
Robert bangun pagi-pagi sekali keesokan harinya. Dia melihat ke sekeliling rumah barunya dan bertanya-tanya apakah putrinya sudah bangun. Sebenarnya Robert yakin kalau anak gadisnya itu pasti masih tertidur lelap di kamar tamu. Dan benar saja, gadis itu masih tidur dengan nyenyak di atas sofa.
Semalam Jessica memang menolak ketika Robert menawarkan untuk tidur di dalam kamar yang sudah di sediakan oleh Robert sebelumnya. Ia justru memilih tidur di sofa yang ada di ruang tamu. Koper miliknya bahkan tergeletak begitu saja di salah satu sudut ruang tamu, benda itu terbuka lebar dengan pakaian yang berserakan di mana-mana.
"Kenapa dia memilih tidur di sini?" gumam Robert sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Jessica memiliki tas make up kecil yang juga ia biarkan berserakan di atas meja, bersama dengan pakaiannya yang ia kenakan semalam yang dibuang sembarangan ke atas lantai. Ia baru berada di rumah milik Robert selama kurang dari dua hari tapi dia sudah berhasil membuat rumah milik Robert itu terlihat sangat berantakan.
Robert melangkah mendekat dan duduk di sisi sofa tempat anaknya tertidur. Ia mengangkat tangannya menyentuh bahu anaknya, bermaksud untuk membangunkan gadis itu.
"Jessie, bangunlah!" seru Robert pelan.
Tubuh Jessica perlahan bergerak. Sambil menggerutu tak jelas, ia membalikkan tubuhnya menghadap sang ayah namun masih belum membuka matanya. Dan dia kembali menggerutu kesal saat Robert menyentuh bahunya sekali lagi kali ini di sertai dengan guncangan di tubuhnya.
"Jessie," Robert menyebut namanya dengan nada suara yang begitu lembut. "Hei... apakah kau sudah bangun?"
"Belum."
Jawaban konyol Jessica itu sontak saja membuat Robert tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya sambil menatap anak gadisnya itu lekat.
"Lalu siapakah yang baru saja menjawab pertanyaan ayah?"
"Ya ampun, ayah! Ayolah..." Jessica kembali menggerutu. "Ayah mengganggu tidurku!"
"Kau bangunlah dahulu. Ayah ingin bicara sebentar!" pinta Robert.
Dengan sedikit terpaksa, Jessica akhirnya membuka kedua matanya. Silau matahari dari celah jendela yang terbuka membuat matanya menyipit. Ia menjauhkan rambutnya yang berantakan dan menutupi sebagian wajahnya, kemudian menatap sang ayah.
"Ayah akan pergi sekarang," kata Robert pada gadis cantik di hadapannya ini.
"Ya, baiklah!" jawab Jessica.
"Dengar! Kau harus tinggal di dalam rumah agar selalu aman. Dan ayah harap kau tidak membukakan pintu untuk siapa pun."
Jessica sontak bangkit dari tidurnya. "Tunggu dulu, jadi apakah aku tidak diizinkan untuk keluar dari rumah ini?" ujarnya dengan ekspresi bertanya-tanya.
__ADS_1
"Kurang lebih begitu," Robert mengangguk.
"Tapi ayah... ayah sama sekali tidak punya makanan di dalam kulkas. Tidak mungkin aku tidak membeli makanan. Ayah mau aku makan apa memangnya?"
Robert menghela nafasnya perlahan. Bagaimana dia bisa melupakan hal penting itu? Robert kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Ia tahu kesalahannya. Ia tahu bahwa seharusnya dia mengirim Jessica kembali bersama ibunya saja kemarin atau meminta gadis itu untuk tetap menginap di hotel.
Sudahlah, kalau begitu Robert akan membiarkan saja jika gadis ini ingin keluar. Ia bisa meminta seseorang mengawasi anak gadisnya ini untuk memastikan bahwa Jessica tidak akan melakukan hal bodoh selama Robert pergi nanti.
Bukannya apa. Bagi Robert, Jessica tetaplah seorang gadis muda. Dia sudah cukup dewasa untuk melakukan apa yang dia suka atau tidak. Dan dia tentu akan berontak jika Robert melarang melakukan hal ini dan itu.
"Baiklah. Kalau begitu, kau bisa lakukan apa yang perlu kau lakukan," kata Robert kemudian. Ia lalu menatap Jessica dengan ekspresi serius di wajahnya. "Tapi kau tidak boleh keluar di malam hari. Hanya sampai jam sepuluh."
"Sebelas!" tawar Jessica.
Robert menggeleng, "Tidak, jam sepuluh!"
"Bagaimana dengan setengah sebelas?" Jessica bersikeras.
"Baiklah!" Robert akhirnya menyerah. Berunding tentang jam akan menghabiskan waktunya sia-sia. "Dan ingat, jangan berbuat hal-hal aneh!"
"Sehari, paling lama dua hari," jawab Robert sambil mengangkat bahunya dan menatap anaknya itu dengan tatapan sedih. "Tidak akan terlalu lama."
"Hm," Jessica menghela nafasnya perlahan.
Gamang, Jessica lalu menatap kembali pada sang ayah yang ada di hadapannya. Jika ia boleh jujur, sebenarnya ia masih belum terlalu puas dengan waktu yang ia habiskan bersama ayahnya waktu itu. Ia masih butuh waktu untuk bicara berdua dengan sang ayah. Bercerita tentang ini dan itu, banyak hal. Dan mau bagaimanapun Jessica tetap berharap dalam hati agar ayahnya itu tak pergi.
Jatah liburan di tempat ayahnya ini hanya seminggu saja. Dan karena tugas yang di jalankan ayahnya ini, Jessica harus rela membagi dan juga mempersingkat waktunya. Kegiatan liburannya jadi berantakan.
Benar-benar pekerjaan yang mengganggu. Jessica menggerutu dalam hati.
Jessica masih memilih untuk tetap diam saat tiba-tiba Robert mengacak-acak rambutnya dan membungkuk untuk mencium dahinya.
"Jangan melamun di pagi hari," ujar Robert. "Setelah pekerjaan ini selesai kita akan bertemu lagi."
"Ya, kita akan bertemu lagi dan saat itu ayah harus menemaniku jalan-jalan lagi!" ujar Jessica.
__ADS_1
"Ayah akan usahakan itu untukmu."
Jessica lalu memilih untuk melingkarkan lengannya di leher sang ayah dan menyandarkan dagunya di bahu sang ayah yang tertutup jas.
"Harusnya ayah berjanji, bukan mengusahakannya." omelnya.
"Kalau berjanji artinya ayah akan punya hutang padamu dan ayah tidak mau itu. Sekarang bangunlah dan jangan tidur lagi, oke!" ujar Robert mencoba memperingatkan anak gadisnya.
"Ayah tenang saja, aku tidak akan tidur lagi." ujar Jessica santai.
"Jangan berbohong, ayah tahu persis seperti apa dirimu. Biasanya kau akan memilih untuk tidur lagi, bahkan selama yang kau bisa."
"Ayah mana mungkin mengetahuinya, ayah kan tidak ada di sana selama ini." ujar Jessica tertawa. Ia mencoba menggoda sang ayah.
Jessica lalu melepas rangkulannya pada sang ayah. Dan saat itulah, Robert bergerak untuk mengecup dahi putrinya itu baru kemudian dia berdiri tegak lagi.
"Ya, ayah rasa ayah memang tidak tahu" ujar Robert sambil menganguk setuju dengan ekspresi kaku di wajahnya. "Baiklah, selama ayah pergi, kau jadilah anak baik. Dan ingat, selama ayah pergi jangan sampai ada pesta di rumah ini seperti yang terjadi di rumah ibumu, oke!"
"Sial, bagaimana ayah tahu aku akan melakukan itu?" ujar Jessica kembali menggoda sang ayah. Ia lalu menatap ke arah ayahnya, melihat sang ayah yang hendak meninggalkan kamar tamu. "Ayah sudah merusak rencanaku."
Robert hanya tersenyum sebagai tanggapan, Jessica lalu kembali melanjutkan. Robert melangkah pergi saat ia mendengar gadis itu tertawa.
"Ayah tenang saja, aku tidak punya teman di sini, jadi aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu." ujar Jessica.
Robert kembali terkekeh. "Ayah tau itu!" ujarnya.
Robert lalu meletakkan sebelah tangannya di saku celana saat dia berjalan ke arah nakas untuk mengambil koper berisi pakaian yang sudah dia kemas untuk perjalanannya.
Ia lalu membuka pintu keluar, dan menoleh sekilas pada anak gadisnya.
"Ayah pergi dulu! Sampai jumpa, Jessie."
"Sampai jumpa, ayah."
***
__ADS_1