
Jessica kemudian menggeser tombol hijau yang ada pada layar ponselnya untuk menerima panggilan dari ayahnya itu. Ia masih memperhatikan Nathan untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia mulai bicara pada sang ayah.
"Halo ayah." ujar Jessica kemudian.
"Jessica," balas Robert dari seberang telepon. "Bagaimana kabarmu di sana?"
Jessica menghela nafasnya perlahan. "Ya, ayah sudah pergi selama lebih dari dua belas jam dan tak ada yang benar-benar berubah. Tidak ada yang berbeda selain tidak ada ayah di sini untuk menemaniku."
"Begitukah? Apa yang kau lakukan seharian ini di sana?" tanya Robert lagi.
"Tak ada yang spesial. Aku hanya pergi ke beberapa tempat dan juga berbelanja ke supermarket pagi ini untuk mengisi lemari es ayah yang kosong itu. Setelah itu tidak ada lagi. Dan sekarang aku benar-benar mencari pekerjaan di sebuah kafe untuk menghilangkan rasa bosan dan jenuh."
"Apa? Kau bekerja?" Robert bertanya kaget, mencoba memastikan pendengarannya.
"Hah? Ah, bukan itu maksudku, ayah." Jessica menarik kembali ucapannya. "Aku bukan sedang bekerja, tetapi mencoba mencari pekerjaan untuk mengisi waktu luang. Ya, seperti mengerjakan beberapa soal matematika misalnya. Ini hanya untuk menghilangkan rasa bosan saja."
"Begitukah?" Robert akhirnya mengerti.
"Ya, tapi sepertinya Macbook ku terkena serangan virus atau semacamnya. Aku tak begitu mengerti. Padahal sebelumnya benda ini tampak baik-baik saja, tapi sekarang sudah tidak berfungsi sama sekali."
"Rusak maksudmu?"
"Entahlah! Aku tidak begitu paham. Tapi salah seorang kenalanmu ada di sini. Dan sepertinya dia sedang mencoba melakukan sesuatu untuk membantuku."
__ADS_1
"Kenalan ayah? Siapa?" nada suara Robert berubah panik untuk beberapa saat.
"Kenalan ayah, Nathan." jawab Jessica sambil melirik pria muda di depannya. "Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang dia lakukan sekarang pada Macbook ku. Tetapi dia tampaknya terlalu pintar untuk bekerja di Kementerian Transportasi atau Perhubungan."
"Nathan? Nathan Jones maksudmu?" Robert mencoba memastikan.
"Ya ayah, Nathan Jones, pria yang bertemu dengan kita di gedung galeri kemarin." Jessica menjelaskan lebih detail.
"Tunggu dulu, Jessie. Kenapa Nathan bisa ada di sana, bersamamu?" Robert bertanya-tanya sebelum Jessica mengangkat bahunya.
Nathan terlihat berhenti mengetik di keyboardnya untuk beberapa saat. Ia bisa mendengar suara Robert dari tempatnya duduk. Dan Nathan juga mendengar pertanyaan yang Robert tanyakan pada Jessica barusan.
Ia berusaha memutar otaknya, mencoba melakukan yang terbaik untuk memikirkan kebohongan apa yang akan dia ucapkan, sehingga Jessica tidak akan tahu apa yang sebenarnya sedang dia lakukan saat ini dan juga akan membuat Robert merasa tenang.
"Kurasa karena dia ingin membeli minuman," kata Jessica, nada suaranya terdengar bingung. "Aku tidak tahu, ayah."
"Kami hanya tidak sengaja bertemu. Aku ingin menuju ke suatu tempat dan memutuskan mampir kesini untuk membeli segelas cokelat panas." kata Nathan mencoba menjelaskan.
Robert bisa mendengarkan suara pemuda itu dari sambungan telepon, meskipun tidak terlalu jelas.
"Ah, aku rasa daerah ini adalah tempat yang cukup bagus. Semuanya tampak cukup aman terkendali di bawah pengawasanku. Orang-orang di kementrian tampaknya tak perlu mengkhawatirkan apapun di tempat ini." ujar Nathan santai sambil melihat keluar kafe, kalimatnya terdengar sedikit ambigu.
Wajah Jessica bahkan terlihat mengerut bingung saat dia mendengar ucapan Nathan itu. Apa maksudnya dengan 'aman terkendali?'
__ADS_1
Tatapan mereka kembali bertemu untuk beberapa saat sebelum akhirnya Nathan mengalihkan pandangannya, melihat kembali ke layar laptopnya untuk mengerjakan perbaikan gangguan pada Macbook milik Jessica.
Kenapa dia menatapku seperti itu, batin Nathan. Ia terlihat salah tingkah sekarang.
Mendadak Nathan merasa gugup sendiri saat di tatap oleh gadis itu. Entah kenapa. Ia bingung tentang perasaan apakah yang muncul di hati dan pikirannya ini? Kenapa dia harus merasa gugup begini. Apa dia memiliki perasaan pada gadis ini? Namun Nathan buru-buru menggelengkan kepalanya. Ia menolak apapun bentuk perasaan di hatinya.
Hentikan, bodoh. Ya, gadis ini memang sangat cantik dan juga menarik. Tapi apa yang kau harapkan? Dia putri dari Mr. Robert kalau kau lupa. Ah, kau sepertinya sudah berada terlalu lama dalam kesendirian sehingga kau tidak bisa mengerti hatimu sendiri. Dan juga kau sudah terlalu lama tidak berbicara dengan seorang wanita. Itulah satu-satunya alasan kenapa hatimu tampak hangat saat di tatap oleh gadis ini. Setelah urusanmu selesai, sepertinya kau harus pergi berkencan. Nathan bicara panjang lebar dalam hatinya.
"Ngomong-ngomong," kata Jessica pada ayahnya yang ada di seberang telepon, "Bagaimana keadaan ayah di Jepang sana?"
"Tampak berbahaya, seperti biasa," kata Robert jujur, tapi kemudian dia tertawa sendiri.
"Seberapa berbahayakah pekerjaan di balik meja kerjamu itu, ayah?" goda Jessica.
Nathan yang mendengar hanya melirik sekilas. Ia mendecih pelan. Sepertinya memang benar kalau Robert menyembunyikan segalanya dari anak gadisnya ini. Jessica tampak seperti tidak tau apa-apa tentang pekerjaan sang ayah.
"Ngomong-ngomong, sepertinya aku harus menutup teleponnya, ayah. Aku harus memastikan apakah benda kesayanganku ini bisa diperbaiki oleh Nathan."
"Tapi kau akan segera pulang, kan? Ini sudah malam, jadi ayah harap kau sudah harus pulang sekarang." Robert mencoba untuk memastikan dan Jessica mengangguk, meskipun ia tahu ayahnya tak akan bisa melihat anggukannya itu.
"Ya," jawab Jessica. "Aku akan kembali ke rumah setelah Nathan selesai memperbaiki Macbook ku. Jadi ayah tidak perlu khawatir."
"Tentu saja tidak," Robert dengan nada enggan menyetujui ucapan anaknya itu. "Tetaplah aman di sana, Jessica."
__ADS_1
"Ya, ya," Jessica berujar pelan. "Nanti aku akan menghubungi ayah lagi."
"Sampai jumpa." Robert berkata sebagai kalimat penutup kemudian memutuskan sambungan teleponnya.