
Jessica melihat layar ponselnya dan dia mengetukkan ponselnya ke dagunya saat dia menghela nafas dalam-dalam dan Nathan menatapnya.
"Apa kau baik baik saja?"
"Tidak apa-apa," Jessica berbohong. "Dia selalu keras kepala. Dia bersikeras bahwa John adalah pria yang baik untuknya. Aku tidak mengerti bagaimana. Dia begitu takut sendirian ... tapi ... menghabiskan waktunya dengan lelaki bodoh seperti John? Ya ampun, aku justru merasa kalau dia akan lebih bahagia jika sendirian di bandingkan bersama John. Ibu bahkan tidak peduli tentang mengapa John bisa sampai mengobrak-abrik rumah itu."
"Kau terlihat khawatir," kata Nathan padanya.
Nathan terus memperhatikan garis kerutan di dahi gadis itu saat mereka mulai bergerak dari bawah pohon dan menuruni jalanan berbatu. Nathan terus memegang payung di atas mereka saat Jessica menyesuaikan tasnya di bahunya.
"Aku tidak khawatir," Jessica mencoba meyakinkan Nathan. "Aku hanya bingung kenapa John harus mengobrak-abrik rumah. Maksudku... bahkan dia menghancurkan kamarku? Kamarku! Ck, kenapa dia melakukan itu? Kenapa dia meninggalkan ibuku? Kau tau? Semuanya hanya tampak sangat aneh bagiku."
Di sela langkah mereka, Nathan sesekali melihat ke sekelilingnya. Ia selalu sadar bahwa ia harus berhati-hati jika sedang berada di luar seperti ini. Karena sekali lagi, ia bekerja untuk organisasi rahasia pemerintah. Segala hal bisa saja terjadi apalagi segala resiko yang mungkin akan menghampiri karena pekerjaannya itu.
"Aku bisa melihatnya," kata Nathan dengan nada yang lembut. "Jika kau mau aku bisa melihat ke mana John pergi. Aku rasa itu akan mudah untukku."
"Kau akan melakukannya?" Jessica bertanya-tanya. "Apakah kau tidak akan mendapat masalah karena mencaritahu hal yang berada di luar pekerjaanmu?"
Nathan terkekeh dan mereka akhirnya sampai di dekat mobil saat Jessica mengeluarkan kunci mobil dari dalam tasnya. Dia membuka kunci mobil dan Nathan mengantarnya ke sisi pengemudi, membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku justru merasa ragu kalau ada orang yang akan menyadarinya. Dan juga seandainya pun mereka mengetahuinya maka aku bisa dengan mudah menutupi jejakku."
Jessica berdiri di sampingnya, di antara sosoknya dan sosok pria tinggi itu. Dia langsung meletakkan tangannya di bahu Nathan dan bergerak untuk mencium pemuda itu sekali lagi. Nathan segera menarik kembali kepalanya setelah sedetik, menolak dengan halus atas ciuman itu.
"Lihatlah ini, kau membiarkan air masuk ke dalam mobil," kata Nathan padanya.
Jessica terkekeh, "Bolehkan aku melanjutkannya di dalam mobil?"
"Masuklah dan berhenti menggangguku." Nathan mengeluh.
"Aku jarang mendengarmu mengeluh," Jessica akhirnya masuk kedalam mobil dan Nathan segera menutup pintunya saat Jessica memasukkan kunci ke dalam kontak.
Sementara itu di sebelahnya Jessica tengah fokus menyalakan mesin mobil.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Nathan khawatir saat melihat gadis itu memijat pangkal hidungnya.
"Aku tidak apa-apa, hanya sakit kepala sedikit. Ini bukan masalah besar." jawab Jessica.
"Kau yakin?"
__ADS_1
Jesaica mengangguk, "Ya, sebenarnya sakit kepala adalah akibat buruk yang selalu aku dapatkan saat selesai berbicara atau berdebat dengan ibuku." keluh Jessica.
Nathan menganggukkan kepalanya mengerti dan segera memindahkan tas-nya ke belakang. Jessica mulai menancap gas dan memfokuskan pandangan matanya pada jalan raya di depannya, berusaha yang terbaik untuk tidak kehilangan konsentrasi saat menyetir dalam hujan.
Nathan melirik ke arah Jessica, ia menarik napasnya dalam-dalam, sesaat kegugupan menjalari di dalam dirinya. Sebenarnya Nathan hanya suka seseorang mengemudi di saat-saat terbaik. Dia juga tidak terlalu suka hujan deras saat mengendarai mobil.
"Kenapa kau tidak mampir ke kafe saja?" Nathan mencoba menyarankan setelah dia menelan ludahnya. "Kita bisa minum dan makan malam dahulu. Mungkin hujan akan berlalu..."
"Kapan bis terakhir selesai beroperasi?" Jessica bertanya-tanya. "Apakah kita akan sampai di terminal tepat waktu? Apakah bisnya tidak akan terlambat nanti?"
"Oh, jangan khawatir," jawab Nathan dengan buru-buru. "Bis terakhir akan pergi pukul sepuluh malam ini. Kita punya banyak waktu."
"Kedengarannya bagus bagiku," Jessica menjawab sambil menganggukkan kepalanya.
Dia terus mengemudi di jalanan berniat mencari kafe untuk mereka makan, sesekali ia memeriksa kaca spion mobilnya. Setelah melihat beberapa kali, ia akhirnya menyadari mobil yang sama terus mengikuti mobil mereka sepanjang waktu.
Awalnya Jessica tidak merasa aneh. Dia bahkan sama sekali tidak menganggap kalau itu adalah hal yang mencurigakan. Tapi Jessica mulai curiga dan mempertanyakan keanehannya ketika dia memutuskan untuk masuk ke sebuah parkiran kafe. Jessica bisa melihat kalau ternyata mobil itu juga ikut masuk ke parkiran kafe yang mereka datangi.
"Mobil ini mengikuti kita sepanjang perjalanan," ujar Jessica tiba-tiba memberi tahu Nathan.
__ADS_1
***