Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
28


__ADS_3

Akhirnya Nathan muncul kembali. Pria muda itu sudah mengganti jasnya yang semalam dengan kaos dan kardigan berwarna coklat muda. Jessica merasa heran, ia penasaran darimanakah Nathan mendapat pakaian yang dia kenakan itu. Ia menduga kalau Nathan pasti membawa pakaian itu di tasnya sejak kemarin.


"Apa kau memasukkan lemari ke dalam tasmu?" ujar Jessica terkekeh.


Nathan menatap pakaiannya sendiri, ia paham maksud dari perkataan Jessica barusan. "Ya, sebenarnya aku sering menginap di gedung ini, jadi aku punya lokerku sendiri di gedung ini."


Jessica mengangguk mengerti, "apa hanya kau yang punya loker?"


"Semua karyawan sebenarnya punya." jawab Nathan sambil menarik tempat duduknya lagi dan tangannya menyerahkan sebotol air pada Jessica, yang dia temukan dalam perjalanannya menuju kemari.


Keadaan kemudian mulai berubah setelah waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Orang-orang mulai berdatangan ke dalam ruangan itu untuk bekerja. Nathan melirik sekilas ke arah Jessica saat ia menyadari tatapan penuh tanda tanya yang di lemparkan oleh semua orang pada gadis itu.


"Sebenarnya aku sangat ingin memperkenalkan dirimu pada mereka," kata Nathan berbisik di dekat telinga Jessica. "Tapi aku rasa Robert tidak akan menyukainya. Dia tentunya tak ingin ada yang tahu tentang dirimu. Maksudku... ada alasan mengapa Robert terus merahasiakan identitasmu selama ini, jadi aku tak berani me-"


"Tidak apa-apa," Jessica memotong ucapan Nathan sambil menganggukkan kepalanya mengerti. "Em, apakah kau ingin aku pergi? Aku bisa pergi... ya… aku hanya tidak ingin berada di sini dan mengganggu peke-"


"Tidak perlu," ujar Nathan balas memotong perkataan Jessica."

__ADS_1


"Kau yakin, tidak apa-apa?"


Nathan mengangguk, "Ya. Aku yakin"


Nathan lalu memberi isyarat pada Jessica agar mengikutinya bekerja. Jessica memilih untuk tetap diam saat dia bergerak untuk mendekat ke sebelah Nathan, ikut melihat ke layar lebar yang berada di dinding di depan.


Nathan tidak mengatakan apa-apa lagi pada Jessica saat dia bekerja, sementara Jessica hanya berdiri diam di samping pemuda itu. Ia bisa merasakan telinganya yang sejak tadi terus menerus mendengar bisikan dari arah belakangnya.


Ia yakin kalau orang-orang di dalam ruangan itu pasti bertanya-tanya tentang siapakah dia dan apa yang dilakukannya di sini.


"Nathan!" seorang kemudian berseru.


Nathan berbalik begitu dia mendengar suara seseorang baru saja memanggil namanya. Ia mengernyitkan alis saat melihat seorang agen lelaki tengah berdiri di dekat pintu masuk, menatapnya. Lelaki itu mencoba memberi isyarat pada Nathan agar mengikutinya.


"Tunggu sebentar," ujar Nathan pada Jessica.


Setelah membaca isyarat itu Nathan bergegas menaiki tangga untuk menemui agen lelaki itu. Mereka tampak berbicara untuk beberapa saat sebelum kemudian Nathan datang kembali.

__ADS_1


"Itu panggilan untukmu," Nathan memberi tahu Jessica. "Sekarang kau ikuti saja aku."


"Baiklah." jawab gadis itu.


Setelah itu Jessica mulai melangkahkan kakinya, berjalan mengikuti Nathan dari belakang. Saat dia berjalan keluar dari ruangan itu, Jessica mencoba sebisanya untuk tidak memperhatikan orang-orang yang ada di ruangan itu.


Setelah beberapa saat kemudian, mereka akhirnya sampai di sebuah ruangan yang tampak lebih sepi dan tenang. Nathan menutup pintu agar tidak ada orang lain yang menyaksikan situasi di dalam ruangan. 


Dan saat itu juga Jessica bisa melihat ayahnya yang tengah berdiri di sudut ruangan itu.


Sesaat Jessica bisa merasakan kelegaan yang luar biasa menjalar di hatinya saat dia melihat kehadiran sang ayah yang tengah mengenakan setelan jas, sementara mata coklatnya juga tengah terfokus pada Jessica.


Tanpa sadar senyum kecil muncul saat bibir Jessica saat ia melihat sang ayah. Dan dia segera berlari, melewati Nathan untuk memeluk ayahnya itu.


"Ayah," serunya.


***

__ADS_1


__ADS_2