
Nathan bisa mendengar beberapa kata umpatan dari seberang telepon, sebelum akhirnya ia mendengar suara pecahan kaca yang keras. Nathan mencoba untuk tak peduli dengan apa yang sedang Robert lakukan saat itu. Ia hanya terus mencoba untuk melacak lokasi Jessica dari ponsel miliknya lagi sebelum kemudian dia mendengar Robert kembali bicara padanya.
"Ini sebaiknya lelucon, Nathan," kata Robert dengan nada tajam. "… karena jika aku berhasil keluar dari masalah ini hidup-hidup, maka aku akan langsung membunuhmu, dengan kedua tanganku sendiri. Ah, mungkin dengan senjata yang kau berikan padaku tempo hari."
Nathan memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya.
"Ya, aku sempat pikir kalau kau mungkin akan mengatakan sesuatu seperti itu," bisik Nathan melalui telepon.
"Bagus kalau kau sadar."
"Tapi satu hal yang kau harus tahu, Mr. Robert. Aku sudah mencoba sebisaku untuk menghentikan mereka. Tapi tentu saja semua akan jadi lebih sulit ketika ada senjata yang diarahkan seseorang padamu. Kau tahu jelas itu. Lagipula aku tidak bisa berkelahi sepertimu. Jangankan untuk melawan, bergerak satu langkah saja aku pasti akan mati."
"Dan juga… sejak tadi, Dimitri terus mencoba untuk membuat Jessica melawanmu. Dimitri mencoba menghasut Jessica. Jessica tidak menerimanya, tentu saja. Dan dia juga mengatakan tentang bagaimana kau sudah mengkhianatinya waktu itu.
"Lalu kenapa dia membawa Jessica?" Robert kembali bertanya. "Jessica bahkan tidak tahu di mana aku berada saat ini."
"Masalah itu… Dimitri mengatakan bahwa dia tidak perlu mencarimu. Dia tahu dia bisa memancingmu keluar hanya dengan menggunakan Jessica. Dia adalah anakmu. Itu artinya dia sangat berarti untukmu. Kurang lebih seperti itu." Nathan menjawab dengan ragu.
"Sial!" umpat Robert kesal.
"Dan juga Robert…" Nathan diam untuk beberapa saat sebelum kembali melanjutkan. "Mengenai Jessica… kau tidak akan membiarkannya mati, kan?"
"Itu… maksudku adalah…Kau harus menang saat melawan Dimitri nanti. Entah bagaimana caranya, Robert. Karena dia sempat mengatakan ketika kalian bertemu nanti, dia sudah merencanakan sesuatu untukmu. Dan… kau harus siap!" Nathan bicara dengan nada khawatir.
"Dia akan membawa putriku di bawah todongan senjata, Nathan! Jika aku melawannya itu bisa saja membahayakan Jessica" Robert berseru kesal, kemudian ia menghela pelan. "Apa yang kau harapkan dari ku, Nathan? Bagaimana aku bisa menang dengan keadaan itu."
__ADS_1
"Aku yakin kau akan memikirkan sesuatu, Robert." gumam Nathan. Dia kembali diam sejenak, memeriksa jam di pergelangan tangannya sebelum dia menghela kasar. Ini sudah beberapa jam lamanya sejak kejadian penyerangan tadi. "Saat ini Jessica sedang membutuhkan dirimu, Mr. Robert."
Robert mendengus kesal. "Dan apakah menurutmu aku tidak mengetahui hal itu? Dia itu putriku, kalau kau lupa, Nathan! Aku tahu jelas kalau dia sedang membutuhkanku saat ini. Jadi, aku lebih khawatir padanya di bandingkan dengan orang lain." gerutu Robert dengan nada sarkasnya.
"Tapi apakah dia baik-baik saja. Maksudku, apakah Dimitri menyakitinya?"
Nathan meringis. Ia berpikir sebentar, mencoba mempertimbangkan untuk berbohong pada pria tua itu. Tetapi Nathan tahu bahwa cepat ataupun lambat, Robert pasti akan menemukan kebenarannya sekeras apapun Nathan mencoba untuk menutupinya. Dia punya kebiasaan melakukan itu. Menemukan kebenaran.
"Ya, saat itu Jessica mengatakan sesuatu yang tidak Dimitri sukai dan membuat Dimitri kesal." kata Nathan. "Dimitri bilang dia tidak memukul wanita… jadi… saat itu… dia… jadi dia menyuruh salah satu anak buahnya untuk menamparnya Jessica."
Nathan mencoba menjelaskan dengan sehalus mungkin agar tidak terdengar sebagai perbuatan yang terlalu kejam.
"Bajingan," gertak Robert kesal.
"Apakah kau mengawasinya?" tanya Robert pada Nathan.
"Ya, kurang lebih begitu. Em, menurut apa yang aku selidiki, saat ini mereka sedang dalam perjalanan ke Thailand."
"Ya, kau sudah mengatakannya tadi, tapi bagaimana kau mengetahuinya?"
"Itu… sebelumnya aku sempat memberi Jessica mantel yang berisi ponselku di dalamnya. Setelah mereka pergi, aku mencoba untuk melacak ponselku dan aku berhasil mengetahui posisi mereka."
"Bagus, aku tau kemana mereka pergi. Mereka pasti mencoba menemukanku. Ck, aku akan bertemu dengan mereka dengan cepat." balas Robert geram.
"Tapi Robert... menurut radarku, mereka bepergian dengan kecepatan yang luar biasa." Nathan berujar dengan khawatir. "Robert, kurasa mereka mungkin pergi menggunakan pesawat."
__ADS_1
"Astaga," keluh Robert kemudian terdengar helaan panjang dari seberang telepon. Robert diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali bicara.
"Nathan, bagaimana aku bisa membiarkan ini terjadi padanya? Bagaimana aku bisa meninggalkannya di sana. Bagaimana aku-"
"Robert!" potong Nathan cepat. "Saat itu kau meninggalkannya karena itu adalah pilihan teraman pada saat itu. Kau tahu kalau organisasi kita seharusnya menjadi tempat teraman di dunia. Saat itu kau berpikir kalau dia akan mengejarmu, bukan mengejar Jessica lebih dulu. Ini jelas bukan salahmu." Nathan mencoba memberi tahu Robert tentang pendapatnya. "Dan aku ingin mengatakan kalau mengasihani diri sendiri tidak akan menyelesaikan masalah kita saat ini, Robert."
Nathan bisa mendengar suara helaan kasar dari seberang telepon. Nathan ikut menghela kemudian dia memilih untuk bersandar ke mejanya. Ia merasa begitu kelelahan saat ini. Sebenarnya ia juga masih sedikit terguncang dan kurang bisa menguasai dirinya saat ini.
"Kau terus pantau dia," kata Robert. "Kau harus pastikan dia ... maksudku jika dia ... aku…"
"Aku akan melakukan yang terbaik untuknya, Robert" Nathan berjanji pada Robert dengan bersungguh-sungguh. "Ah dan juga… aku yakin kau tidak ingin ibunya tahu tentang ini, kan?"
Robert kembali menghela napas berat saat itu. Nathan benar. Ia bahkan sudah tidak memikirkan tentang ibu Jessica sama sekali.
"Aku akan mengabari ibunya... maksudku, hanya jika sesuatu terjadi," kata Robert. "Dan tentunya aku akan melakukan yang terbaik untuk memastikan hal itu tidak terjadi."
"Aku mengerti," angguk Nathan, ia bergerak menuju komputer dan melihat kembali ke layar.
Nathan sudah akan menutup sambungan telepon itu sebelum kemudian dia mendengar Robert mengatakan kalimat terakhirnya.
"Dan jika aku berhasil keluar dari masalah ini, maka aku akan datang dan menghabisimu terlebih dahulu Nathan. Salah satu alasan Jessica bisa bersamanya adalah… karena kau tidak bisa menjaganya dengan baik." ujar Robert dengan nada dingin. "Tentunya… dengan senjata yang kau berikan padaku di kantor tempo hari."
Sambungan telepon akhirnya terputus dan Nathan mengerang pelan setelah mendengar kalimat ancaman Robert itu, sebelum kemudian dia kembali bekerja.
***
__ADS_1