
"Ini menarik, namun juga rumit di saat yang bersamaan," Nathan kembali berbicara setelah beberapa saat mengerjakan sesuatu di laptop milik Dimitri.
Jessica yang berdiri di sebelah kanannya, membungkuk dan meletakkan sikunya di atas meja, sementara kepalanya di topang oleh tangannya yang ada di dagu. Nathan sesekali terlihat menolehkan matanya, menatap ke arah Jessica untuk beberapa alasan yang bahkan tidak ia ketahui.
"Bisakah kau masuk ke dalam sistemnya?" sebuah suara tegas tiba-tiba bertanya.
Nathan dan Jessica sontak saja berbalik untuk melihat ke arah sumber suara. Itu Robert, yang saat ini terlihat berdiri di dekat mereka, mengintai kegiatan mereka di dekat layar besar dengan matanya yang terfokus pada Nathan.
Jessica memilih untuk berdiri tegak, merapikan kain kusut pada gaun yang ia kenakan sebelum kemudian melangkah mundur, agak menjauh dari Nathan.
"Tentu saja. Aku yang membuat sistem ini sebelum dia berhasil memanipulasinya, jadi tentu saja aku harus bisa." Nathan berbicara, senyum sinis terlihat di wajahnya saat dia menjawab pertanyaan Robert itu.
Nathan lalu menoleh, melihat pada layar besar yang saat ini menunjukkan serangkaian garis pada gambar di layar. Mulut Jessica tanpa sadar menganga melihat pola yang ada di layar besar itu. Bukankah ini luar biasa, karena ia pernah melihat yang seperti ini di film-film yang ia tonton sebelumnya.
Robert kemudian datang untuk berdiri di sebelahnya, meletakkan tangannya di punggung anaknya sambil terus menatap laptop yang ada di atas meja itu.
Nathan menghela napasnya kasar. "Ini aneh. Setiap kali aku mencoba untuk mendapatkan akses masuk ke laptop, datanya berubah. Sepertinya ini membutuhkan password dan-"
"Berhenti," tiba-tiba Robert memotong ucapan pria muda itu.
Jessica melihat ke layar, mencoba mencari tahu apa yang sedang dilihat sang ayah.
"Itu! Bentangan garis berwarna merah yang ini seperti membentuk lingkaran. Dan titik yang berada di tengah lingkaran, bukankah itu adalah stasiun kereta bawah tanah lainnya yang ada di jalur ramai kota. Stasiun ini memang sudah ditutup selama bertahun-tahun yang lalu. Tapi cobalah sebagai passwordnya... entah nama jalan, atau nama stasiunnya."
"Astaga," Nathan berbicara kaget begitu dia melihat layar mulai berubah setelah ia memasukkan salah satu dari yang di sebutkan Robert barusan. "Ini berhasil! Aku berhasil masuk."
Jessica ikut menyaksikan garis merah mulai kembali muncul setelah Nathan berhasil memecah passwordnya. Sebuah gambar lain muncul. Nathan kini mengangkat tangannya untuk memperbaiki letak kacamatanya lebih jauh ke pangkal hidungnya, sebelum kemudian dia melihat Robert berjalan bolak balik di dekat layar, pikirannya kini berusaha untuk mencoba berpikir dengan keras tentang gambar apa itu.
__ADS_1
"Ini… bukankah ini adalah peta," tiba-tiba Jessica berbicara karena ia mulai memahami apa yang sedang dilihatnya saat ini.
"Ya, benar. Ini adalah peta bangunan dari stasiun bawah tanah yang-"
"Bukan!" Jessica dengan cepat memotong ucapan Nathan. Ia berjalan mendekat pada layar besar itu dan menunjuk gambar yang baru saja muncul. Maksudku yang ini...ini di buat dengan garis putus-putus itu sebabnya tidak terlalu terlihat."
Nathan menatap apa yang barusaja di maksud oleh Jessuca. Ia segera menganggukkan kepalanya setuju dengan gadis itu. "Ya, Jessica benar. Tapi kenapa dia membutuhkan peta ini?"
"Itu karena stasiun bawah tanah dan sesuatu yang ada di peta itu adalah bagian dari rencananya," tiba-tiba Robert kembali berbicara.
"Apa dia ingin melakukan sesuatu pada stasiun bawah tanah itu dan begitu ia berhasil ia akan lanjut melakukan sesuatu lainnya pada sesuatu tempat yang ada di dalam peta itu." Nathan berasumsi.
"Aku berpikiran hal yang sama." ujar Robert setuju.
Robert kemudian berbalik untuk melihat ke arah Jessica dari posisinya berdiri. Namun saat itu juga alisnya terangkat bingung saat sebuah suara sirine berbunyi dengan nyaring.
"Itu suara sirine!" Jessica menjawab.
"Kenapa sirine berbunyi nyaring seperti itu." tegur Nathan pada pegawai yang ada di dekatnya.
"Karena Dimitri berhasil kabur," gumam Robert. "Itu sirine tanda tahanan kabur."
Setelah mengatakan itu Robert kembali menatap ke arah anak gadisnya. "Jessica, kau tetaplah berada di sini dan lakukan apa pun yang diperintahkan Nathan padamu nanti."
"Tapi kemana ayah akan pergi?" tanya Jessica bertanya dengan khawatir saat dia melihat ayahnya mulai berlari pergi.
Jessica hampir mengambil beberapa langkah ke depan untuk mengejar sang ayah yang meninggalkan ruangan itu, sebelum langkahnya terhenti saat tiba-tiba dia merasakan seseorang menahan lengannya.
__ADS_1
Jessica menoleh dan melihat Nathan yang saat ini mencoba menahannya lengannya. "Ayahmu akan mengejar Dimitri." ujar Nathan.
Pria muda itu mencoba menarik Jessica agar kembali ke tempatnya. Jessica tidak berusaha melawan. Ia hanya menatap pasrah pada kenyataan bahwa dia memang tidak bisa mengejar ayahnya.
"Ayahmu pasti akan baik-baik saja," Nathan berujar mencoba menenangkan dan menarik Jessica agar mengikutinya kembali ke tempat tadi. "Ayolah kita bisa menunggu ayahmu di sini. Akan berbahaya jika kau mengikutinya."
Jessica membiarkan Nathan menarik lengannya saat mereka melihat kilatan dari laptop milik Dimitri. Nathan berlari kembali ke mejanya dan bisa melihat dengan jelas kata-kata yang tercantum di layar laptop itu.
Bukan anak yang begitu pintar.
Nathan menggeram saat membaca kalimat itu. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Sial, sial, sial!" Nathan berujar kesal sambil mengusak rambutnya kasar setelah membaca kalimat itu.
Jessica hanya diam di tempatnya. Ia bahkan merasa bingung saat mendengar kata umpatan yang Nathan ucapkan barusan.
"Bisakah seseorang menjelaskan kepadaku bagaimana dia bisa meretas ke sistem kita? Laptop ini sudah aku masukan ke dalam sistem kita, lalu bagaimana dia bisa meretasnya." Nathan berteriak pada banyaknya pekerja yang ada di ruangan itu.
Para pekerja yang ada di sekitarnya tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada kalimat apapun yang keluar dari mereka. Orang-orang itu menunduk sebagai tanggapan atas pertanyaan Nathan barusan. Dan Nathan dengan cepat menutup laptop milik Dimitri itu.
Kenapa dia masuk ke sistem? Aku-lah yang membuat sistem itu. Dia bukan programmer, lantas bagaimana dia bisa melakukan ini.
Nathan berbalik dan berjalan ke kembali ke arah meja kerjanya. Ia dengan rasa kesal menggebrak meja dan menyandarkan kedua telapak tangannya di meja itu sambil menatap layar besar di dinding. Nathan tidak percaya bahwa ini baru saja terjadi padanya. Ini membuat Nathan benar-benar terpukul. Ia frustasi!
"Dia meretas sistem organisasi ini," gumam Jessica pelan pada dirinya sendiri. Sangat pelan, sehingga Nathan yang ada di sebelahnya tidak bisa mendengar ucapannya.
Jessica tidak percaya dalam arti tertentu. Ia kini merasa bingung bahkan Jessica tidak pernah berpikir bahwa siapa pun bisa masuk ke sistem organisasi pemerintah seperti ini. Bayangkan! Pria bernama Dimitri itu meretas sistem pemerintah? Bukankah itu sudah bisa menunjukkan betapa pintarnya pria bernama Dimitri itu.
__ADS_1
***