
Saat ini mereka berdua tengah dalam keheningan, berdiri di bawah pohon yang ada di taman saat hujan mulai turun. Nathan menarik payung lipat dari tas-nya membukanya dengan agak tergesa-gesa dan memakainya di atas mereka berdua saat ia merasakan hujan mulai turun.
Jessica menempelkan ponselnya ke telinganya saat ia mendengarkan suara sambungan telepon di seberang sana.
"Dia tidak mengangkat, Nathan." Jessica berbicara dengan nada tidak sabar kepada Nathan.
"Kita tunggu sebentar lagi, beri dia waktu, mungkin dia sedang sibuk." Nathan menjawabnya. "Dan juga, bisakah kau kemari, lebih dekat padaku, payung ini tidak sebesar yang kuharapkan. Kau akan basah nanti."
Jessica menurut dan melangkah lebih dekat pada Nathan. Mereka meringkuk di bawah payungnya saat di detik selanjutnya Nathan melingkarkan lengannya di pinggang Jessica dan memeluk gadis itu di sisinya sementara tangannya yang masih sakit berjuang memegangi payung.
"Itu sebuah kalimat yang panjang, Nathan," bisiknya kepada Nathan, menatap mata pemuda itu. "Kau hanya tinggal mengatakan padaku untuk mendekat..."
"Apa yang bisa kukatakan? Aku memang tidak ingin kau terkena hujan." Nathan menjawab, ia tersenyum dan semakin mengeratkan pegangannya pada pinggang Jessica.
"Baiklah, oke,oke!" Jessica menggeleng.
Nathan membungkuk untuk mencium puncak kepala Jessica dengan cepat kemudian terdiam untuk beberapa saat, menunggu Jessica yang saat ini masih mencoba untuk terus menghubungi ibunya.
"Jessica?" ujar ibunya ahirnya menjawab dan berseru dari seberang telepon.
Jessica dengan cepat menarik diri dari rengkuhan Nathan, mengalihkan perhatiannya ke ibunya yang ada di sambungan telepon. Jessica akan melakukan yang terbaik untuk tidak terdengar terlalu kasar pada ibunya itu.
Ia tau kalau ibunya itu baru saja berpisah dengan kekasihnya, John. Dan sepertinya ibunya itu tampak begitu tertekan, terbukti dari nada bicaranya saat di pesan suara yang dia kirim untuk Jessica tadi. Ya, meskipun Jessica masih menyimpan rasa kesal dan marah atas cara ibunya berbicara padanya waktu itu tapi Jessica akan tetap mengontrol dirinya.
"Ya bu, ini aku Jessica" jawab Jessica pelan. "Aku menerima pesan suara ibu tadi."
"Ibu senang," Katherine Bailey menanggapi ucapan putrinya itu. "Ya, ibu tidak mengerti, Jessica. Ibu tidak tau kenapa John melakukan ini. Selama ini ibu selalu berpikir kalau kami memang ditakdirkan untuk bersama."
"Dia memang brengs*k," sembur Jessica. Ia benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak berbicara tanpa berpikir. Ia ingin sekali mengumpati kekasih ibunya itu. "Kau akan lebih baik tanpa dia, ibu..."
"Ibu menyukainya, Jessica." Kate membela dan membuat Jessica memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak tau apa yang ibu suka dari lelaki itu." Jessica berujar malas.
"Dia pintar dan sangat pintar, Jessica. Tahukah kau betapa sulitnya bagi seorang wanita seusia ibu ini untuk menemukan seorang pria? Apalagi yang seperti John itu. Ibu memilikimu ketika ibu masih muda dan ibu menghabiskan seluruh waktu ibu untuk membesarkan dirimu. Dan saat itu tidak ada yang menginginkan gadis muda yang sudah punya anak."
'Jadi apakah ini semua salahku?' batin Jessica.
Jessica menggertakkan giginya kesal. Ia menggenggan ponselnya kuat-kuat, melakukan yang terbaik untuk menahan emosinya agar tidak membentak ibunya. Jessica tidak tau kenapa, tapi ucapan ibunya barusan seolah mengatakan kalau kehadirannya-lah yang membuat ibunya jadi tidak punya pendamping.
Sejujurnya ia ingin sekali mengatakan kepada ibunya bahwa itu bukan-lah salahnya. Apakah salah-nya jika dia dilahirkan ke dunia? Dia bukan orang yang meminta untuk di lahirkan bukan? Dia juga tidak ingin menjadi kesalahan. Bukan itu juga yang dia inginkan. Namun entah kenapa sepertinya ibunya membenci kehadirannya dengan terus membahas hal ini.
Jessica melingkarkan tangannya pada pinggang Nathan, ia lalu meremas erat pinggang pemuda itu, mencoba untuk melampiaskan amarahnya melalui hal itu. Nathan sendiri saat ini melakukan yang terbaik sebisanya untuk tidak meringis kesakitan saat Jessica mencengkramnya.
"Kenapa dia mengobrak-abrik rumah?" Jessica bertanya-tanya, memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan saja saat ini.
"Ibu tidak tahu," Kate mendengus kesal. "Mungkin dia sedang mencari uang atau apa? Itu tidak penting, Jessica."
"Ini agak penting, bagiku." jawab Jessica tajam. "Kau perlu tahu kenapa dia melakukannya, ibu. Pasti ada alasan kenapa dia tiba-tiba berbuat hal gila padamu. Pada rumah kita juga."
"Ibu tidak masalah, Jessica" Kate kini mulai menaikkan nada bicaranya pada putrinya itu "Ibu sudah bilang tak masalah. Ibu cinta padanya, Jessica. Tidak bisakah kau bersimpati sekali saja pada ibu dalam hidupmu?"
Nathan mencoba menenangkannya dengan merengkuh gadis itu dan meletakkan pipinya di atas kepala Jessica dan membiarkan gadis itu menempel di lehernya.
"Kau akan jadi lebih baik untuk kedepannya, bu. Dan ibu akan menemukan seseorang yang lebih baik darinya."
"Ibu meragukannya," jawab Kate lelah.
"Dengar, apakah ibu ingin aku datang kembali kesana, ke Singapura ?" Jessica bertanya-tanya.
Sejujurnya dia tidak ingin pergi, tetapi Jessica pasti akan berusaha melakukan apapun yang terbaik untuk ibunya itu. Bahkan ibarat jika dia harus pergi ke supermarket pada pukul tiga pagi hanya untuk membeli es krim, dia akan tetap melakukannya.
"Sekalipun ibu ingin kau datang, ibu yakin kalau kau tidak akan mau," kata Kate dan Jessica langsung saja memutar bola matanya. "Ngomong-ngomong, kau sedang ada di mana? Kedengarannya seperti sedang hujan."
__ADS_1
"Aku keluar hari ini," kata Jessica. "aku dan seorang temanku sedang melakukan tur di kota tua dan sepertinya kami akan menghabiskan satu hari penuh di sini."
"Dan siapa yang mendanai perjalananmu ini?"
"Ayah," Jessica berbohong, jelas sekali kalau dia memang belum ingin memberi tahu ibunya tentang Nathan. Dia sedang tidak ingin membuat kerumitan dan juga perdebatan pada saat itu. Jessica kemudian menghela napasnya, "Aku bisa kembali ke Singapura jika ibu menginginkannya. Aku tidak keberatan."
"Tidak perlu," kata Kate. "Aku bisa melihat bahwa kau bersenang-senang tanpa ibu. Lagi pula, kau selalu suka menghabiskan waktu di Singapura bersama dengan ayahmu. Ibu harap dia memperlakukanmu dengan baik di sana, ya kan?"
Jessica memejamkan mata dan dia jadi bertanya-tanya di mana ayahnya berada saat ini. Dia hanya berharap bahwa ayahnya itu telah bangun dan pergi dari tempat tidur wanita penggoda itu
"Ayah baik-baik saja," Jessica akhirnya menjawab ibunya." Apakah ibu yakin kalau ibu akan baik-baik saja disana?"
"Ibu akan baik-baik saja, Jessie" Kate meyakinkan putrinya. "Ibu punya waktu seminggu untuk libur dari pekerjaan dan bibimu juga akan datang dan menginap malam ini. Tadinya ibu hanya berpikir bahwa kau harus tahu apa yang telah terjadi. Ibu sering bertanya-tanya apakah ibu yang sudah membuatnya pergi... maksud ibu, ya masing-masing dari kami memang banyak bekerja...dan selama ini dia bahkan tidak pernah pergi meskipun sikap cerewet ibu mengganggunya atau caramu memperlakukannya, dia tak pernah pergi. Dan juga-"
"Dia tidak mengenalku," desis Jessica. "Dan bagaimana aku memperlakukannya?"
"Kau tidak menghormati kehadirannya, Jessie!"
"Ck... dia membentuk opininya sendiri tentangku. Dia bahkan tidak menyukaiku sejak pertama kali dia bertemu denganku, bukan? John itu memang brengs*k, aku jadi-"
"Jessica," Kate memotong perkataan gadis itu. "Dia tidak seperti itu!"
"Terserah," jawab Jessica. "Ibu lebih baik sendiri saja daripada harus terus bersamanya."
"Bagaimana kau bisa mengatakan itu? Bagaimana kau bisa mengatakan kalau ibu bisa lebih baik jika sendirian?"
"Cukup mudah," jawab Jessica. "Ibu akan segera melihatnya beberapa waktu ke depan..."
"Kau tidak tahu apapun, Jessica," jawab Kate. "Kau menghabiskan sebagian besar waktumu dengan anak laki-laki yang bahkan tidak pernah kamu hargai. Ibu tahu apa yang kau lakukan selama ini, kau mempermainkan banyak sekali pria dan-"
"Aku sudah berubah, ibu." jawab Jessica sambil menghirup aroma tubuh Nathan. "Jangan seret aku ke dalam masalah ini lagi, bu. Masalah John, itu sama sekali bukan urusanku. Aku senang kalian berpisah. Aku juga bersedia datang dan melihatmu melewati waktu tanpanya."
__ADS_1
"Tetap-lah di sana, Jessica," Kate berbicara dengan tergesa-gesa. "ibu akan mengatur segalanya sendiri."
"Ibu..." Jessica mulai berbicara, mencoba menenangkan wanita di ujung telepon itu, tetapi ternyata dia telah menutup sambungan telepon.