
Saat ini Nathan tengah berdiri di dekat mejanya, mengetik di komputernya dengan cepat. Dia telah berada di ruangan kerja itu sendirian selama lebih dari dua jam. Semua orang telah pergi dan pulang ke rumah mereka masing-masing.
Sebenarnya Nathan tak bisa berpura-pura bahwa dia tidak cemburu melihat bawahannya bisa pulang dan tidur dengan nyenyak di rumah. Ya, dia juga lebih suka pulang ke rumah dan tidur, tetapi untuk saat ini dia akan menolak dan menahan dirinya sendiri untuk pergi sampai Jessica bisa kembali bersamanya, berada di sampingnya.
Saat sibuk dengan pekerjaannya tiba-tiba saja sebuah pesan kecil terlihat di sudut bawah komputernya yang memberi tahu dia bahwa dia memiliki satu email baru. Itu mungkin saja Robert yang memiliki hal untuk dikatakan padanya. Tapi ia juga tidak terlalu yakin karena biasanya Robert tidak pernah mengirimkan email padanya dan lebih memilih untuk meneleponnya saja.
Dengan ragu, Nathan lalu mengklik email itu dan bisa langsung melihat isinya yang ternyata sebuah tautan. Nathan biasanya tidak membuka tautan dari hal-hal yang dia tidak tahu seperti ini. Tapi entah kenapa dia merasa kalau ini pasti hal yang berbeda dan dia harus membukanya. Ini sesuatu yang datang pada waktu yang kebetulan dengan hilangnya Jessica.
Perlahan, Nathan menggerakkan mouse di tangannya, untuk membuka tautan dan seketika web video muncul dan webcam milik Nathan menyala dengan sendirinya.
Pemandangan di layar komputer membuat Nathan merasa kaget dan ngeri. Jauh lebih dari yang dia pikir. Dia menatap tanpa berkedip. Ia lalu menyipitkan mata ketika dia bertanya-tanya dalam hati apakah orang yang ada di layar itu adalah… Jessica.
Saat ini di layar komputernya, Nathan bisa melihat bahwa ruangan itu sangatlah gelap. Ada dinding bata sebagai latar belakang dan juga sebuah lampu kecil yang tergantung di plafon ruangan. Itu saja.
Ah, dan juga sebuah kursi yang berada di tengah ruangan tepat di bawah lampu tadi. Nathan bisa melihat Jessica yang tengah diikat di atas kursi itu. Nathan bisa melihat darah menetes dari hidung gadis itu, darah yang Nathan duga sudah mengering di kulit pucatnya. Rambut Jessica terlihat begitu berantakan dan juga luka memar terbentuk di pipinya. Nathan yakin, Jessica pasti telah berusaha untuk melawan penjahat itu dan membuat mereka menyakitinya. Itu sebabnya dia bisa sampai terluka seperti ini.
"Nathan, aku merasa sangat senang karena kau mau bergabung dengan kami." terdengar suara seseorang berbicara. Itu jelas suara laki-laki.
Nathan tak menjawab, ia mendorong kacamatanya lebih jauh ke pangkal hidungnya. Dia dengan hati-hati mencoba untuk melacak pengirim tautan itu sambil melihat pemandangan di layar secara bersamaan.
"Kenapa kau hanya diam? Apakah tidak ada yang ingin di katakan untuk gadis kecilmu ini, Nathan?" pria itu kembali berbicara.
"Aku ragu kalau kau akan tertarik mendengar kata-kataku." kata Nathan sementara matanya terus memperhatikan ruangan gelap dan pemandangan yang terpampang di depannya.
"Kau benar," jawab suara itu lagi.
Nathan tidak bisa melihat sosoknya. Orang itu tersembunyi dari pandangan matanya. Tidak diragukan lagi kalau saat ini dia tengah berada di belakang kamera tempat Jessica duduk.
"Lagipula, aku tidak punya waktu seharian untuk melakukan ini. Dimana Robert? Kenapa aku belum mendengar suara lelaki itu?"
"Dia pergi untuk mencari anaknya." jawab Nathan sinis.
"Dia pasti tengah mencari-cari Jessica di sekitar kota, kan?" jawab pria itu dengan santai. "Oh ya, aku tau kau selalu berusaha untuk menemukan posisi Jessica. Ah, sepertinya aku harus memberitahumu kalau kau bisa berhenti mencoba untuk terus melacaknya karena aku sudah mengalihkan semua yang coba untuk kau lakukan."
__ADS_1
Nathan mengutuk di dalam kepalanya kemudian matanya melihat kembali kepada Jessica di layar. "Apa yang sebenarnya coba kau inginkan?" tanya Nathan.
"Kuncinya," jawab pria itu santai. "Aku sudah punya kodenya, yang aku kirimkan padamu waktu itu. Ya, aku bisa menyebut kalau itu satu langkah pertama. Dan sekarang aku butuh kuncinya."
Nathan memikirkan kunci apa yang dimaksud oleh pria itu dan alisnya seketika berkerut. Apa maksudnya adalah kunci rudal? Tunggu, kenapa dia membutuhkan kunci itu?
"Tapi kenapa?" Nathan bertanya-tanya. "Kenapa kau membutuhkan kuncinya?"
Nathan bisa mendengar pria itu menghela nafas dan Jessica mendongak untuk melihat pria itu yang mulai berjalan di sepanjang ruangan. Ia masih tetap bersembunyi di balik kamera.
"Sepertinya kantor organisasimu telah mengawasi salah satu pedagang senjata kami di Jerman," dia mulai memberitahu Nathan. "Aku tau ada seorang pria di Jerman yang di tugaskan untuk mengawasi perdagangan kami. Dan aku juga tau, sisa dari anggota lainnya, mereka tampaknya bersembunyi di bawah air... di sebuah kapal selam milik pemerintah."
"Bagaimana kau bisa tau?" Nathan menaikkan sebelah alisnya.
"Ya, orang kami memiliki kapal selam juga. Dan itu adalah niat utamanya kenapa aku berniat untuk memperdagangkan senjata nuklir. Jelas bahwa kapal selam organisasimu sudah memiliki senjata. Dan mereka pasti sedang menunggu untuk meledakkan kapal selam milik kami segera setelah mereka mengetahui jadwal pengirimannya."
Nathan menggelengkan kepalanya dengan tergesa-gesa.
"Kuncinya tidak ada di sini. Dan mereka-"
"Tidak mungkin," jawab Nathan. "Aku bahkan tidak tahu di mana mereka atau bagaimana cara mengambil kuncinya. Lagipula, orang-orang di kapal selam pasti akan menunggu mereka."
"Aku tidak peduli." jawab orang itu. "Katakan pada Robert bahwa dia punya waktu dua puluh empat jam untuk membawa yang aku mau atau putrinya yang cantik akan berakhir dengan cara yang sama dengan ibunya."
"Apa maksudmu?" Nathan berani bertanya, ia menatap dengan ragu. Takut- takut dengan jawaban yang akan diterimanya.
Baru ketika kamera di putar dari Jessica ke arah lain, mata Nathan langsung membulat. Dia bisa melihat sebuah tubuh terbaring di atas lantai. Darah merembes keluar dari tubuh itu dan samar-samar Nathan bisa melihat kalau itu adalah wajah dari Katherine Bailey.
Ibu dari Jessica.
"Ya Tuhan," bisik Nathan.
"Dia sudah mati." ujar pria itu.
__ADS_1
Kedua mata Nathan semakin membulat. "Apa?"
"Ya, dia mencoba untuk melarikan diri dariku sebelumnya" jawab pria itu dengan santainya. "Dan untungnya, Jessica tidak berbuat hal yang sama. Dia tidak terlalu mengganggu pekerjaanku. Ck, aku harap dia bisa tetap tenang seperti itu."
Kamera kemudian bergerak kembali kepada Jessica dan gadis itu memilih untuk memalingkan mukanya dari kamera. Ia tidak mau Nathan melihat keadaannya saat ini.
"Kau jelas memiliki segala kode untuk semua senjata nuklir itu. Aku tau itu." desis Nathan. "... tapi kenapa kau membutuhkan kunci lagi?"
"Ya, sejujurnya aku tidak ingin memulai perang nuklir," pria itu membalas dengan terkekeh. "Aku hanya ingin menghentikan organisasimu dari rencana yang mereka buat. Bayangkan, mereka menggunakan senjata mereka untuk mengebom kami."
"Kode-kode itu, apa yang ingin kau lakukan dengan semua itu?"
"Itu bukan urusanmu. Saat ini aku sedang melakukan pekerjaanku. Sekarang, aku tidak punya cukup banyak waktu jadi apakah ada yang ingin kau katakan kepada Jessica? Dia jelas sangat merindukanmu. Ah, kau pasti telah berhasil menjinakkannya. Sebelumnya dia adalah gadis yang liar. Aku belum pernah melihatnya terlihat begitu sedih sebelumnya."
Nathan menelan ludah, bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang bisa dia katakan pada gadis itu. Dia tidak memiliki kesempatan karena pria itu telah pindah untuk berdiri di samping Jessica. Pria itu terus menjaga wajahnya agar tidak terlihat saat tangannya bersandar di bahu Jessica.
"Tatap matanya," orang itu berujar pelan pada Jessica. "Cepat kau tatap matanya dan katakan padanya betapa kau peduli padanya. Katakan kau merindukannya. Ayo, Jessica Kita berdua tahu kau bisa mengatakannya."
Jessica memilih untuk tetap diam. Ia merasakan tenggorokannya yang terasa kering, sangat kering. Dia tidak berpikir dia bisa berbicara saat ini. Napas Nathan tertahan di tenggorokannya saat Jessica mengangkat pendagannya dan melihat ke arahnya. Tak satu pun dari mereka berdua yang mengatakan apa-apa satu sama lain. Mereka saling menyadari bahwa tidak ada kata-kata menghibur yang cocok untuk situasi mereka saat ini.
"Tidak ada yang ingin di katakan?" pria itu memastikan, ia lalu memukul belakang kepala Jessica pelan. "Betapa membosankannya kalian berdua."
Dia bergerak kembali ke belakang kamera dan mengucapkan kata-kata terakhirnya pada Nathan.
"Katakan pada Robert untuk bergegas. Waktu kalian bahkan kurang dari seharian." ujarnya pada Nathan.
"Tapi bagaimana caranya Robert bisa menemukan dirimu?"
"Aku akan memastikan dia pasti segera mengetahuinya," ujar pria itu kemudian dia bertepuk tangan singkat. "Sekarang, mulai bekerja, Nathan. Kau punya pacar untuk diselamatkan saat ini."
***
Negara kita tidak punya Nuklir.
__ADS_1
Ide nuklir aku dapat dari film-film luar negeri wkwk. Jatuhnya ngarang sih...