
Tubuh Nathan menggeliat perlahan. Nathan terbangun dari pingsannya dalam keadaan kepala yang terasa begitu berat. Tubuhnya juga terasa sangat lemas. Nathan kemudian mencoba mengangkat tangannya untuk memijit kepalanya tapi tangannya tidak bisa di gerakkan, tangannya seperti ditahan sesuatu di belakang tubuhnya.
Dia bisa merasakan kacamatanya tak lagi menjepit pangkal hidungnya saat dia mencoba membuka matanya yang masih terpejam. Tetapi tak bisa. Matanya tak bisa di buka, hanya gelap yang dia lihat saat ini.
Gelap?
Tentu saja gelap, karena ternyata kedua matanya kini sengaja ditutup dengan kain. Nathan pada akhirnya juga menyadari bahwa kedua tangannya kini dalam keadaan terikat kebelakang tubuhnya dan membuatnya sama sekali tak bisa bergerak.
Nathan menggerakkan kedua tangannya, mencoba untuk melepas ikatan yang ada ditangannya itu. Ia meringis saat merasakan perih pada pergelangan tangannya. Tali pengikat itu terlalu kencang dan kini telah melukai permukaan kulitnya.
Butuh beberapa detik bagi Nathan untuk membuat dirinya sendiri merasa lebih tenang. Barulah setelah itu ia mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi padanya saat ini.
Hal terakhir yang dia ingat adalah saat-saat dia dan Boris pergi bersama ke tempat atasan mereka. Tapi di pertengahan jalan, Boris justru mengantarnya pada orang asing dan tiba-tiba saja semua menjadi gelap, hingga akhirnya ia terbangun seperti ini.
Nathan terhenyak.
Oh Tuhan!
__ADS_1
Dia di culik.
Nathan yakin jika ia pasti diikat ke kursi mengingat ia merasakan posisinya sendiri seperti sedang duduk. Dia diam untuk beberapa saat karena ia tak tahu harus berbuat apa saat ini.
"Kau sudah bangun?" seru seseorang yang Nathan yakin adalah suara Dimitri. "Akhirnya, kupikir kau terluka parah."
"Aku tidak tahu kau akan melakukan ini pada orang lemah sepertiku." jawab Nathan menoleh kanan dan kiri. Ia tak tahu posisi Dimitri karena kedua matanya yang tertutup kain, membuatnya tidak bisa melihat apapun di sekitarnya.
"Ah, dimana sopan santunku. Maafkan aku, aku akan menyingkirkan penutup matamu sekarang."
Detik selanjutnya cahaya lampu menyilaukan kedua mata Nathan. Ia mengerjapkan kedua matanya yang terasa silau.
"Apakah kau merasa nyaman dengan ruangannya?"
Nathan menolehkan pandangannya ke arah pria yang berdiri di sudut ruangan. Pandangannya memang agak kabur karena tak mengenakkan kacamata, tapi dia masih bisa melihat kalau itu sosok Dimitri. Benar! Itu Dimitri beserta beberapa anak buahnya.
Nathan melakukan yang terbaik yang dia bisa untuk menggerakkan tangannya, mencoba untuk melepaskan tali yang mengikatnya. Ia menggertakkan giginya kesal. Bagaimana ini bisa terjadi padanya? Yang dia lakukan hanyalah duduk di mejanya sepanjang hari. Yang dia lakukan hanyalah meretas dan memecahkan kode. Tapi kenapa Dimitri masih mengincarnya?
__ADS_1
"Dimana aku?"
"Apakah kau benar-benar berpikir aku berniat menjawab pertanyaanmu itu?" jawab Dimitri tersenyum mengejek.
Nathan memperhatikan saat Dimitri bergerak mendekat ke arahnya. Dia menelan ludah dengan kasar, tubuhnya juga menegang. Namun ia mencoba sebisanya untuk tidak terlihat terlalu takut tentang situasi saat ini.
"Sebenarnya aku ragu kau akan memberitahuku," gumam Nathan.
"Benar sekali," Dimitri setuju dengan ucapan Nathan.
Dimitri mengangkat tangannya menuju ke kepala Nathan, lalu menyingkirkan helaian rambut Nathan dari wajahnya. "Kau tidak perlu merasa khawatir, Nathan. Aku tidak bermaksud membunuhmu. Aku hanya bermaksud menahanmu di sini sampai aku bisa menemukan Robert dan putrinya lagi."
"Kau akan menjadikanku sandera untuk memancing mereka."
"Memancing Robert lebih tepatnya." tegas Dimitri.
"Itu akan sia-sia." Nathan mendecih, "aku ini bukan anak Robert."
__ADS_1
"Tapi kau seseorang yang dia percaya. Atau seseorang yang putrinya percaya." balas Dimitri.