
"Kau biarkan dia pergi!"
Kemarahan dari Robert itu sudah cukup untuk membuat Nathan tersentak di tempatnya. Saat ini ia berdiri di depan komputernya, melakukan yang terbaik sebisanya untuk melacak Jessica, tetapi tampaknya orang lain memiliki ide yang sama. Satu kali saat dia ditunjukkan berada di Australia, dan selanjutnya dia berada di Malaysia. Seseorang tidak ingin Jessica ditemukan.
Saat ini Nathan melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri dan tidak membiarkan amarahnya menguasai dirinya. Dia tidak tahu berapa banyak lagi yang bisa otaknya terima dari segala kegilaan ini.
Ini semua memang salahnya. Dia seharusnya menghentikan Jessica. Dia seharusnya menangkapnya dan memeluknya, menjaga pertahanannya saat dia memohon atau bahkan memukulnya. Dia seharusnya tidak membiarkannya pergi dengan cara mencium dirinya.
Nathan merasa sangat bodoh.
"Aku tidak bermaksud!" Nathan membentak, suaranya yang gelisah. "Putrimu punya pikirannya sendiri, Robert. Kita tidak bisa meragukan itu. Dialah yang membodohi dan lari begitu saja. Itu tidak ada hubungannya denganku. Aku tidak mengizinkannya pergi. Aku bahkan menyuruhnya kembali ke dalam."
"Kau seharusnya berusaha lebih keras!" Robert menggeram, "Apa yang bisa kau lakukan sekarang?"
"Aku melakukan yang terbaik untuk menemukannya," Nathan berjanji padanya. "Tapi sejak tadi aku terus melawan seseorang yang memiliki kemampuan sama baiknya denganku. Mereka juga mengawasi lokasinya dan bahkan terus mengubah lokasinya. Mereka telah meretas alat pelacak yang aku masukkan di ponsel Jessica. Satu detik Jessica berada di Qatar dan selanjutnya dia ada di Rusia."
Robert memutar matanya dan menggertakkan giginya.
__ADS_1
Nathan bisa merasakan kemarahan Robert dan dia tahu rekan kerjanya itu juga merasakan kesal. Robert ayahnya, dia pasti kesal melebihi Nathan.
Saat ini mereka semua bekerja sekeras yang mereka bisa untuk mengubah kode yang telah dicuri, serta berusaha menemukan Jessica.
Diam-diam Nathan kembaki teringat saat terakhir dia melihat punggung Jessica yang berlari meninggalkannya. Dia telah menyaksikan Jessica yang menghilang dan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia merasa... tidak berguna.
"Aku akan menemukannya," Robert berujar.
"Dengan apa?" bertanya-tanya Nathan. "Kita tidak tahu di mana dia saat ini. Jika kau mengelilingi kota ini juga tidak akan membantu membawanya kembali."
"Dan apakah kau pikir jika aku berdiri di depan meja komputermu akan membantu membawanya kembali?" Robert menjawab. Nada bicaranya tajam dan seakan memperingatkan Nathan untuk menutup mulutnya saja.
Nathan menarik napas dan mengangguk. Ia sadar bahwa Robert memang tidak akan bisa berbuat apa-apa di sini. Robert tidak cukup terampil untuk membantu melacaknya Jessica.
Itu adalah pekerjaan Nathan.
"Ya," kata Robert.
__ADS_1
"Kita akan menemukan Jessica lagi," Nathan berujar pada Robert, melakukan yang terbaik untuk membuat pria itu tetap optimis.
***
"Dengan apa?" bertanya-tanya Nathan. "Kita tidak tahu di mana dia saat ini. Jika kau mengelilingi kota ini juga tidak akan membantu membawanya kembali."
"Dan apakah kau pikir jika aku berdiri di depan meja komputermu akan membantu membawanya kembali?" Robert menjawab. Nada bicaranya tajam dan seakan memperingatkan Nathan untuk menutup mulutnya saja.
Nathan menarik napas dan mengangguk. Ia sadar bahwa Robert memang tidak akan bisa berbuat apa-apa di sini. Robert tidak cukup terampil untuk membantu melacaknya Jessica.
Itu adalah pekerjaan Nathan.
"Ya," kata Robert.
"Kita akan menemukan Jessica lagi," Nathan berujar pada Robert, melakukan yang terbaik untuk membuat pria itu tetap optimis.
***
__ADS_1