Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
66


__ADS_3

"Kita baru saling kenal seminggu," Nathan mencoba untuk mengingatkannya. "Bagaimana aku bisa menilai apakah aku tertarik atau tidak? Maksud ku ... kau gadis yang baik, Jessica. Aku hanya khawatir tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Aku bekerja di Indonesia. Dan kau belajar di Singapura. Kau juga masih sangat muda. Ada banyak pria lain di luar sana. Dan kebanyakan dari mereka-"


"Tidak, tidak apa-apa. Aku mengerti maksudmu." ujar Jessica.


"Benarkah kau mengerti?"


"Ya," kata Jessica. "Aku hanya... kau sangat baik, Nathan. Kau bahkan menyukai Sinetron."


"Tidak setiap saat," Nathan menyela, kembali mengetik saat ia berbicara. "Kita harus melewati hal buruk ini dulu, Jessica. Baru setelah itu kau dan hatimu bisa benar-benar memutuskan apa yang akan kau lakukan. Saat ini menjagamu tetap hidup adalah prioritas utama bagiku. Bagi ayahmu juga."


"Aku mengerti," Jessica dengan blak-blakan mengangguk, menyesap tehnya. "Dan aku akan baik-baik saja jika ciuman itu ternyata tidak berarti apa-apa bagimu. Kau tahu itu, kan?"


"Tidak," Nathan buru-buru menggeleng. "Tidak banyak gadis yang bisa menciumku, Jessica. Yang itu lebih berarti daripada gadis yang lain."


Jessica tetap diam. Diam-diam dia tersenyum sambil menyesap teh di tangannya. Sementara Nathan, dia bisa merasakan pipinya mulai memanas mendengar kata-katanya sendiri, tapi dia memilih untuk terus memperhatikan layarnya. Dia juga tahu bahwa Jessica merasa gugup. Kini gadis itu duduk di tepi kursinya dan terus-menerus melihat ke arah pintu, menunggu ayahnya mengetuk.

__ADS_1


Jessica mengedarkan pandangan ke seluruh area ruangan, sampai akhirnya dia melihat pistol yang ada di ujung meja makan. Mulutnya sedikit menganga melihat itu. Dan Nathan memperhatikan Jessica sedikit bergerak dari tempat duduknya untuk meraihnya. Dia mengambilnya dengan tangannya dan menatap benda itu, tahu betul bahwa benda itu cukup berbahaya. Sangat berbahaya.


"Hati-hati dengan benda itu," kata Nathan padanya. "Ayahmu meninggalkannya untukku kalau-kalau ada keadaan darurat."


Jessica hanya diam. Ia terus mengamati benda itu, memutarnya di tangannya sementara Nathan memilih menghela nafasnya.


"Aneh, bukan?" ujar Jessica masih menatap pistol itu. Ia mengulurkannya dan mengarahkan benda itu ke depannya. "Maksudku, dengan satu tarikan pelatuk saja, itu sudah bisa membunuh sesuatu."


Nathan menyaksikan dengan ngeri. Dan ia tiba-tiba terlonjak kaget saat Jessica membiarkan tangannya tergelincir ke pelatuk dan menariknya.


DOR!


"Ya Tuhan," pekik Jessica. "Nathan, aku minta maaf."


"Aku yakin Robert pasti sengaja meninggalkannya dan melepasnya dari mode keamanan," komentar Nathan padanya.

__ADS_1


"Dan sejujurnya aku tidak berpikir apa pun akan terjadi ... apalagi seperti yang barusan. Astaga ..." katanya, mencoba sebisanya untuk tidak terlihat geli dengan situasinya. Setidaknya dia tidak menembak laptop milik Nathan. Dia bisa membayangkan bahwa Nathan pasti akan mengusirnya saat itu.


"Yah, masalah ucapanmu di kamar mandi tadi, kau benar," kata Nathan padanya, mata pemuda itu bergerak untuk melihat lubang peluru di dinding rumahnya. "Kau memang menjadi lebih sulit untuk di jaga."


"Apakah seburuk itu?" Jessica bertanya-tanya canggung.


"Kau menembak dindingku," Nathan mengingatkannya. Ia melangkah mendekati Jessica dan berdiri di samping gadis itu, melihat peluru yang menembus dinding. "Aku akan mengatakan itu benar-benar buruk."


"Setidaknya tidak ada yang terluka," kata Jessica, masih mencoba melihat sisi positifnya.


"Terlepas dari dinding," Nathan menjawab sebelum dia mendengus. Dia tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya pada Jessica. Gadis itu tersenyum kecil saat Nathan kembali berdiri di sampingnya. "Kurasa itu bisa lebih buruk, Jessica. Aku akan mengirimkan tagihan ke pinjaman pelajarmu, nanti."


"Terima kasih banyak," jawab Jessica dan Nathan hanya tersenyum mengejek sebelum tiba-tiba mereka mendengar ketukan dari arah pintu.


Nathan berbalik dan berjalan mendekat ke arah pintu rumahnya. Tubuhnya menegang saat mencoba menatap ke lubang pintu. Sementara Jessica menatap gerakan Nathan lalu menoleh sekilas ke arah lubang peluru tadi. Dia kembali berbalik begitu dia mendengar suara dari ayahnya yang tengah memasuki ruangan.

__ADS_1


"Jessica, kita pergi sekarang."


***


__ADS_2