
Jessica menatap dengan gugup ketika pria bertubuh jangkung itu berbalik untuk menatap ke arahnya. Pria itu tampak mengeratkan jasnya sebelum dia melihat pintu yang terbuka di belakang gadis itu.
"Ck, ck, " gumamnya tersenyum sinis. "Kau seharusnya tidak membiarkan pintu tetap terbuka seperti itu, Jessica."
Jessica tak menjawab. Gadis itu hanya melirik pintu yang ada di belakangnya.
"Sejujurnya, aku tahu ibumu yang menyeretmu untuk datang kemari. Dia yang membuatmu bersedia kemari tapi pasti kau punya akal sehat kan?"
Pria itu melewatinya dengan santai menuju pintu sementara Jessica tetap berdiri di tempatnya dengan kaget.
Jessica melihat sekeliling, bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membela diri jika terjadi sesuatu. Sebuah ide muncul, dia bisa berhasil mendorong pria itu arah air panas atau mungkin menyiramnya dengan air panas. Dia yakin akan hal itu. Ya, meskipun Jessica juga tahu bahwa ada kemungkinan air panas itu pasti akan mengenai dirinya.
Dia memiliki pilihan lain, sebuah cangkir kopi yang ada di dekat kompor. Jessica menyimpannya, memegangnya dengan eray di belakang tubuhnya dan menunggu suara pria itu mengunci pintu.
__ADS_1
"Jadi, Jessica," katanya sambil berjalan kembali ke arahnya dan Jessica bersembunyi di balik pintu, siap untuk menghajar orang itu. "Aku terkesan denganmu, aku-"
Pria itu sedikit tersentak begitu dia melihat gerakan mendadak dari Jessica yang mencoba untuk memukulnya.
Jessica seharusnya tahu bahwa dia tidak cukup cepat. Pria itu dengan mudahnya memegang pergelangan tangannya dan langsung memelintir tangan Jessica di belakang punggungnya, membuat cangkir yang dia pegang itu langsung jatuh dari tangannya.
Sambil memegangi tubuh Jessica, pria itu kemudian mendorong tubuh gadis ke depan, membuat tubuh Jessica menghantam ujung meja. Jessica memekik saat merasakan tubuhnya terkena ujung meja. Lalu pria itu dengan kasar menekankan pipi Jessica ke marmer yang dingin.
"Dimana dia?" Jessica membentak. "Di mana ibuku? Apa yang kau lakukan padanya, brengs*k?"
Dia menekankan tangan Jessica lebih jauh membuat gadis itu semakin memekik.
"Kau memang memiliki mulut yang kotor," katanya pada Jessica. "Itu bukan kualitas yang baik dari gadis terpelajar sepertimu. Aku mendengarkan ketika ibumu meneleponmu untuk memberitahumu tentang perpisahan kami. Harus kuakui bahwa aku sangat terluka. Aku ini calon ayah tiri yang penyayang, Jessica. Kau tahu itu."
__ADS_1
"Kau brengsek," Jessica berujar tajam padanya dan dia merasa pria itu melepaskannya untuk sejenak.
Dia memutar tubuh Jessica lalu menghempas Jessica ke lantai. Jessica mulai merangkak, melakukan yang terbaik untuk sampai ke ambang pintu. Dia sepertinya punya ide lain.
Namun pria itu dengan cepat menjambak rambutnya, menarik rambut Jessica hingga membuatnya berdir. Jessica menjerit kesakitan saat pria itu meraih pergelangan tangannya, mendorongnya dan menahan tubuhnya ke dinding yang putih bersih.
"Kusarankan kau tutup mulutmu jika kau masih ingin melihat ibumu lagi," bisiknya pada Jessica. "Aku tidak ingin membunuhnya. Aku bahkan tidak ingin membunuhmu. Aku hanya ingin ayahmu melakukan sesuatu untukku."
"Kenapa?" Jessica bertanya-tanya. "Apa yang kau inginkan, John?"
Pria itu... yang ternyata adalah John, tersenyum sinis pada Jessica. "Kau akan segera mengetahuinya, Jess. Kau akan segera mengetahuinya..."
***
__ADS_1