Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
121


__ADS_3

Jessica menghela napas lega setelah melihat lelaki itu melangkah pergi dan menghilang di ambang pintu. Ia bertanya-tanya apakah Tuhan telah mendengar doanya dan telah menyelamatkannya. Dia tidak tahu, tapi dia tidak akan membuang-buang waktu lagi. 


Gadis itu bergegas menatap pada tali di kakinya dan mulai melepas ikatannya dari pergelangan kakinya, membebaskan seluruh tubuhnya sebelum kemudian dia menggunakan dinding untuk membantunya berdiri. Dia menggenggam sisi dan pahanya sebelum dia perlahan bergerak maju, suara John datang dari kamar sebelah.


Dia tetap diam saat dia perlahan berjalan dan melihat ke arah pintu depan. Jessica mendorong pegangan dengan hati-hati. Namun sebuah bunyi terdengar dari pegangan itu.


Jessica mengutuk dalam hati dan menggelengkan kepalanya, menarik pintu dan menyadari bahwa John pasti bisa segera mendengarnya.


Dia masuk ke kamar mandi, tahu betul bahwa pasti ada kunci di pintu itu. Dia beruntung dan dia memutar kunci agar John tak dapat masuk. Dia melihat sekeliling dan menemukan jendela di kamar mandi itu.


Dia berdiri di atas toilet duduk dan membuka jendela. Ia bergelantungan di ambang jendela kecil itu. Dia hanya berharap dia bisa keluar dari situ.


"Jessica!"

__ADS_1


Teriakan itu sudah cukup untuk membuat gadis itu menghentikan rasa khawatirnya akan jatuh jika dia salah menginjakkan kaki. Dia buru-buru mendorong dirinya keluar jendela tepat ketika dia mendengar langkah kaki. Dia menekan tubuhnya ke dinding, pintu kamar mandi yang di gedor membuatnya membatu.


Tubuh Jessica jatuh ke atas tanah yang basah. Suara John sudah tak terdengar lagi. Dia pasti sudah memutar untuk keluar dan mencari Jessica.


"Jesaica. Kembali ke sini." John berteriak padanya


Jessica menggelengkan kepalanya dan terus berjalan, memalingkan wajah dari John saat dia mengambil napas lambat dan menenangkan untuk sarafnya.


Dia hanya bisa berharap ada seseorang di rumah itu. Dia membutuhkan seseorang untuk menyelamatkannya. Dia membutuhkan seseorang untuk menjauhkannya dari John. 


Jessica mulai berlari, bergegas melewati taman ke sisi rumah, langkah kaki John semakin mendekat di belakangnya. Dia mengabaikan rasa sakit dari tubuhnya, terlalu fokus mencari tempat berlindung untuknya.


Dia mendorong gerbang rumah itu hingga terbuka dan melihat seorang lelaki tua berada di taman, dengan sekop di tangannya saat dia melihat ke Jessica.

__ADS_1


Dia melihat sekop bersandar ke dinding dan Jessica tidak ingin membuang waktu dan segera mengambil sekop itu. John muncul beberapa saat kemudian dan saat itulah Jessica langsung menggunakan seluruh kekuatannya yang ada untuk memukul kepalanya dengan itu. Tubuh John jatuh ke lantai dan sekop jatuh dari tangan Jessica.


Dia jatuh ke lantai, satu tangan di pahanya dan yang lain. Di dekatnya lelaki tua tadi mendekat dan melihat penampilannya sebelum dia melihat pistol yang dipegang John.


"Apa yang sedang terjadi?" ujar pria tua itu dan dia bersandar di pintu garasi karena syok.


"Maaf tuan, bolehkah aku meminjam ponselmu?" ujar Jessica bertanya, menolak untuk menjawab pertanyaannya saat kemudian mengambil pistol John untuk berjaga-jaga jika lelaki itu bangun.


Orang tua itu menjatuhkan sekop di tangannya sebelum dia belari ke arah rumahnya dan membuka pintu depan rumahnya dan berteriak pada istrinya.


"Istriku! Kurasa aku baru saja menyaksikan adegan pembunuhan!"


***

__ADS_1


__ADS_2