
"Lucy mengatakan bahwa ayah adalah orang yang sangat suka mengatur. Dia agak mengomel tadi." Jessica berujar pada ayahnya dengan tawa di wajahnya saat dia datang ke ruang tamu dan duduk di sofa, tepat samping ayahnya.
Dia meletakkan bantal sofa di atas kakinya dan menatap ke arah televisi. Saat ini ayahnya tengah menonton berita yang di tayangkan pada larut malam. Satu gelas kopi berada di atas meja di depannya di sebelah remote.
"Apa yang kau katakan pada nya?" Robert bertanya-tanya pada anak gadisnya itu dengan tatapan yang masih terpaku pada televisi yang ada di depannya.
"Ya, aku mengatakan kepadanya kalau ayah meminta bahkan berusaha untuk menahan diriku di sini sejak sejak ibu meninggal," kata Jessica sambil menggedikkan bahunya. "Dia mau tidak mau harus menerima kepergian ku ke Indonesia."
Robert menganggukkan kepalanya dan mengangkat tangannya dan mengusap kepala gadis itu dengan lembut. "Jangan khawatir, kalian kan bisa bertemu kembali saat ada kesempatan."
"Dia bahkan menawarkan untuk datang mengunjungiku nanti saat dia berlibur atau saat dia punya waktu luang."
"Tidak apa-apa, dia bisa datang kesini untuk bertemu denganmu sesukanya." kata Robert sambil tersenyum. "Dan bagaimana dengannya? Apa dia menemukan teman baru untuk menggantikan rumah sewamu?"
"Dia berkata bahwa seorang temannya secara kebetulan sedang mencari tempat dan dia akan melihat apakah dia mau menggantikan tempatku." ujar Jessica.
"Baguslah kalau begitu." Robert mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya, dia mengepak barang-barangku dan mengirimkan gambarnya padaku. Aku sangat berterima kasih atas bantuan Lucy itu." ujar Jessica.
Jessica lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada kemudian menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi dan menghela panjang.
"Ada apa?" tanya Robert pada putrinya.
"Tak apa." ujar Jessica. "Hanya saja... tampaknya ia benar-benar khawatir padaku. Ia terus bertanya kenapa aku memutuskan untuk pergi dari Singapura dengan tiba-tiba. Aku bahkan sampai menghabiskan waktu setengah dari lamanya panggilan telepon itu hanya untuk mencoba meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang salah denganku. Aku hanya ingin pindah."
__ADS_1
"Kau berbohong padanya," Robert memperjelas.
"Yah, kurang lebih begitu," Jessica menjawab dengan cemberut, "Dia tidak perlu tahu semua yang telah terjadi musim panas ini kan? Tapi ya, aku memang memberitahunya tentang hubunganku dan Nathan."
"Bagaimana pendapatnya?"
"Ya, dia mengatakan kalau para pria di kampusku pasti akan sangat kecewa." Jessica terkekeh sendiri. "Dan juga... rupanya Daniel benar-benar tertarik kepada diriku. Dia mengirimi Lucy pesan dan dia juga mengirimiku pesan sepanjang liburan"
Robert menaikkan sebelah alisnya. "Jika dia tertarik padamu, lalu mengapa dia justru memilih untuk mengirim pesan kepada Lucy?"
"Ayolah ayah... tentu saja itu untuk mencari tahu apakah aku ini tertarik kepadanya atau tidak." Jessica memutar bola matanya.
Kali ini Robert yang memutar bola matanya. Itu adalah cara yang kekanak-kanakan menurutnya. Apa memang seperti itulah cara anak muda mendekati lawan jenisnya. Tapi dia tidak melihat yang seperti itu dari Nathan. Ya, Robert memang tidak akan pernah menjadi orang yang mengerti hal-hal seperti ini. Robert sendiri tidak pernah mempermasalahkan wanita. Hidupnya bahkan sudah di kelilingi wanita tanpa menggunakan cara konyol seperti itu.
Robert kemudian menghela napasnya.
"Ayah tidak perlu merasa khawatir," jawab Jessica dan gadis itu kemudian bersandar di bahu ayahnya. Gadis itu terlihat begitu santai.
"Hm." Robert menggelengkan kepalanya, memilih untuk mengabaikannya saja. Ia meletakkan remote televisi yang ada di tangannya dan menyampirkan lengannya ke belakang sofa.
"Ayolah ayah... setidaknya Nathan bukan gembong narkoba...atau pembunuh massal. Tidak ada yang perlu ayah khawatirkan darinya."
"Ayah tidak tahu apakah ini seharusnya membuat ayah bisa merasa lebih baik saat mengetahui kalian berdua menjadi lebih intim?" Robert bertanya-tanya. Seringai di wajahnya muncul dan Jessica mengangkat bahu.
"Aku juga tidak tahu," jawab Jessica. "Jika ayah tidak merasa lebih baik, ayah tidak perlu memaksa. Lagipula semakin lama ayah pasti akan bisa menerimanya."
__ADS_1
"Hmm," Robert hanya berdehem sebagai jawaban. "Ayah hanya punya satu pesan tentang dirimu dan dia. Pastikan kau mengutamakan studimu sebelum Nathan. Kuliah adalah nomor satu, Nathan adalah nomor dua."
"Ya, ayah," Jessica memutar bola matanya malas ketika menjawab. Wajahnya cemberut sebelum kemudian ikut melihat ke layar televisi. Dia mengambil waktu beberapa saat sebelum dia kembali berbicara. "Jadi, apakah ayah sudah tahu siapa Nathan hari itu ketika kita bertemu dengannya di galeri? Maksudku... aku melihat ayah yang sepertinya memang tak mengenalnya."
"Bicara tentang hari itu. Ayah tidak mengetahui siapa dia. Saat itu ayah di minta untuk menemui dirinya di Galeri Lukisan."
"Ck, sekarang aku tau kenapa ayah memilih kita pergi tempat membosankan itu untuk menemaniku menghabiskan waktu liburan." Jessica mendecih.
"Ya," Robert terkekeh.
"Ayah baru bertemu dengannya hari itu. Ayah juga baru mengetahui tentangnya. Dia orang baru di organisasi, menggantikan salah satu senior yang pensiun. Tapi dia memang sudah di bayar untuk bekerja dengan organisasi sejak dia kuliah karena kemampuannya" jawab Robert padanya. "Dan sebelumnya dia bekerja di kantor kementrian perhubungan untuk-"
"Untuk menutupi pekerjaan aslinya. Nathan mengatakannya padaku."
"Ya. Sepertinya dia begitu menikmati seni. Dia tahu banyak tentang itu," Jessica mengakui. "Dia bahkan mencoba menjelaskan pada kita tentang lukisan saat itu. Tapi tetap saja, aku tidak tahu apa yang sedang dia bicarakan. Itu hanya sekeranjang buah."
"Ayah juga tak paham," jawab Robert dengan raut santai. "Ayah juga mendengar penjelasan darinya. Tapi ayah juga tetap menganggap jika itu adalah buah."
Robert kemudian memilih untuk diam, begitu juga dengan Jessica. Butuh beberapa saat sebelum kemudian mereka berdua saling tatap dan mulai tertawa. Mereka tertawa saat saling mengingat ekspresi wajah masing-masing, saat Nathan menjelaskan tentang lukisan pada mereka.
"Semoga tak ada lagi pertemuan di gedung galeri." ujar Robert. "Bukan benci... ayah hanya tak dapat menikmati semua lukisan itu. Bagi ayah itu semua hanya gambar."
"Aku juga. Nathan bisa pergi kesana jika dia mau pergi. Tapi sendirian." Ujar Jessica.
"Ah, semoga Nathan tidak akan membawaku kesana lagi. Itu benar-benar membosankan. Kita bahkan mengantri begitu lama dan panjang untuk masuk ke dalam gedung. Ya ampun." Jessica menggelengkan kepalanya saat mengingat hal konyol itu.
__ADS_1
***