Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
110


__ADS_3

"Apa?" Nathan berujar kaget.


"Ibuku dalam bahaya, Nathan!" Jessica berusaha menjelaskan.


"Tapi bagaimana bi-"


"Dengar! Kita harus pergi ke tempat yang lebih sepi!"


Jessica kemudia menarik lengan Nathan dan membawa pemuda itu ke gang yang lebih sepi.


"Seseorang baru saja mengirimiku sebuah pesan yang berisi foto ibuku. Mereka mengikatnya di kursi dan mereka ingin aku datang. Jadi aku harus pergi menemuinya. Sendirian. Dan mereka mengatakan kalau mereka akan membunuhnya jika aku tidak melakukannya, Nathan. Kau harus mendengarkanku."


Berkedip bingung untuk beberapa detik, Nathan pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tapi Jessica-"


"Nathan, dengarkan dulu!" Jessica memotong perkataan Nathan. "Apa aku bisa mempercayaimu?"


Nathan kemudian menganggukkan kepalanya. Ia kini bisa merasakan mulutnya yang mengering saat dia mendengarnya perkataan Jessica padanya barusan. Jessica tengah memegang kedua tangannya, cengkeraman gadis itu bahkan terasa erat.


"Aku percaya padamu," ujar Jessica dengan sungguh-sungguh. 


"Kau tahu aku melakukan apapun untukmu Jessica, tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi. Dan aku... aku akan menemukan ibumu. Aku bisa menemukannya."


"Mereka akan mengetahuinya, Nathan jawab Jessica sambil menggelengkan kepalanya. Ia lalu melihat ke sekelilingnya saat ketakutan kembali hinggap pada dirinya. "Dengarkan aku! Jika kau melakukan itu mereka pasti akan mengetahuinya, Nathan. Kau tidak bisa melakukan apa pun... hanya... kau terus melacak ku, oke! Dan aku akan memiliki ponselku."

__ADS_1


"Apakah kau bod*h?" desis Nathan, dari nada suara terdengar kalau ia merasa kesal. Ah bukan ini bukan kesal tapi sebuah kemarahan. Nathan kini tengah memandang Jessica dengan mata yang melebar, Nathan bisa merasakan semacam luka di dalam hatinya. Bagaimana Jessica bisa memintanya untuk membiarkan kepergiannya. Nathan pasti sudah sinting jika ia mengizinkan hal itu.


"Apakah kau benar-benar berpikir bahwa aku akan membiarkanmu pergi, Jessica? Itu sama saja aku membiarkanmu mati!" Nathan menggeleng, "


"Tapi ibuku-"


"Aku tahu kau sangat mengkhawatirkannya. Ya, tentu saja kau mengkhawatirkannya. Kau adalah putrinya." kata Nathan dengan nada suara yang meninggi. "Tapi melarikan diri? Kau bercanda, Jessica? Kau tau, melarikan diri seperti ini tidak akan membantu sama sekali. Percayalah! Kau harus tinggal bersama kami di gedung organisasi. Kau harus tetap di tempat yang aman."


"Tidak," jawab Jessica sambil menggeleng. "Kau harus mengerti aku, Nathan. Tolong... aku harus pergi...Nathan. aku harus menemui ibuku."


"Tidak," Nathan menantangnya saat Jessica hendak melangkahkan kaki menjauh darinya. Nathan terus melingkarkan pegangan tangannya di pergelangan tangan Jessica "Tidak. Aku tahu kau pasti terluka oleh pilihanku ini yang tidak mau bekerja sama denganmu. Sejujurnya Jessica, aku harus mengatakan padamu kalau cara seperti ini jelas sekali bukan jawabannya. Dengarkan aku... percayalah kalau ini bukan cara terbaik menyelamatkan ibumu."


"Aku tau!" jawab Jessica bersikeras. "Tapi aku sudah melihat apa yang dia kirim padaku. Ibuku tersiksa di sana. Aku harus pergi, Nathan. Dan beritahu ayahku kalau-"


"Kalau apa? Kalau kau memilih pergi ke tempat penjahat untuk menyelamatkan ibumu? Kalau kau akan membuat dirimu sendiri terbunuh di sana? Begitu? Kau memintaku mengatakan pada ayahmu kalau kau akan pergi ke tempat yang bisa menghancurkan dirimu sendiri?" Nathan berujar dengan senyum mirisnya. " Lalu setelah itu apa? Aku akan membiarkan dia menembak diriku karena aku sudah dengan baik hatinya membiarkan dirimu pergi? Ayahmu akan kecewa padaku nanti Jessica."


"Kau mengatakan kita keluar untuk menghirup udara segar, tapi apa ini!"


"Aku tahu aku sudah berbohong untuk membawamu keluar Nathan!"


Nathan menghela napasnya lelah. "Kau harusnya bisa saja memberitahuku tentang semua ini di dalam sana, Jessica. Dan kita akan mencari ibumu bersama-sama. Kau dengar? Kau bisa memberitahuku... tapi sekarang... di sinilah kita... berdebat di gang sepi seperti sepasang orang gila."


"Kita tidak akan berdebat lebih lama lagi." Jessica berujar pada Jessica, suaranya kembali terdengar rendah. Dia ingin pergi sekarang dan dia memang harus pergi sekarang. Tak ada waktu lagi untuk berdebat dengan Nathan. "Dengar aku minta maaf, padamu, Nathan. Tapi aku benar-benar harus melakukan ini."


Jessica mencoba melepaskan dirinya dari cengkraman Nathan. Namun Nathan berhasil meraih pergelangan tangannya yang lain dan menarik Jessica kembali ke pada dirinya.

__ADS_1


"Jessica dengarkan aku-"


"Nathan lepas!"


"Tidak!" Nathan menggeleng sembari mengeratkan pegangan tangan.


Jessica tahu bahwa Nathan memang tidak selemah yang kelihatannya. Nathan bahkan sedikit lebih kuat dari yang Jessica bayangkan sebelumnya. Jessica menghela napasnya kasar. Sepertinya memang tak ada pilihan lain lagi, akhirnya dengan tergesa-gesa Jessica kemudian bergerak mendekat pada Nathan dan menempelkan bibirnya ke bibir pemuda itu. Jessica tahu bahwa cara itu pasti akan membingungkan pemuda itu nantinya.


Jessica berhasil memperdalam ciumannya pada Nathan. Saat mendapatkan ciuman yang mendadak seperti itu jelas saja membuat Nathan jadi terkejut. Dan Jessica bisa merasakan cengkeraman Nathan pada tangannya yang akhirnya mengendur.


Sejujurnya, Jessica ingin tinggal di sana lebih lama, menjaga mulutnya untuk terus mencium Nathan. Dan kemudian, Nathan mengambil alih ciuman mereka dan perlahan-lahan ciuman itu berubah menjadi kecupan.


'Maafkan aku Nathan!' batin Jessica memejamkan matanya dan wajahnya terlihat pasrah. Dan detik selanjutnya bola mata Jessica terbuka saat kemudian dia dengan perlahan menarik bibirnya dari bibir Nathan kemudian segera berbalik dan berlari, melarikan diri dari Nathan.


"Jessica!" seru Nathan.


"Maafkan aku, maafkan aku!" Jessica bergumam di sela langkahnya.


Dia tak berhenti dan terus saja berlari bahkan ketika dia mendengar pria itu memanggilnya kembali, memintanya untuk berhenti. Dia keluar dari gang sempit yang sepi itu dan berakhir di trotoar dan bertemu banyak orang lalu lalang. Jessica mendorong orang-orang saat melewati mereka, ia bahkan tidak repot-repot meminta maaf saat dia melakukan itu.


Sementara Nathan hanya bisa terpaku di tempatnya. Ia bisa melihat punggung belakang Jessica yang menjauh pergi meninggalkannya. Nathan bisa melihat niat gadis itu dari setiap langkahnya, gadis itu bahkan tak peduli jika dia masih memiliki perban di sekitar kakinya.


"Jessica!" Nathan meneriakkan namanya sekali lagi. "Jessica!!"


Semuanya berakhir saat gadis itu berbelok di sudut gang dan melihat kalau gadis itu sudah benar-benar menghilang. Nathan menjambak rambutnya sendiri, napasnya berderu cepat, ia benar-benar merasa kesal. Ini jelas salahnya sudah membuat gadis itu pergi.

__ADS_1


Nathan mencoba mengatur napasnya yang menderu, ia benar-benar meruntuki dirinya sendiri. Ia memukul-mukul dinding gang sambil menutup matanya. Ia terus saja mengutuk dirinya sendiri karena gagal menahan Jessica dan bahkan membiarkannya pergi begitu saja.


***


__ADS_2