
Jessica tidak benar-benar tahu bagaimana harus bereaksi ketika dia melihat Nathan melalui kaca kamar rawatnya. Reaksi pertamanya saat melihat pemuda itu adalah kaget. Bayangkan saja, dia bisa melihat bahwa sudut bibir pemuda itu terlihat berdarah. Kali ini ia tak menggunakan kacamata. Dan itu memperlihatkan memar keunguan yang terbentuk di dekat matanya juga ada luka memar lain di pelipis dan beberapa tempat lainnya.
Saat ini pemuda itu tengah mengenakan pakaian rumah sakit berwarna biru dengan selimutnya yang ditarik ke atas dadanya.
Jessica belum bisa masuk kedalam, karena saat ini Regina masih berada di dalam ruangan rawat bersama dengan Nathan, berbicara sesuatu dengan nada yang pelan. Mungkin itu sesuatu yang rahasia, tak masalah.
Sementara itu Jessica masih tetap berada di luar ruang rawat bersama Evelyn, menunggu untuk beberapa saat, memberi waktu pada Regina.
Jessica menutup kedua matanya. Ia bisa merasakan sakit kepala mulai muncul saat dia menyandarkan dahinya ke dinding yang dingin.
"Jessica," Evelyn tiba-tiba berbicara.
Jessica membuka matanya dan mengerjap saat merasakan pandangannya yang kabur. Dia menoleh dan bisa melihat Regina yang tengah berdiri di dekat pintu, lengannya terlipat di dada saat dia memperhatikan gadis muda itu.
"Kau bisa masuk sekarang," ujar Regina berbicara dengan nada pelan. "Kami akan meninggalkanmu dulu beberapa saat. Setelah ini, Evelyn akan datang lagi ke sini untuk mengantarkanmu pulang, jadi-"
"Em, bisakah aku tidak pergi?" Jessica bertanya-tanya dengan nada yang terdengar memohon.
"Kau ingin di sini?" Regins bertanya bingung.
"Ya, sebenarnya aku tidak ingin meninggalkan Nathan sendirian di tempat ini. Lagi pula, bukankah sejak awal ayahku menginginkan aku di sini, maka pasti ada alasan di baliknya. Aku harus tetap di sini dan melakukan apa yang ayahku katakan."
Regina menarik napas dalam-dalam dan mengangguk padanya, ia menatap Evelyn dengan senyum simpul.
"Pulanglah, Evelyn," ujar Regina. "Aku memiliki seorang agen yang berpatroli di dekat lorong dan seorang lagi yang berjaga di dalam bangsal demi keselamatan Nathan. Tidak diragukan lagi, Jessica di sini juga harus dilindungi."
__ADS_1
"Baik, bu," kata Evelyn sambil menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya meninggalkan lorong itu.
Regina membukakan pintu untuk Jessica. Gadis muda itu melangkah masuk, melihat ke arah Nathan saat pemuda itu balas menatapnya dengan mata menyipit.
"Jessica," Nathan menyebut namanya dengan nada suara yang lembut. "Syukurlah kau di sini."
"Tentu saja aku di sini," jawab Jessica, perlahan pindah ke samping tempat tidur Nathan. "Aku akan datang terlepas dari apa pun."
"Maksudku, untungnya kau ada di sini," jawab Nathan bersikeras. "Sebenarnya, aku mendengar langsung dan melihat apa yang sudah Dimitri rencanakan. Aku ada di sana ketika mereka membuat rencananya. Dan mereka mengatakan akan meledakkan markas bawah tanah organisasi. Itu sebabnya kau harus datang kemari, agar kau aman."
Jessica menganggukkan kepalanya paham. "Aku sudah aman di sini."
"Dimitri, dia menunjukkan rencananya pada Robert dan itulah alasannya mengapa ayahmu bersedia pergi bersamanya. Dimitri tahu bahwa Mr. Robert telah meninggalkan dirimu di sana dan sudah jelas kalau itu adalah ancaman yang bagus untuk ayahmu."
"Lalu... apakah Dimitri yang sudah melakukan hal ini padamu?" Jessica bertanya-tanya, menunjuk Nathan dengan dagunya, sementara kedua tangannya kini bertengger di sisi tempat tidur Nathan.
"Bukan dia, tapi salah satu anak buahnya lah yang melakukannya padaku," kata Nathan. "Anak buahnya yang menjagaku-lah yang sudah memukuli aku. Ya, salahku sendiri karena kadang-kadang aku tidak pandai untuk menahan lisanku. Itu adalah salah satu sifat burukku, kurasa. Aku sering berbicara sebelum berpikir."
"Aku minta maaf untuk semua ini, Nathan," bisik Jessica pada pemuda itu, ia lalu menundukkan kepalanya. "Kalau aku ti-"
"Aku tahu kau akan mulai menyalahkan dirimu sendiri atas semua ini." Nathan terkekeh. "Dengar, semua ini sama sekali bukan salahmu, Jessica. Kau harus berhenti menyalahkan dirimu sendiri."
"Bagaimana aku tidak menyalahkan diriku?" Jessica berujar. "Semua yang terjadi sudah jelas karena aku! Dengar Nathan, aku bahkan melihat kereta yang penuh dengan orang mati... aku melihat semuanya di sana... dan... bom-nya…"
"Itu Dimitri yang melakukannya. Dia yang meletakkan bom itu di sana," Nathan mengingatkan. Ia kemudian memberanikan diri menggerakkan tangannya ke atas lengan gadis itu, perlahan mengusap blazer yang di kenakan Jessica.
__ADS_1
"Ayahmu telah mengalami banyak situasi sulit, Jessie." bisik Nathan. Perlahan ia mencoba menegakkan tubuhnya yang sakit, sehingga wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Jessica. "Dia akan keluar dari kekacauan ini, Jessica."
"Apakah situasinya pernah separah ini?" Jessica bertanya pada Nathan. "Ayah bilang ini sulit, bahkan untuknya."
"Mr. Robert adalah agen yang baik. Dimitri bahkan tidak punya peluang untuk mengalahkan ayahmu." Nathan mencoba untuk menenangkan pikiran gadis itu. "Dan kau harus tetap percaya itu."
"Aku akan melakukan yang terbaik untuk percaya bahwa ayahku akan menyelesaikan semuanya." ujar Jessica pada lelaki itu.
Jessica mengangguk, perlahan ia menarik Nathan, mencoba memeluknya. Nathan mendekatkan dirinya pada Jessica dan menempelkan kepalanya, bersandar padanya.
Jessica perlahan melepaskan pelukan mereka, ia lalu mencium pipi Nathan yang bebas dari memar. Begitu merasakan itu, Nathan sontak memejamkan matanya, napas Jessica yang hangat menerpa kulit pucatnya.
"Aku akan menjagamu," Nathan tiba-tiba berujar pada Jessica sesaat setelah dia membuka matanya untuk melihat gadis itu lagi.
"Kurasa di sini kau-lah yang perlu dijaga," jawab Jessica terkekeh.
"Aku serius," kata Nathan padanya. "Aku tidak akan membiarkan Dimitri menyerangmu lagi, Jessica. Dan jika...jika ayahmu tidak menangkapnya...kali ini...maka aku akan-"
"Mari kita berharap ayahku berhasil. Ah tidak, ayahku pasti akan berhasil dan keluar dari semua kekacauan ini," kata Jessica, memaksakan dirinya sendiri untuk tersenyum kecil pada lelaki itu.
Nathan mengangguk pada Jessica. Sebenarnya keyakinannya pada Robert sedikit goyah tadi.
"Ah, dan juga..." Jessica berdehem sebentar, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Selain itu, kita perlu membuat sebuah janji yang lebih dahulu sebelum kau berniat untuk menjagaku."
"Seperti apa?" Nathan bertanya-tanya.
__ADS_1
"Pergi berdua."