Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
68


__ADS_3

"Haruskah kau menggoda setiap wanita yang kau lihat seperti itu?" Jessica bertanya-tanya pada ayahnya sembari memasukkan makanan ringan ke dalam mulutnya.


Gadis itu duduk di dekat jendela di pesawat, memandang ke luar saat matahari perlahan terbenam di balik awan di langit. 


Ayahnya meletakkan kopi yang telah di mintanya pada pramugari di meja tarik di depannya. Robert membuka sebungkus gula dan menuangkannya ke dalamnya, seringai kecil terlihat di wajahnya saat dia melakukan kegiatan itu.


"Itu tidak berbahaya, Jessica."


"Itu jelas berbahaya."


"Bagian mana yang berbahaya dari bicara dengan wanita, Jessica?"


Jessica menatap ayahnya beberapa detik sebelum menghela napasnya lelah. "Baiklah, itu memang tak berbahaya. Tapi sangat menyebalkan melihat ayah bersikap seperti itu."


"Memangnya ayah bersikap seperti apa?"


"Seperti ramah pada wanita asing. Ayah tampak seperti mencoba menggoda mereka saja tadi. Ayah tahu kalau mereka tertarik pada ayah. Itu sebabnya ayah bersikap sok keren."


"Ayolah Jessica, ayah mana bisa menahan para wanita itu jika dia menganggap ayah ini menarik."


"Ya Tuhan," gumam Jessica, melipat tangannya di depan dada, dengan sebelah tangan memijit pangkal hidungnya. "Kenapa ayahku terlihat seperti pria penggoda seperti ini." bisiknya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Robert hanya memilih untuk tertawa melihat sikap anak gadisnya ini.


"Baiklah... kalau begitu sepertinya ayah bisa balik bertanya hal yang sama padamu."


"Tentang?"


"Tentang... sejak kapan kau menjadi lebih dekat dengan Nathan." balas Robert dan membuat Jessica tampak tersedak makanan ringan yang tengah ia nikmati. 


Robert langsung menoleh ke samping untuk melihat Jessica. Ia memberikan botol minuman pada gadis itu yang didapat entah dari mana.


"Terima kasih."


"Kau baik-baik saja?"


Gadis itu terlihat menundukkan kepalanya, melihat ke bawah ke pangkuannya dan memainkan jari-jarinya di sana.


"Dia bukan tipe biasamu." ujar Robert lagi.


"Dan ayah tahu tipeku yang biasa?" Jessica bertanya-tanya heran pada sang ayah.


"Ya, ayah tahu" kata Robert, "Dan... selama ini mereka jelas tidak seperti Nathan."

__ADS_1


"Dan apakah itu hal yang buruk?" Jessica bertanya-tanya, nada suaranya rendah. "Dengar, aku baru saja bertemu Nathan. Aku tidak begitu tahu bagaimana dia...bagaimana aku..."


"Dia tertarik padamu," Robert berujar secara tiba-tiba. "Dia tidak bisa menyangkal itu."


Jessica tampak terkejut namun buru-buru mengatur ekspresi wajahnya.


"Aku tidak ingin membahasnya." ujar Jessica.


"Ayah baru mulai Jess!" tolak Robert.


"Pokoknya, aku lebih suka jika kita tidak membicarakannya," Jessica bergumam kepada ayahnya, menyandarkan kepalanya ke jendela sementara Robert mengawasi gadis itu yang kini terlihat memejamkan kedua matanya.


Jessica kemudian membuka matanya. Ia menghela nafas dan menggerakkan lengannya untuk memeluk lengan ayahnya. Jessica bersandar di bahu Robert sebelum kemudian Robert kembali berbicara dengannya.


"Kau masih kuliah," bisik Robert kemudian. "Ayah hanya ingin kau melakukan pendidikanmu dengan baik, Jessica."


"Ayah," Jessica mengeluh. "Aku bahkan baru saja bertemu Nathan. Bagaimana bisa sudah mendapat penolakan seperti ini. Bisakah ayah menghentikan ini, tolong?"


"Baik," kata Robert padanya, memilih menghentikkan topik percakapan yang sebenarnya sangat ingin dilakukannya dengan putrinya. Dia punya beberapa saat lagi di pesawat . Dia akan membahas hal ini lain kali dengannya.


Jessica tidak mengatakan apa-apa lagi padanya setelah itu. Ia memilih untuk memejamkan mata dan ingin tidur saja saat ini. Setelah itu, Robert akhirnya bisa mendengar nafasnya berubah lembut. Itu artinya gadis itu sudah tidur. Dan barulah setelah itu Robert memilih untuk menutup matanya sendiri untuk beberapa saat.

__ADS_1


***


__ADS_2