
Jessica tidak tahu sudah berapa lama dia berada di lantai dingin itu. Ia juga tidak bisa menebak sudah berapa lama dia terkurung di tempat ini. Tidak ada jendela yang bisa menunjukkan hari masih siang atau malam.
Saat ini ia telah menutup matanya dan menahan rasa sakit yang ia menyerangnya. Sesekali Jessica akan melihat ke bawah tubuhnya dan samar-samar dia bisa melihat darah yang merembes keluar dari paha atasnya. Dia tidak bisa merasakan sakit di kakinya yang terbakar, tapi dia bisa merasakannya dari kakinya lain yang terluka. Jessica berusaha untuk tak percaya bahwa pisau milik John telah menembus begitu banyak bagian di kulitnya.
John telah pergi meninggalkannya sendirian di lantai bawah tanah di dalam kegelapan. Satu-satunya lampu yang ada pun telah dimatikan dan yang bisa didengar Jessica saat ini hanyalah suara napasnya yang tidak menentu. Jessica merasa seolah-olah dirinya tengah berada dalam film horor sekarang.
Sebelumnya Jessica telah berhasil melepas jaketnya dan dia menempelkannya pada lukanya yang terbuka, mencoba untuk menutup lukanya agar tidak terlalu banyak mengeluarkan darah.
Tidak lama kemudian John kembali dan mulai menjahit kembali lukanya. Jessica bersandar ke dinding, tangannya kini terikat dan pergelangan kakinya juga diikat saat John menjahit luka di tubuhnya.
"Kenapa kau melakukan ini?" Jessica bertanya padanya.
John menatap wajah Jessica yang saat ini terlihat memerah dengan rambutnya yang begitu berantakan. Dia mengangkat bahunya acuh dan Jessica mengerang pada rasa sakit dari jahitan yang bergerak ke kulit pucatnya. Dia meringis ketika akhirnya John selesai dengan pekerjaannya dan dia melihat ke bawah pada pekerjaan yang tidak sedap dipandang yang baru saja dia lakukan.
"Aku tidak ingin menghancurkanmu terlalu banyak, Jessica. Membiarkanmu mati kehabisan darah bukanlah hal yang menyenangkan. Ayahmu tidak akan punya alasan lagi untuk memenuhi permintaanku kalau aku membunuhmu... tapi... yah... dia memang perlu melihat betapa hancurnya dirimu ketika aku menghubunginya nanti. Itu pasti akan membuatnya mau tak mau akan menuruti perintahku."
Jessica tetap diam saat itu. Ia lebih memilih untuk memusatkan perhatiannya pada rasa sakit yang dia rasakan pada saat itu.
***
Saat ini, Nathan tengah berada sendirian di kantor untuk membuat kunci cadangan yang akan di gunakan sebagai umpan menangkap penjahat itu. Beberapa saat yang lalu ia telah menelepon dan meminta Alice untuk datang. Dan gadis itu mengatakan padanya kalau dia akan tiba di kantor organisasi secepat yang ia bisa.
__ADS_1
Sementara itu, saat ini Robert sendiri lebih memilih untuk pergi keluar, mengembara. Mungkin begitu Nathan bisa menyebutnya. Lagipula Robert juga pasti tidak dapat membantu apapun atas apa yang sedang dikerjakan oleh Nathan saat ini.
Nathan masih sedang sendirian ketika dia melihat sebuah email muncul di komputernya. Nathan membukanya dengan tergesa-gesa dan melihat tautan di dalam email itu. Webcam menyala lagi dan Nathan melihat Jessica sekali lagi. Dia memandang dengan ngeri saat dia melihat ke arah paha atas dari gadis itu. Nathan berjuang untuk tetap menatap pada pemandangan itu. Ia bahkan hampir merasa mual saat melihat darah kering yang menodai gaun dan kaki Jessica.
"Apakah Robert masih tidak bersamamu?" tanya suara di seberang sana.
"Tidak," bentak Nathan. "Apa kau gila? Apa yang telah kau lakukan padanya?"
"Ya, aku tau tidak akan ada yang tidak bisa diperbaiki," ujar orang itu sambil berjalan di belakang Jessica. "Aku harus membuat Robert melihat bahwa ini bukanlah sebuah lelucon."
"Bukan begitu," kata Nathan. "Kau sudah menculik putrinya. Apakah itu tidak cukup? Kenapa kau harus melukainya seperti ini juga?"
"Tidak," jawab orang itu. "Kurasa tidak. Dia baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Dia hanya sangat pendiam saat ini."
Jessica diam di posisinya, dia memikirkan apa yang telah John katakan padanya sebelumnya. John mengancamnya, jika dia berani berteriak dan memberitahu di mana dia berada maka John akan membuat luka di kaki Jessica yang lain.
Jessica menelan ludahnya kasar dan berpikir untuk beberapa saat. Tidak ada lagi yang penting baginya. Dia telah kehilangan ibunya. John bisa menyakiti ayahnya. Dia juga bisa menyakiti Nathan jika dia mau. Sakit di kakinya yang lain tidak akan menjadi masalah. Satu hal yang harus dia lakukan, dia harus menghentikan pria ini melakukan hal yang salah.
Membulatkan tekat, Jessica harus melakukan hal yang menurutnya benar, bahkan jika itu berarti mengorbankan dirinya sendiri. John bisa menyiksanya sebanyak yang dia mau. John bisa menyeretnya ke rumah rahasia yang lain dan bisa dengan perlahan membunuhnya di sana.
Ya, setidaknya dia akan mencoba.
__ADS_1
"Nathan," Jessica memanggil nama pemuda itu saat John berjalan agak menjauh darinya ke sisi lain dari ruangan itu. Jessica berusaha sebaik mungkin untuk mengingat alamat yang telah disebutkan John pada di telepon. "Aku di Jalan Antasari No. 48! Dia membunuh ibuku. Dia adalah John, Nathan! Dia-lah yang sudah-"
Suara Jessica terputus ketika John dengan cepat membungkuk dan meletakkan tangannya di mulutnya. John dengan cepat membanting laptopnya ke atas lantai. Ia meremukkan laptop itu sebelum dia mulai melepaskan ikatan di tangan Jessica.
"Pilihan bodoh, Jessica," desis John padanya. "Apa kau pikir mereka akan tiba di sini tepat waktu? Apakah kau pikir ayahmu bisa menyelamatkanmu?"
"Kau tidak bisa melakukan ini," jawab Jessica. "Aku harus mencoba... aku harus menghentikan..."
"Oh tidak, Jessica," John menggelengkan kepalanya, mengangkat gadis itu ke atas bahunya sebelum kemudian dia mulai bergerak dari ruang bawah tanah. "Kau memang gadis nakal, Jessica. Apa kau tahu apa yang akan terjadi pada gadis nakal sepertimu, Jessica?"
Jessica meronta-ronta di atas bahu John saat pria itu bergerak menyusuri lorong rumah dan mengambil pintu di sebelah kiri. Jessica mendongak, melihat pemandangan yang menunjukan kalau dia tengah ada di garasi. Suara bip datang dari arah depan dan suara bagasi mobil yang terbuka terdengar di telinganya.
"Bagi anak nakal.... mereka akan dihukum, Jessica!" ujar John memberitahunya kemudian menjatuhkan tubuhnya ke dalan bagasi mobil
Jessica mulai berteriak sebelum dia merasakan tangan John dengan cepat menutupi mulutnya dan dengan cepat pria itu meraih kain yang ia dapat dari sudut bagasi mobil. John menarik kain itu dan dengan cepat memasukkannya di mulut Jessica.
Jessica terus memekik dan mencoba berontak. Dan saat itulah John mencekiknya sampai dia tidak bisa berteriak lagi.
"Sekarang diamlah," kata John. "Aku akan berurusan denganmu nanti."
Jessica mencoba bergerak dengan tubuhnya yang terasa lemas, tetapi terlambat karena John yang dengan cepat menutupnya. Dan Jessica kembali diselimuti kegelapan sekali lagi.
__ADS_1
***