
Nathan tidak pernah suka ketika berada di rumah sakit. Lagipula, di dunia ini siapa yang sudah pertama kali menemukan rumah sakit? Ya, rumah sakit memang perlu bagi semua orang bahkan terakhir kali dia juga berada di rumah sakit untuk di rawat. Tapi tetap saja Nathan tidak menyukainya.
Bagi Nathan rumah sakit memiliki bau obat-obatan yang membuatnya begitu tak betah berada di sini. Memangnya ada orang yang akan betah berada di sini? Selain perawat dan dokter maksudnya...
Nathan kembali sadar dari lamunannya. Dia bisa melihat Robert yang saat ini tengah berjalan dengan cepat di depannya. Mereka tengah menuju ruang UGD. Menurut informasi Jessica sudah agak lama berada di sana, gadis itu masih diperiksa sebelum nanti akan dipindahkan ke kamar rawat.
Robert terlihat begitu panik dan sangat khawatir setelah dia menerima kabar dari Nathan bahwa anak gadisnya itu telah selamat. Robert segera kembali ke gedung organisasi untuk menjemut Nathan dan meminta pemuda itu segera naik ke mobilnya.
Robert bahkan sudah dengan sengaja melanggar hampir setiap peraturan lalu lintas yang ada selama dalam perjalanan ke tempat Jessica.
Nathan yang saat itu tengah bersamanya hanya bisa melakukan yang terbaik untuk bertahan dan berusaha untuk tidak terlihat ketakutan saat Robert mengemudi. ia bahkan pasrah jika akhirnya nantinya ia akan berakhir di tempat tidur di sebelah ranjang Jessica.
'Robert benar-benar gila saat menyetir.' runtuk Nathan dalam hati.
Nathan kini berdiri tegak di dekat tirai saat sebelumnya Robert menyibaknya dan langsung duduk di dekat Jessica yang saat ini tengah duduk di tempat tidur.
Nathan bisa melihat dengan jelas luka-luka di tubuh gadis itu. Di mulai dari wajahnya yang memiliki banyak sekali memar hingga pakaian compang-camping yang masih dia kenakan.
Jessica memiliki jahitan luka yang terlihat kasar di bagian pahanya dan Nathan hanya bisa menelan ludah saat melihatnya. Dia tidak dapat menyangkal bahwa luka-luka itu terlihat begitu mengerikan.
__ADS_1
Secara umum, dapat di katakan kalau saat ini Jessica terlihat sangat amat... mengerikan.
Jessica tidak mengatakan apa-apa saat ayahnya melingkarkan lengannya di sekeliling tubuhnya. Robert dengan gerakan lembut memeluk Jessica dan mendekapnya ke dalam tubuhnya sendiri.
Nathan bisa melihat tubuh Jessica yang gemetar saat dia mulai terisak dan Robert hanya diam. Ia tidak mengatakan apa-apa, tetap diam terpaku pada anak tunggalnya itu.
Nathan memilih untuk menjaga jarak. Ia bisa merasakan kalau itu akan menjadi waktu yang terbaik untuk mereka pada saat itu. Nathan diam, mengambil waktu beberapa saat sebelum kemudian dia berbalik, memutuskan untuk pergi dan memberi mereka berdua privasi yang mereka butuhkan.
Nathan dengan perlahan bergerak menyusuri koridor lagi. Ia memutuskan untuk pergi ke kantin rumah sakit dan meminum teh atau kopi untuk dirinya sendiri.
Jessica belum ingin membuka matanya. Ia mrmilih untuk tetap menyandarkan kepalanya pada bahu sang ayah. Hati Jessica merasa sedih. Ia kini menyadari bahwa ayahnya adalah satu-satunya keluarga yang masih tersisa sekarang.
Tangis Jessica semakin menjadi-jadi saat mengingat teringat itu. Robert menunduk dan wajahnya mengkerut saat mendengar suara terisak yang datang dari anak gadisnya itu.
Robert menghela. Dia sadar kalau dia tidak pernah sampai harus menenangkan siapa pun sebelumnya. Dan selain itu Robert selalu merasa kalau Jessica sangat kuat. Robert belum pernah melihatnya menagis. Dan itu jelas membuatnya takut. Hal itu membuat Robert takut bahwa dia sama sekali tidak cocok untuk menjadi seorang ayah. Bahwa dia tidak memiliki rasa kasih sayang yang tepat untuk merawat anaknya itu.
Tapi dia segera menyingkirkan rasa ketakutan itu. Robert tau kalau dia mungkin tidak akan selalu ada untuk Jessica, tapi dia pasti akan berusaha keras untuk memastikan bahwa anak gadisnya ini selalu baik-baik saja sekarang.
"Stttt... Jessica, tenanglah..." Robert kembali mencoba untuk menenangkan Jessica.
__ADS_1
"Dia membunuhnya," Jessica menangis tersedu-sedu. "Dia membunuh ibu ... ayah ... ibuku... dia sudah membunuhnya...
"Ayah tahu," kata Robert memejamkan kedua matanya. Apa lagi yang bisa dia katakan pada gadis itu? Jessica pasti merasa terguncang sekarang karena kehilangan ibunya. "Ayah tahu dia sudah melakukannya, Jessie."
"Saat itu... saat itu dia mencoba untuk menyelamatkan diriku," Jessica tersedu-sedu. "Ibu mencoba untuk menghentikannya... dan... dan aku lari... Aku berlari saat dia mencoba membunuhnya. Seharusnya aku berhenti, ayah. Seharusnya aku menolongnya sehingga ibu tidak-"
"Kau tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri seperti ini," sela Robert, tahu betul bahwa rasa bersalah pasti merasuki gadis itu.
"Jessica, kau harus mendengarkan ayah." ujar Robert mendekap pipinya Jessica dengan kedua tangannya, sentuhannya begitu lembut sehingga dia tidak menyakiti memarnya. "Ibumu melakukan apa yang akan dilakukan orang tua mana pun. Dia mencoba menyelamatkanmu, Jessica. Dan ayah yakin, dia pasti tidak ingin kau duduk di sini dan merasa bersalah seperti ini."
Jessica mengadah untuk menatap ayahnya. Ia lalu kembali menunduk dan memeluk ayahnya. Robert mendorong rambut Jessica ke belakang telinganya dan mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.
"Tidak akan terjadi apa-apa padamu sekarang, Jessie," Robert berjanji padanya. "Ayah akan selalu di sini untukmu. Ayah tidak akan pernah membiarkan hal seperti ini terjadi lagi padamu."
Jessica ingin mengingatkan ayahnya bahwa dia telah membuat janji yang sama sebelumnya. Tapi dia memutuskan untuk menutup mulutnya saja saat ayahnya membantunya untuk berbaring di bantal.
Jessica menyeka matanya yang basah dengan punggung tangannya sebelum memikirkan sesuatu untuk dikatakan.
"Di mana John?" Jessica bertanya. "Aku... saat itu aku memukulnya...dan aku pikir aku telah membunuh..."
__ADS_1
"Tidak," Robert dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Kau tidak membunuh siapa pun, Jessica."
"Apa?"