Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
17


__ADS_3

"Ada yang tidak beres," Nathan memberitahu Jessica.


Nathan lalu menolehkan kepala dan melihat ke arah luar, ke sekeliling bangunan kafe yang sudah mulai tampak sepi. Saat itu hanya satu atau dua orang saja yang terlihat berlalu lalang di luar.


"Apa?" tanya Jessica bingung. "Apa yang baru saja kau bicarakan? Apa yang tidak beres? Aku tidak mengerti."


"Aku...aku...tidak bisa menjelaskannya padamu sekarang. Tapi, kau harus ikut denganku lebuh dahulu," tuntut Nathan pada Jessica.


Jessica menatap pemuda di depannya ini dengan alis yang berkerut. Dan kemudian Nathan berdiri dengan tiba-tiba, membanting tutup laptopnya sendiri dan langsung memasukkannya kembali ke dalam tasnya.


Sementara Jessica terus memperhatikan gerakan dari pemuda itu dengan raut wajah tegang.


"Apa yang sebenarnya sedang kau bicarakan, Nathan?" Jessica mengulangi pertanyaannya, kali ini dengan nada bicara yang terdengar sedikit kesal. "Lalu kemana kita harus pergi? Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan saat ini, sedikit pun."

__ADS_1


Nathan menghela napasnya, "Aku pikir saat ini ada seseorang sedang mencoba untuk mengejar ayahmu!" Nathan berujar.


"Ayahku?" Jessica bertanya memastikan. Lalu matanya membulat lebar menatap pada Nathan kemudian dia mengambil Macbook-nya dan ikut memasukkannya ke dalam tas. "Siapa yang mengejarnya. Memangnya apa yang telah ayahku lakukan?"


"Aku tidak tahu," Nathan mencoba untuk berbohong. "Tapi yang terpenting saat ini adalah kau harus ikut denganku... sekarang juga."


"Dengar, jangan tersinggung, tapi aku bahkan hampir tidak mengenalmu. Maksudku, kita bahkan baru kenal" ujar Jessica dengan nada menolak.


"Ya, benar. Kau memang tidak mengenalku sama sekali," jawab Nathan agak nyaring. Dan orang yang ada di dalam kafe menatap ke arahnya saat dia sibuk bicara dengan gadis itu. Kedua mata Nathan terus menerus melihat ke arah pintu. "Tapi Jessica, percayalah padaku. Kumohon! Kau harus ikut denganku sekarang juga."


Nathan lalu meraih mantel hangat miliknya yang sebelumnya ia letakan di sandaran kursi. Ia menatap Jessica sebentar sebelum akhirnya dia meletakkan tasnya di bahu dan menarik tangan Jessica, membawa gadis itu berjalan keluar dari kafe itu.


Nathan dengan takut-takut melihat pada sekeliling jalan. Ia melepas tarikannya dari tangan Jessica karena ia tahu kalsu gadis itu pasti akan mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Jessica menatap ke sekeliling jalan di dekat kafe. Ia memicingkan kedua matanya, menatap dengan waspada. Bagi Nathan, ini adalah cara terbaik untuk mencari hal yang mencurigakan.


Nathan menghentikan langkahnya, menatap ragu pada daerah sekitarnya.


"Berpura-pura menatap layar ponselmu, agar kita tak terlihat mencurigakan." ujar Nathan pada Jessica yang berdiri di belakangnya. Namun baru saja Jessica menganggukkan kepalanya, saat itu juga Nathan melihat seseorang menatap lurus ke arah mereka. Ah bukan, tapi ke arahnya.


"Tunggu dulu," Nathan menahan lengan Jessica yang hendak mengambil ponselnya.


"Ada apa?" tanya Jessica.


Nathan menelan ludahnya kasar. Ia menoleh pada Jessica, menatap pada gadis itu sekilas kemudian menunduk ke arah sepatu yang di gunakan oleh gadis itu.


"Kau memakai sepatu flat. Itu bagus." ujar Nathan dengan canggung sambil sesekali menatap pada orang asing itu.

__ADS_1


"Kenapa bagus?" Jessica bertanya heran.


"Karena kita akan lari," kata Nathan padanya dan dengan cepat meraih tangan Jessica bahkan sebelum gadis itu sempat mengatakan apapun padanya.


__ADS_2