
"Jessica?"
Jessica menoleh pada ponsel yang ada di tangannya kemudian mendekatkannya pada telinganya. "Ya."
"Kau..." Nathan berbicara ketika dia mendengar tarikan nafas tersengal-sengal dari telepon. Itu adalah Jessica yang saat ini sedang berusaha menahan rasa sakitnya. "Apakah kau ingin aku terus bicara untuk mengalihkan sakitmu?"
"Ya. Kecuali saat ini kau memiliki satu liter minuman ber-alkohol dan satu pil painkiller maka aku tidak akan menganggapmu mampu mengalihkan rasa sakitku. Apa kau punya?" jawab Jessica.
Gadis itu sedikit bergeser, mencoba untuk memperbaiki letak punggungnya agar terasa lebih nyaman. Ia menatap pada langit malam ketika sedetik kemudian ia mendengar suara ledakan kecil dari arah rumah tadi.
Nathan berdehem pelan untuk beberapa saat, "Aku tidak berpikir bahwa kau seharusnya minum alkohol dan obat penghilang rasa sakit bersamaan seperti itu." ujar Nathan padanya.
"Dan aku agak khawatir kalau aku tidak akan bisa membantu mu di sana jika terjadi sesuatu. Ya, tetapi aku akan terus berbicara denganmu, mencoba untuk membantumu agar teralih dari rasa sakit sampai ambulans datang."
Nathan berdiri di ruang kantornya. Ia bahkan tidak melihat pada layar komputernya sekali pun dan hanya berdiri di tengah ruangan.
Matanya kemudian melihat ke bawah saat dia lebih mendekatkan ponselnya ke telinganya dan mencoba lebih berkonsentrasi pada suara Jessica.
Jessica kemudian diam untuk beberapa saat.
"Jangan diam dan katakan sesuatu agar aku bisa mengetahui kalau kau baik-baik saja di sana." ujar Nathan pada Jessica.
Jessica tersenyum. "Ada yang ingin aku tanyakan."
"Ingin kau tanyakan? Apa itu?"
"Itu... tentang apa yang kau katakan sebelumnya..." Jessica berbisik di telepon. "Apakah kau telah melacakku sepanjang waktu?"
"Sepanjang waktu, haruskah kita mengatakannya seperti itu." Nathan berujar ragu pada Jessica. "Em, ya. Aku memang telah melacak lokasimu sejak lama."
"Aku rasa itu adalah perbuatan ilegal." ujar Jessica.
Nathan tertawa, "Aku setuju. Aku bahkan sudah membayangkan kalau aku akan segera mendapatkan perintah penahanan karena hal itu."
Tawa serak terdengar dari seberang telepon. Nathan kini merasakan tenggorokannya tercekat. Ia menelan ludahnya kasar dan kembali berbicara.
"Sulit," kata Nathan kemudian dengan suara pelan. "... sulit menjagamu. Kau telah membuat hidupku terasa lebih menarik sejauh ini."
"Ck, bukan suatu hal yang baik." Jessica membalas padanya.
"Aku tidak tahu apa ini." jawab Nathan. "Hanya saja, menyenangkan memilikimu di sekitarku. Kau tentu berbeda dengan orang-orang yang aku temui selama ini. Berbeda dengan timku yang biasa."
"Apa kau menganggap aku tim mu?"
"Aku tidak berpikir pekerjaan di organisasi ini cocok untukmu. Kalau aku bisa jujur, kau tidak benar-benar berbakat dalam hal teknologi."
Jessica terkekeh, "Ya, aku memang tidak benar-benar berbakat dalam hal apa pun selain minum dan berpesta,"
__ADS_1
Jessica tertawa setelah mengakui itu, matanya terpejam dan erangan keluar darinya saat dia kembali merasakan sakit luar biasa di sekitar kakinya.
"Aku tahu tentang hobimu itu. Aku sempat melihatnya dari halaman sosial media milikmu," kata Nathan.
Setelah mendengar ucapan Nathan itu bibir Jessica kemudian terangkat. Ia tersenyum.
"Wow, apakah kau mengakui kalau pernah memata-matai sosial media ku, Nathan?" Jessica bertanya-tanya pada Nathan. "Menurutku itu menegaskan statusmu sebagai seorang penguntit."
"Ya, sebut saja seperti itu." jawab Nathan padanya. "Aku sempat melihat sosial mediamu saat ayahmu pertama kali memberitahuku tentangmu. Hanya iseng."
Keadaan kembali hening untuk beberapa saat. Mereka berdua diam. Tidak ada yang melanjutkan percakapan. Sebelum kemudian Jessica kembali bicara.
"Aku tidak tahu harus berpikir seperti apa tentang ini," ujar Jessica. "Maksudku... aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan selama empat hari ini."
"Itu membuatmu terlihat seperti kau tidak berharap bahwa semua ini bukanlah kebenaran. Kau belum bisa mempercayai apa yang terjadi." ujar Nathan.
"Tidak," jawab Jessica menolak. "Jika aku berpikiran begitu, itu sama seperti aku menganggap kalau aku tidak pernah bertemu denganmu saat itu, kan? Maksudku aku bisa mengatakan adalah anugrah saat bertemu denganmu."
Jessica kemudian menggelengkan kepalanya. Ia bertanya pada dirinya sendiri saat itu apakah dia sedang berhalusinasi. Mengapa dia harus mengatakan itu pada Nathan barusan? Dia juga tidak tahu. Dia hanya bisa berpikiran bahwa Nathan pasti mengira kalau dia sekarang sudah gila.
"Yah, senang bertemu denganmu," kata Nathan padanya.
Jessica terkejut dengan jawaban Nathan itu, kemudian ia tersenyum. "Aku juga. Senang bertemu denganmu."
"Hm, aku berasumsi kalau ini bukanlah tanda-tanda perpisahan bukan? Saat ini kita tidak harus mengucapkan selamat tinggal kan?"
"Aku rasa tidak," kata Jessica tersenyum mendengar itu. "Bagiku sebuah perpisahan biasanya menunjukkan kalau seseorang sudah mendekati kematian. Dan saat ini aku tidak melihat Dimitri ada di sekitarku. Jadi kurasa tidak akan ada perpisahan karena aku akan aman untuk saat ini...dan...ayah..."
"Aku tahu," kata Jessica, keyakinannya pada ayahnya tak tergoyahkan. "Hei, Nathan, kita sudah bersama untuk beberapa saat tapi kau tidak pernah memberitahuku apapun tentangmu. Hobimu, makanan favoritmu, hal-hal apa yang kau suka dan tidak, atau hal lainnya."
"Aku lebih suka jika kita tidak membahas apapun tentangku. Itu karena tidak ada hal menarik tentangku untuk di ceritkan pada siapapun." jawab Nathan tersenyum. "Bukankah kedengarannya jauh lebih misterius."
"Ya, tapi jika kita pergi untuk minum bersama maka aku hampir tidak bisa mengenalmu selain namamu, kan?" Jessica berujar memastikan.
"Kau ingin pergi minum denganku?" Nathan balik memastikan. Ia kemudian mendecih. "Aku pikir Mr. Robert pasti akan menembak kepalaku jika dia mendengar hal itu. Seperti kita pergi minum bersama."
"Aku hanya merasa kalau sepertinya aku berhutang nyawa padamu setelah kau menyelamatkan hidupku waktu itu," jawab Jessica. "Jadi, apakah kau berniat memberi tahu aku tentang dirimu?"
"Aku... aku biasanya-"
"Hei bisakah kau mendengar itu?" Jessica berseru dan memotong kalimat Nathan saat pria muda itu berusaha memberitahukan beberapa hal padanya.
Nathan sendiri memilih fokus dan berusaha mendengar suara samar dari sambungan telepon.
"Itu jelas suara ambulans," kata Nathan pada Jessica "Kau tunggullah dulu. Mereka akan segera menemukanmu, Jessica."
"Terima kasih," bisik Jessica padanya.
__ADS_1
"Jessie!"
Nathan mengerutkan keningnya ketika dia mendengar suara Robert berseru dan mendekati putrinya.
"Ayah!" Jessica berseru balik.
Robert lalu berlutut di samping Jessica saat paramedis keluar dari helikopter.
"Nathan, apakah kau masih di sana?" Robert memeriksa saat dia mengambil ponsel dari tangan putrinya.
"Ya, apakah kau mendapatkannya Marie?" tanya Nathan.
"Tidak," kata Robert sambil menggeleng, nada bicaranya penuh dengan penyesalan. "Dimitri sampai ke Marie sebelum aku sampai dan bisa menyelamatkannya. Marie, dia...dia sudah mati, Nathan. Aku gagal!"
Nathan menghela pelan. "Lalu sekarang apa?"
"Sekarang aku ingin kau mulai melacak tanda-tanda keberadaan Dimitri. Para agen yang datang sedang ikut mencarinya sekarang."
"Dan kau?" Nathan bertanya-tanya.
Robert diam untuk beberapa saat. "Aku akan ke rumah sakit bersama Jessica," kata Robert saat Jessica tiba-tiba mulai merasa penglihatannya kabur.
Jessica merasa tubuhnya melemas. Dan dia tidak tahu kenapa. Dia menutup matanya sementara tangannya mencoba meraih ayahnya.
Robert menatapnya, menjatuhkan ponselnya ke rumput.
"Jessica," Robert membisikkan nama putrinya. "Jessie... tetaplah bersamaku..."
"Robert?" Nathan berbicara, suaranya memasuki telinga Robert dan membuat Robert tersadar.
Ia melupakan fakta jika saat ini Nathan masih berada di sambungan teleponnya.
"Nathan, kita lanjutkan nanti." ujar Robert masih mencoba melakukan yang terbaik untuk menyadarkan anak gadisnya itu.
Nathan berdiri di tengah-tengah ruangan kantornya sementara telinganya masih terus mendengarkan segala sesuatu yang terjadi di ratusan mil jauhnya darinya. Ia menunggu dengan khawatir.
Sambungan telepon akhirnya mati dan Nathan menjatuhkan iPhone-nya dengan kasar ke atas meja. Tubuhnya terasa mati rasa untuk pertama kalinya setelah beberapa saat. Ia benar-benar merasa khawatir dan penasaran pada keadaan Jessica saat ini.
"Haruskah aku menyusulnya saja?" gumam Nathan pada dirinya sendiri.
Nathan melihat tas milik Jessica. Ia lalu mengambilnya dan menyampirkannya di bahunya sambil memikirkan kembali apa yang akan di lakukannya setelah itu.
"Aku akan mengantarkan tasnya" gumamnya sekali lagi.
Nathan lalu mengambil barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tasnya sendiri. Ia menatap tas milik Jessica sekilas.
Ia sudah memutuskan kalau akan pergi dan mengantarkan tas itu kembali pada gadis itu. Dan ia tak masalah jika untuk mengantarkan tasnya sampai harus membuat Nathan bepergian ke luar negeri seperti saat ini.
__ADS_1
Nathan kemudian berpikiran untuk mengambil cuti sakit agar memiliki waktu leluasa.
***