
Nathan memesan teh untuk dirinya sendiri, sementara Robert memilih segelas Americano. Keduanya duduk di meja kayu di sudut ruangan kantin yang jauh lebih sepi, menghindari orang-orang.
"Aku pikir tadi kau bilang ingin memesan kopi?" sindir Robert.
"Yah, aku berubah pikiran." balas Nathan
Robert tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku mendengar para agen gagal menemukannya." ujar Robert lagi sebelum kemudian menyesap kopi miliknya.
Nathan mengangguk , "aku mendengar informasi yang sama."
"Lalu apakah kau sudah berhasil menemukan posisinya saat ini. Apakah kau berhasil melacaknya?"
"Sebelumnya Dimitri menembak semua komputer yang ada di ruangan kantor yang aku pimpin. Selain satu komputer tentunya. Ah, dan laptopku juga selamat," jawab Nathan sambil mengambil laptopnya dari dalam tas dan menunjukkan benda itu pada Robert.
Ia kemudian menunduk, menatap laptopnya. "Aku punya banyak pekerjaan yang harus di lakukan di ruang kantor sementara aku malah berada di Thailand. Di sini. Bersamamu!"
"Jadi kenapa kau tidak mengerjakan pekerjaanmu?"
"Itu karena... karena aku ingin minum kopi denganmu," kata Nathan dengan cengiran di wajahnya. "Ayolah, aku bahkan sudah bekerja selama di perjalanan menuju kemari."
"Ya, baiklah." ujar Robert. "Lalu informasi apa yang kau temukan tentang Dimitri?"
"Aku berusaha menemukannya, tapi itu tidak berhasil. Sepertinya dia menghilang lagi, Robert."
"Sialan sekali dia," gumam Robert sambil mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat dan menghantamkannya ke atas meja. Ia lalu menatap pada Nathan lagi. "Dan Marie? Bagaimana dengannya?"
"Dia akan diterbangkan kembali ke markas kita hari ini," ujar Nathan pelan sambil memejamkan kedua matanya, berduka atas kehilangan atasannya. "Aku dengar makamannya akan dilakukan dua hari lagi. Organisasi kita akan menyelesaikan segalanya dengan cepat, seperti yang kau tahu."
"Aku tahu itu terlalu baik," gumam Robert sambil mengangguk pelan. "Aku yakin setelah ini mereka pasti akan berniat untuk berusaha menyelesaikan segalanya."
Robert dan Nathan diam untuk beberapa saat. Keadaan menjadi hening. Mereka hanya diam sambil menikmati minuman masing-masing.
__ADS_1
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Apakah kau pikir Dimitri akan kembali untuk mengejarmu? Aku rasa tidak."
"Aku rasa, iya."
Nathan menaikkan sebelah alisnya, menatap Robert bingung. "Kenapa? Bukankah tujuan awalnya adalah Marie?"
"Siapa yang tahu apa yang akan dia lakukan?" gumam Robert, sambil kembali menyeruput minuman di depannya.
Robert kemudian bersandar di kursinya dan mendorong tangannya ke kepalanya sendiri, memijit kepalanya dengan perlahan. Rasa lelah perlahan mulai menghampiri Robert.
"Dia masih masuk ke dalam daftar orang yang paling dicari," Nathan berujar untuk memberitahu Robert. "Sejauh ini Dimitri adalah prioritas utama dari organisasi kita. Meskipun dia telah mendapatkan apa yang dia inginkan, dengan membunuh Marie, tapi siapa yang mengatakan kalau dia tidak menginginkan lebih? Siapa yang mengatakan bahwa ini adalah akhir dari apa yang dia inginkan?"
"Tidak ada," Robert turut menyetujui perkataan Nathan itu. "Tapi aku akan segera kembali untuk mencarinya."
"Dan Jessica? Apakah menurutmu Dimitri sudah selesai dengannya? Apa Dimitri tidak akan mengejarnya lagi?"
"Aku tidak tahu, Nathan." ujar Robert frustasi. "Ibunya ingin membawanya kembali ke Singapura...tapi...aku... aku tidak tahu apakah itu yang terbaik untuknya."
Nathan hanya diam mendengarkan. Ia mengangguk. Tidak ada yang tahu perlindungan apa yang terbaik bagi Jessica saat ini. Hanya bersama Robert Jessica akan aman.
'Tepat sekali. Itulah yang ku pikirkan.' batin Nathan.
"Dia sudah berumur dua puluh tahun," kata Nathan. "Saat berumur segitu aku... tidak jadi, lupakan saja."
Kalimat gantung dari Nathan itu membuat Robert menatap bingung, namun Robert mencoba mengatur ekspresinya.
"Ya, kurasa Jessica sudah cukup dewasa untuk memutuskan apa yang ingin dia lakukan. Dia hanya perlu mendapat dukunganmu untuk masalah ini." Nathan melanjutkan kalimatnya.
"Aku akan mencoba untuk berbicara dengannya saat Kate dan John meninggalkan kami berdua." ujar Robert sambil mengaduk gelas minumannya.
Robert melirik Nathan sekilas. Ia berdehem sebentar sebelum kembali berbicara.
"Jadi bisa kau katakan yang sebenarnya, kenapa kau ada di sini, Nathan?" tanya Robert sambil kembali menyeruput kopinya.
__ADS_1
"Maaf?" Nathan bertanya dengan mata menyipit. Ia lalu ikut mengangkat gelas miliknya dan menyesap tehnya saat Robert menolehkan kepalanya ke arahnya, menatapnya datar. Robert lalu mengerutkan alisnya menunggu jawaban Nathan.
"Aku sudah memberitahumu alasan mengapa aku datang sebelumnya." ujar Nathan.
"Kau datang jauh-jauh ke Thailand hanya untuk mengantarkan tasnya," kata Robert. Nathan mengangguk.
Robert menggelengkan kepalanya, "Aku tidak percaya, Nathan. Katakan yang sebenarnya sebelum aku sendiri yang mencari tahu."
Sambil menelan ludahnya kasar, Nathan menggelengkan kepalanya. Ia lalu membuang muka, mengalihkan pandangannya dari Robert.
Ia bertanya-tanya apakah dia berani mengakuinya pada Robert. Tapi, Nathan memang tidak punya pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya. Lagipula Robert akan mencari tahu sendiri, terlepas dari apa pun caranya Nathan berbohong padanya.
"Jessica adalah...yah...dia gadis yang baik," Nathan akhirnya mengakui. "Aku sudah bersamanya selama beberapa hari terakhir. Dan ya, segera setelah kau memberi tahu padaku tentang apa yang terjadi padanya... yah ... aku hanya ingin bertemu dengannya. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi-"
"Tidak perlu," kata Robert mengangkat tangannya menahan kalimat Nathan.
Robert telah berurusan dengan banyak wanita di masa mudanya. Ia bahkan sangat sering berurusan dengan emosinya sendiri. Dan Robert tahu jelas ketika seorang pria merasa tertarik pada seorang wanita. Robert juga tahu kapan seorang wanita merasa tertarik pada seorang pria.
Dan Robert tidak ingin bahkan hanya untuk sekedar membayangkan hal itu terjadi antara Nathan dan putrinya.
"Dia masih kuliah," Robert mencoba memperingatkan Nathan. "Dia bahkan baru akan memasuki tahun terakhirnya."
"Aku tahu."
"Ya! Jadi, apa pun yang kau rasakan pada putriku saat ini... yah... hentikan itu, Nathan," desak Robert. "Jessica, dia gadis yang cantik, aku mengerti. Kau anak kutu buku-"
"Berhenti," Nathan memotong perkataan Robert. "Aku tahu itu. Aku sadar diri, Robert. Aku juga tidak menginginkan hal seperti itu darinya. Percayalah! Aku hanya ingin melihatnya. Dan begitu aku melihatnya, aku akan pergi. Aku hanya ingin memastikan kalau dia dalam keadaan baik-baik saja. Itu saja. Dia baik padaku dan aku hanya ingin melakukan hal yang sama padanya, Robert."
"Kau baru mengenalnya selama empat hari," Robert berkata pada Nathan. "Memangnya berapa banyak yang bisa kau ketahui tentang dia?"
"Cukup," jawab Nathan kali ini dengan sungguh-sungguh. "Jujur, Robert. Kau tidak perlu khawatir tentang hal seperti itu."
"Senang mendengarnya." kata Robert santai. "Karena aku masih memiliki senjata khusus yang waktu itu kau berikan kepada saya."
__ADS_1
"Apa kau mengancamku lagi?"
***