Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
130


__ADS_3

Robert mencari-cari kunci di dalam kantongnya kemudian membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam. Pemandangan yang dia lihat selanjutnya sudah cukup untuk membuat dahinya mengkerut bingung.


Dia bisa mendengar suara tawa dari arah dapur sejak ia melangkah memasuki rumahnya. Ia melangkahkan kakinya menuju sumber suara dan bisa melihat dengan jelas dari tempat ia berdiri Jessica yang tengah berada di dapur.


Gadis itu mengenakan celemek yang sudah dilapisi tepung dan tangannya tengah memegang kaleng kue dengan sarung tangan oven di tangannya. Sementara Nathan tengah berdiri di sampingnya, wajahnya tertutup oleh tepung, kacamatanya juga berkabut oleh debu tepung.


"Dan apa yang baru saja terjadi di sini?" Robert bertanya-tanya ketika dia melangkahkan kakinya masuk ke dapur.


Dia kini berdiri di dekat meja makan setelah sebelumnya meletakkan kunci rumah di atas meja itu. Mendengar suara itu Jessica berbalik untuk menatap ayahnya.


"Yah... Nathan baru saja menumpahkan tepung," komentar Jessica.


"Aku...yah...menjatuhkannya ke meja kerja. Tapi tenang saja. Aku sudah berhasil membersihkan sebagian besar kotorannya," komentar Nathan sambil dan menyeka kacamatanya dengan lengan bajunya.


Robert mengernyitkan alis dan bibirnya terangkat membentuk seringai samar. "Ayah senang bisa melihatmu bersenang-senang."


"Mm ya," Jessica menganggukkan kepalanya setuju. Ia tengah konsentrasi penuhnya sekarang untuk mengupas kue dari kaleng tempat kue tadi berada.


Nathan memeriksa arloji di pergelangan tangannya sebelum mengetahui bahwa dia harus pulang. Dia tidak ingin terlambat pulang.


"Sepertinya aku harus pergi," kata Nathan sambil menatap Jessica.


Jessica mengangguk padanya dan dia akhirnya berhasil mengeluarkan kue dari wadahnya.


"Haruskah kita bertemu besok?" Jessica bertanya dan Nathan mengangguk padanya. Ia melirik pada Mr. Robert. Ya, ia tidak ingin melewati 'garis keintiman' pada gadis itu ketika agen yang selama ini ditugaskan untuk membunuh itu berdiri kurang dari tiga meter darinya.


"Aku pikir kita bisa menonton film besok malam," kata Nathan padanya. "Ya, kalau kau mau,"


"Tentu saja," kata Jessica dan dia meletakkan tangannya di bahu Nathan. "Kita akan menonton bersama besok."

__ADS_1


Robert yang sejak tadi memperhatikan hanya terbatuk canggung dan Nathan secara naluriah melangkah mundur. Ia mengangguk kemudian dengan cepat berbalik untuk mengambil jaketnya.


Robert yang menyadari kegugupan Nathan itu hanya menatapnya dengan senyum geli. Dia tahu bahwa Nathan takut setengah mati ketika Robert melihatnya bersama Jessica.


Ya, memang seharusnya.


Robert mengangguk pada Nathan kemudian mengambil kunci rumahnya lagi. "Aku akan mengantarmu keluar, Nathan."


"Mengapa?" Jessica langsung bertanya-tanya dengan raut bingung. "Bukankah itu adalah pekerjaanku?"


"Kau dibebaskan dari tugasmu itu untuk satu malam," jawab Robert dengan suaranya yang sinis. 


Jessica menatap ayahnya kemudian langsung menatap Nathan. Nathan balas meliriknya dan mengangkat bahu. Dia tidak tahu apa yang tengah diinginkan Robert darinya saat ini.


Jessica tidak mengatakan apa-apa saat melihat Nathan dan ayahnya meninggalkan rumah, pintu depan terdengar dibanting saat mereka pergi.


***


Robert adalah orang pertama yang berjalan menuruni anak tangga rumahbya. Ia menoleh, melihat Nathan dengan alis berkerut. Pemuda itu sepertinya terus menerus menatap ke belakang, melihat ke arah dalam rumah Robert, kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.


"Ada apa itu?" Nathan akhirnya bertanya-tanya. "Apakah ini ada hubungannya dengan John?"


"Tidak," jawab Robert. "Itu tidak ada hubungannya dengan John. Walaupun aku tidak ingin apa-apa selain melepaskan diri dari pria si*lan itu."


"Lalu apakah yang begitu mengganggumu saat ini sehingga kau perlu berbicara denganku?" Nathan bertanya dengan penasaran dan itu membuat Robert menghentikkan langkahnya di tangga.


Nathan mengamati wajah Robert, berusaha sebaik mungkin untuk memahami ekspresi yang tengah di tampilkan oleh Robert. Saat ini Robert tampak tengah khawatir akan sesuatu. Ah bukan... tapi dia tampak tertekan akan sesuatu. Nathan belum pernah melihat pemandangan seperti itu dari Robert sebelumnya.


"Ada apa?" Nathan bertanya-tanya.

__ADS_1


"Bagaimana kau melakukannya?" Robert tiba-tiba bertanya padanya. 


Nathan menaikkan sebelah alisnya bingung, "Aku melakukan apa?"


"Jessica! Aku bahkan belum melihatnya tersenyum selama berhari-hari lamanya. Aku bahkan sudah lama tidak mendengarnya tertawa. Aku bertanya-tanya apakah dia akan bisa kembali bahagia lagi. Aku membawanya pergi berlibur dan sepertinya tidak ada yang membuatnya benar-benar bahagia di sana. Dan hari ini aku pulang dan mendapati kau yang baru berada di sini selama empat jam dan dia tertawa seolah-olah dia tidak memiliki masalah apapun."


Nathan mendengarkan dengan penuh perhatian saat Robert menjelaskan kekhawatirannya tentang putrinya. Nathan tidak tahu apakah dia bisa menenangkan pria itu. Ya, Nathan ragu dia bisa, tapi dia akan mencobanya. Nathan berdehem dan menundukkan kepalanya melihat ke arah tanah. Ia menutup matanya dan berpikir.


"Aku pikir caranya adalah... dengan tidak berusaha terlalu keras," jawab Nathan kepada Robert. "Kau mencoba terlalu keras untuk membuatnya bahagia. Itu tidak masalah karena kau ayahnya dan pasti ingin selalu membuatnya bahagia. Tapi...yah... itu tidaklah benar untuk menjadi begitu memaksa dengan cara itu. Maksudku adalah 'Tidak perlu melakukan hal-hal boros untuk membuatnya lupa', mungkin itu..."


Robert menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya. Menyadari ketika Nathan mengenal putrinya lebih baik daripada dia, membuat Robert merasa takut. Robert memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya dan melihat ke ujung jalanan, matanya menyipit saat dia melihat kepala pirang bergerak di dekat tiang di ujung jalan sana. Ia mengetahui bahwa imajinasinya mulai keluar dan dia seperti melihat seseorang yang ia kenal. Sambil menggelengkan kepalanya, dia melihat kembali ke Nathan fokus pada topik pembicaraan mereka saat ini.


"Kau ayahnya," Nathan mengangkat bahu. "Aku yakin kalau dia pasti juga mengkhawatirkanmu. Ya, itu caramu untuk membuatnya bahagia. Aku ragu kau melakukan sesuatu yang salah padanya."


"Bukankah aku memang melakukan cara yang salah?" Robert bertanya-tanya, perhatiannya sekarang sepenuhnya teralih pada Nathan. "Kadang-kadang aku pikir aku benar-benar melakukan semuanya dengan cara yang salah."


"Kau hanya perlu menemuinya dan bicara dengannya," saran Nathan "Ah... atau pergi padanya dan lumuri dirimu dengan tepung. Sepertinya dia akan lebih suka metode itu."


Bibir Robert langsung tertarik ke atas lagi pada bagian itu, ia tersenyum. dan Nathan menggelengkan kepalanya dan melihat ke daerah sekitar yang sudah sangat sepi.


"Sebaiknya aku pergi sekarang, ini sudah terlalu malam," kata Nathan padanya. "Tolong ucapkan selamat malam pada Jessica untukku."


"Kau sudah mengucapkan selamat malam."


"Baiklah, katakan lagi," jawab Nathan, "...atau aku akan memastikan senjata berikutnya yang kuberikan padamu tidak akan menembak sebaik yang seharusnya."


Robert terkekeh ketika Nathan mulai meninggalkan pemuda itu. Ia bergegas untuk kembali masuk ke dalam untuk bertemu anaknya.


***

__ADS_1


__ADS_2