
Jessica menatap Nathan lekat-lekat sebelum mendecih,
"Apa yang membuatmu berpikir dengan percaya diri kalau aku akan naik lift dan turun ke bawah tanah bersamamu? Yang aku tahu saat ini, kau juga bisa jadi salah satu orang yang melawan ayahku."
"Kalau aku adalah orang yang melawan ayahmu, lantas kenapa ayahmu malah mempercayaiku dengan informasi ini?" tanya Nathan sambil mengeluarkan ponselnya sendiri dan menunjukkan alat pelacak yang ada di ponsel Jessica.
"Ini?"
"Pelacak!"
"A-apa?" Jessica berujar kaget.
"Ayahmu secara langsung meminta padaku untuk melacakmu sebelum dia pergi. Dia memasang alat pelacak pada ponselmu. Dan dia membutuhkan kehadiranku untuk memastikan kau selalu dalam keadaan aman selama dia pergi ke Jepang." Nathan menjelaskan. Jujur saja, ia sudah mulai jengah dengan sikap Jessica saat ini.
Jessica bisa melihat dengan jelas titik merah yang berkedip di ponsel milik pria muda itu. Tatapannya lalu beralih kembali ke Nathan dan pria muda itu kembali meletakkan ponselnya ke saku mantelnya. Nathan lalu mendorong kacamata bacanya lebih dekat ke matanya saat dia menatap Jessica.
"Kau lihat sendiri? Aku tidak ada niat dan tidak akan pernah berniat untuk menyakitimu." Nathan mencoba memberitahu gadis itu. "Aku tahu kau sangat bingung saat ini, tapi bersabarlah, karena seseorang bernama Marie-lah yang akan menjelaskan segalanya padamu nanti. Tapi sebelum itu kau perlu ikut denganku lebih dahulu, oke!"
__ADS_1
Jessica tahu bahwa dia tidak akan kehilangan apa-apa lagi sekarang jika dia mempercayai pria muda di hadapannya ini. Nathan tidak berbohong padanya, dan dia bisa melihat itu dari Nathan. Tapi saat ini Jessica hanya merasa marah, entah kenapa. Jessica berpikir kalau itu mungkin pasti karena dia masih sangat terkejut atas semua yang baru saja terjadi padanya beberapa saat lalu.
"Oke," kata Jessica sambil menganggukkan kepalanya pasrah.
"Baiklah! Sekarang kau hanya perlu ikut denganku." kata Nathan sambil menunggu lift terbuka. Senyum kecil muncul di wajahnya sebelum kemudian dia berbalik untuk menatap Jessica. "Aku pastikan padamu, semuanya akan baik-baik saja."
Jessica memilih untuk tetap diam sampai akhirnya pintu lift terbuka dan Nathan melangkah masuk ke dalam lift. Di dalam lift, tak ada satu pun dari mereka yang membuka obrolan. Hingga akhirnya beberapa saat kemudian, lift terbuka kembali. Nathan mengisyaratkan Jessica agar tetap mengikutinya.
Sesampainya mereka berdua di sebuah lorong yang panjang, Nathan bergerak perlahan, menyusuri lorong bata yang gelap. Hanya ada lampu kecil di dinding yang menerangi jalan di lorong itu. Suasana dingin langsung menyelimuti Jessica saat dia berjalan di belakang Nathan.
"Di mana Marie?" tanya Nathan begitu mereka mendatangi seorang pria yang di duduk di belakang meja lobi.
Jessica terus menggosok lengannya yang terasa dingin. Segala sesuatu di bawah sana terasa dingin dan juga sangat lembab. Dan itu yang membuat Jessica jadi penasaran, ini memang tempat yang bagus untuk perlindungan. Tapi mengapa orang-orang BIN memilih tempat di bawah tanah seperti ini? Namun Jessica tidak mendapat kesempatan untuk bertanya apapun pada Nathan saat itu.
"Dia ada di ruangannya," jawab pria itu pada Nathan dengan nada datar. "Aku akan memberitahunya kalau kau sudah datang. Dia sudah menunggumu sejak tadi."
"Terima kasih, aku akan ke ruangan menunggu di dalam saja." kata Nathan sambil menunjuk sebuah pintu lalu menganggukkan kembali kepalanya pada Jessica agar gadis itu mengikutinya.
__ADS_1
Jessica mengikuti Nathan lagi yang saat ini telah mendorong sebuah pintu yang sepertinya menuju ke ruangan lain.
Krieett!
Pintu kemudian terbuka dan sontak membuat mata Jessica melebar saat melihat ruangan yang baru saja ia masuki itu. Ruangan yang ini tampak sangat berbeda dari yang Jessica lihat sebelumnya. Ini sangat besar dan tampak putih bersih jika di bandingkan dengan lorong yang sempat ia lewati tadi.
Dan yang lebih mengejutkan lagi bagi Jessica adalah barisan komputer dan deretan meja kerja yang ia lewati saat ini. Pemandangan seperti ini hanya pernah Jessica lihat di dalam film-film saja.
Ah, dan juga ada sebuah layar besar yang menempel di dinding di depan sana. Namun semua alat itu tampak mati, sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia di sana. Apa karena ini malam hari jadi tidak ada orang selain mereka dan beberapa penjaga?
Di tengah ruangan, terlihat sebuah pilar putih dan besar yang menghiasi ruangan menakjubkan itu. Jessica terus mengikuti Nathan menuruni anak tangga sebelum kemudian ia mendengar suara dari seorang wanita yang berbicara.
Suaranya terdengar sangat tegas.
"Aku percaya kau tidak diikuti siapapun, Nathan" ujar wanita itu pada Nathan memastikan. Ia melangkah menuruni tangga dan berjalan mendekat pada Nathan yang berdiri di hadapannya.
***
__ADS_1