
"Tunggu dulu sebentar!" pinta Nathan membuat Dimitri menaikkan sebelah alisnya.
"Apa lagi sekarang? Kau akan mengancamku dengan melemparkan komputermu itu?"
Tanpa pikir panjang lagi, Nathan kemudian bergerak dengan cepat mendekat untuk memegang lengan Jessica. Namun anak buah Dimitri kembali menahannya. Ia bisa merasakan ujung dari senjata milik anak buah Dimitri itu masih di todongkan padanya bahkan menempel di kepala bagian belakangnya.
Dimitri menatap Nathan yang baru saja bergerak tiba-tiba. Nathan balik menatap Dimitri dengan raut wajah canggung.
"Aku hanya… kurasa tidak aku tidak bisa membiarkannya pergi dengan pakaian setipis itu denganmu. Kau pasti tidak akan memperdulikan betapa dia akan kedinginan nanti. Jadi bisakah dia pergi dengan mantel," Nathan dengan canggung berbicara dan terlihat alis Jessica berkerut bingung.
Dimitri tidak menginyakan dan juga tidak menolak. Ia hanya diam di posisinya. Dan itu adalah tanda bagi Nathan untuk segera melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Nathan lalu dengan cepat mengambil mantel dari sandaran kursinya. Dia bergerak maju, mendekat pada Jessica. Dimitri kemudian melepaskan pegangannya dari lengan gadis itu untuk beberapa saat. Dia menyaksikan saat Nathan memasangkan mantel di tangannya pada bahu Jessica kemudian menarik-narik mantel itu untuk mengeratkannya, agar tidak jatuh.
"Apakah kau akan membunuhnya?" Nathan bertanya. Itu adalah pertanyaan bodoh dan dia bisa melihat dengan jelas saat wanita itu bergidik ngeri.
"Tidak… jika Robert menyerah," jawab Dimitri, melirik Jessica. "Lagipula bukan gadis ini yang aku inginkan."
"Aku tahu itu." jawab Nathan mengangguk.
__ADS_1
Tatapan Nathan tetap tertuju pada Jessica saat dia menggunakan tangannya untuk menyisir rambut gadis itu, menjauhkan rambut itu dari wajah Jessica. Jarinya menyentuh pipi Jessica saat dia melakukannya.
Nathan menghela kemudian mengambil saputangan miliknya yang ada di dalam kantong celananya, sebelum kemudian menyapukan saputangan itu di sudut bibir Jessica yang ternyata terluka akibat tamparan yanh di lakukan bawahan Dimitri tadi.
"Jangan khawatir," kata Dimitri kemudian, "Kau bisa mendapatkannya kembali setelah kami selesai dengan ayahnya."
"Ya," kata Nathan, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Terima kasih ... jelas ... itu… ya… itu terdengar lebih baik ..."
"Kau baik-baik saja?" Jessica memastikan dan Nathan mengangkat bahunya.
"Mereka tidak menyentuhku sedikitpun." ujar Nathan terus mengoleskan saputangan pada luka Jessica.
"Bagus." Jessica tersenyum.
Nathan kemudian mendekat pada Jessica, berpura-pura merapikan kerah bagian belakang mantel.
"Aku akan mencari cara untuk menyelamatkanmu." bisik Nathan di telinga Jessica sehingga hanya gadis itu saja yang bisa mendengar ucapannya.
Jessica bergerak cepat, menempelkan bibirnya ke pipi Nathan. Merasakan itu, Nathan terkejut dan tubuhnya membeku untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia mengumpulkan kesadarannya dan berbisik kembali pada Jessica.
__ADS_1
"Aku akan mengawasimu," Nathan mencoba meyakinkannya Jessica. "Tidak ada yang akan terjadi padamu."
Jessica menutup matanya saat dia memindahkan kepalanya ke leher Nathan. Ia mencoba untuk memeluk pemuda itu meski tangannya masih dalam kondisi terikat.
Akhirnya, karena tak tahan menyaksikan adegan itu, Dimitri segera bergerak kemudian meraih lengan Jessica lagi.
"Itu adegan yang sangat menyentuh," komentar Dimitri kemudian. "Ya, aku bisa mengatakan bahwa itu agak memuakkan."
Nathan tidak berkata apa-apa saat Dimitri mulai melangkah keluar dari ruangan, tidak menatap Nathan lagi. Dimitri jelas berpikir bahwa Nathan adalah bagian yang sama sekali tidak penting saat ini dan Dimitri yakin kalau Nathan pasti tak berbahaya untuk rencananya.
Ya, Dimitri berpikir kalau dia bahkan telah berhasil meretas sistem dari organisasi negara dan mengalahkan kemampuan dari Nathan. Jadi, tidaklah heran jika saat ini dia meremehkan Nathan bahkan berpikir bahwa Nathan sama sekali tidak kompeten.
Jessica menoleh ke belakang untuk melihat Nathan sejenak. Dan gadis itu mengangguk tegas sebelum akhirnya dia hilang dari pandangan Nathan. Kini Nathan ditinggalkan sendirian di dalam ruangan itu.
Nathan menjatuhkan saputangan ke atas lantai dan berbalik untuk mencari komputer yang tidak di hancurkan Dimitri dengan senjatanya. Ia bergegas mengerjakan sesuatu di komputer itu.
Nathan menghentikkan pekerjaannya dan menghela napasnya untuk beberapa detik. "Jika Mr. Robert berhasil selamat dari ini semua maka dia pasti akan membunuhku," gumam Nathan.
Ia lalu kembali melanjutkan pekerjaannya di komputer itu sambil mengetik dengan sedikit tergesa-gesa.
__ADS_1
"Dan itu sama sekali bukan cara menghadapi kematian yang aku inginkan selama hidupku. Aku kan ingin mati dengan terbaring di ranjang rumah sakit di hari tuaku, bukan mati di tangan Robert Anderson."
***