
"Kau tidak akan pergi, kan?" Jessica bertanya tiba-tiba untuk memastikan.
Entah kenapa, untuk sesaat rasa ketakutan sontak menghampiri hati Jessica saat dia melihat Nathan yang mulai berdiri dan mengambil macbook miliknya dan langsung menyerahkannya pada Jessica. Beberapa saat bersama ini membuat Jessica merasa lebih terlindungi dari sebelumnya, entah kenapa. Dan ia merasa tak rela jika Nathan pergi malam ini.
Nathan yang saat ini sedang mengemasi barang-barang miliknya menoleh pada Jessica, ia menatap gadis itu untuk beberapa detik. Kedua alisnya tampak berkerut saat mendengar kalimat bernada pertanyaan dari Jessica itu.
"Aku...ya... ini sudah malam..." ujarnya canggung.
"Begitu ya?" Jessica menunduk, "Apa aku akan berada sendirian di sini? Maksudku, apakah tidak akan ada yang menemaniku di sini?"
Nathan menggaruk tengkuknya, "Masalah itu... em...di luar ada agen lain yang..."
"Baiklah," Jessica menganggukkan kepalanya paham akan keputusannya.
Jessica langsung menyadari bahwa dia baru saja bersikap konyol pada pria muda itu. Dia bahkan baru mengenalnya selama saat. Harusnya Jessica tidak perlu menjadi 'lengket' seperti ini dengannya. Tapi ya, kehadiran Nathan memang membuatnya merasa lebih aman.
Nathan menatap Jessica. Ia bisa melihat saat gadis itu menunduk dan memainkan jarinya sendiri di pangkuannya. Dia tahu bahwa Robert tidak akan pernah memaafkannya jika dia melihat pemandangan seperti itu pada anaknya, seperti yang terlihat saat ini.
__ADS_1
Jelas sekali kalau gadis itu masih dalam kondisi ketakutan saat ini. Nathan berpikiran kalau dia adalah satu-satunya orang yang benar-benar bisa untuk gadis itu ajak bicara. Dan meninggalkannya di ruangan asing setelah kejadian mengejutkan ini tidak akan terlihat bagus sama sekali.
"Yah, sepertinya aku bisa memesan satu atau dua kotak pizza untuk kita," kata Nathan lembut padanya. "Aku yakin kalau kau pasti merasa lapar sekarang."
Nathan duduk kembali ke kursinya tadi dan kembali menyalakan komputer di mejanya. Ia mengeluarkan laptopnya dari dalam tas dan memainkan laptopnya sendiri sebelum akhirnya Jessica tersenyum dan dengan cepat menganggukkan kepalanya setuju.
"Terima kasih," bisik Jessica.
"Ya,kau jangan khawatir lagi," kata Nathan lagi pada Jessica. "Ayahmu mungkin akan kembali kemari besok. Aku yakin dia akan menjelaskan semuanya padamu nanti."
Dia menyaksikan sebuah gambar muncul di laptop Nathan dan menunjukkan sesuatu bertuliskan 'agen di cari'.
"Apa itu?" Jessica bertanya pada Nathan.
Nathan menolehkan pandangannya pada arah yang dimaksud oleh Jessica.
"Itulah yang sedang kami lawan saat ini," Nathan memberitahu Jessica. "Dan ayahmu berada di Jepang untuk mencari daftar dari anggota BIN lainnya yang sedang menyamar. Seluruh daftar itu sudah jatuh ke tangan orang yang salah... dan entah bagaimana orang itu sudah berhasil memecahkan kode rahasianya.Tapi... sesuatu yang pasti adalah... jika identitas dari agen-agen itu di ketahui maka penyamaran mereka akan terbongkar. Dan jika penyamaran mereka terbongkar, maka-"
__ADS_1
"Maka itu artinya mereka semua pasti sedang dalam bahaya?" potong Jessica memastikan tebakannya.
"Aku juga akan mengatakannya begitu," balas Nathan menganggukkan kepalanya setuju. "Jika identitasmu aslimu diketahui, itu sama saja dengan mati."
"Dan ayah?" Jessica bertanya khawatir. "Selama ini hidupnya pasti selalu dalam bahaya. Aku harusnya tahu masalah ini. Aku harusnya tahu sudah berapa kali dia ... ya ... hidupnya berada dalam bahaya. Berapa kali dia berhasil kembali dalam keadaan selamat setelah mengerjakan tugas-tugasnya itu... tapi aku tidak pernah tahu semua itu ..."
"Tidak ada gunanya mengkhawatirkan dia," Nathan berujar pada Jessica, mencoba meyakinkan gadis itu. "Dia adalah agen yang bagus. Agen terbaik. Dan yang harus dia lakukan hanyalah menarik pelatuk senjatanya dan dia akan tetap hidup."
Nathan kemudian mengeluarkan ponselnya mulai mencari makanan cepat saji dari aplikasi. "Aku akan memesan pizza sekarang."
Jessica mendecih saat melihat betapa cueknya pria muda di hadapannya ini pada ayahnya.
"Kau mengatakan tentang hal mengerikan itu tapi kenapa terdengar sangat santai sekali," jawab Jessica dengan nada sinis sebelum Nathan menoleh kembali padanya.
"Ya, jika aku membuatnya terdengar lebih berbahaya dari itu, maka sudah jelas itu akan membuatmu merasa lebih khawatir," jawab Nathan dengan senyum kecil di wajahnya.
Nathan hanya mengangkat bahunya santai setelah menjelaskan semua itu, sementara Jessica hanya diam menyilangkan kakinya di kursi.
__ADS_1