.


"Bagaimana dengan Jessica? Bukankah seharusnya dia...ya... dia pergi ke suatu tempat yang mungkin lebih aman? Aku tidak bisa pergi karena harus tinggal di sini dan mengerjakan ini sampai mendapat titik terang."

__ADS_1


"Di mana kau menyarankan tempat amannya?" Marie bertanya balik. "Tidak ada siapapun yang tahu dia ada di sini. Termasuk orang-orang jahat itu. Semua agen kita saat ini harus bekerja sepanjang waktu untuk menyelidiki kasus. Dan Robert baru akan kembali besok pagi jika dia bisa menyelesaikan pekerjaannya sesuai jadwal. Ya, aku tebak dia akan berada di sini lebih cepat dari perkiraan setelah dia mendengar berita penyerangan anak gadisnya. Lalu apa?"


Nathan menelan ludahnya dan menghela nafasnya perlahan.


"Tapi...tapi...ini sudah sangat malam," Nathan bicara dengan nada tergagap. "Bagaimana dengannya kalau aku pergi nanti?"


"Kalau begitu kau beri tahu seorang agen yang berjaga di luar. Dia yang akan menunjukkan ruangan cadangan yang berisi sofa. Dia bisa menunggu di sana sampai pagi atau sampai ayahnya tiba nanti. Sekarang, aku harus pergi karena saat ini aku punya urusan lain yang harus diselesaikan."


"Ya, Bu," Nathan mengangguk patuh. Ia tak punya pilihan selain mengikuti perintah sang atasan.


Marie berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan mereka berdua.


***

__ADS_1


__ADS_2